Pintu Sempit

Selasa Pekan Biasa 12

Kejadian 13, 2. 5-18; Matius 7,6. 12-14

Masukilah pintu yang sempit,” sabda Tuhan. Abraham dalam bacaan pertama, tahu memilih pintu yang sempit dan jalan yang jarang dipilih orang.

Berhadapan dengan masalah wilayah penggembalaan hewan, ia memilih mengalah dengan membiarkan Lot, keponakannya, memilih lebih dahulu lahan yang disukainya. Dan jelas, Lot memilih lahan yang menguntungkan di tepi sungai Yordan yang hijau dan menyisakan wilayah yang kurang subur bagi Abraham, paman sekaligus pengasuhnya itu.

Abraham bersikap mengalah untuk menghindari perselisihan dan perpecahan di antara sesama anggota keluarga. Walau akhirnya mereka berpisah, Abraham tetap menaruh perhatian kepada Lot, keponakan sekaligus anak asuhnya, karena ia mencintai Lot. Hal ini dapat dimengerti, sebab sampai saat itu, ia dan Sara belum dikarunia seorang anak.

Sejak saat itu, Lot menetap sebagai penduduk kota Sodom yang makmur sementara Abraham tetap sebagai pengembara berumahkan tenda.

Tidak diceritakan bagaimana perasaan Abraham. Tetapi mari kita bayangkan situasinya sebagai berikut: yang dijanjikan tanah tempat tinggal adalah Abraham tetapi kenapa kenyataannya justru Lot lah yang terlebih dulu mendapatkannya? Bukan kebetulan kalau setelah Lot pergi, Allah sendiri dikisahkan bersabda kepada Abraham untuk menjelajahi tanah Kanaan. Abraham diminta untuk menyusuri tanah Kanaan, bukan untuk mendiaminya.

 Dan inilah pilihan Abraham, yaitu berjalan di hadapan Tuhan. Ia tidak mengharapkan untuk bisa langsung memetik buah karena melaksanakan perintah Allah. Ia tidak menantikan imbalan sebagai ganti tindakan imannya. Baginya, yang terindah adalah bisa bercakap-cakap dengan Tuhan, mendengarkan janjiNya dan menyerahkan pada Allah sendiri perwujudan dari janji itu. Itu sebabnya, Abraham disebut leluhur bangsa beriman.

Jalan Abraham memang sempit, sulit dan karena itu jarang dilewati orang. Akan tetapi, inilah jalan bagi mereka yang mengaku diri beriman. Inilah jalan yang dilalui para sahabat Allah. Musa, misalnya, menuntun bangsa Israel tanpa dapat menikmati hasilnya. Bunda Maria juga, menyimpan di dalam hatinya setiap kali misteri keselamatan Allah menjadi begitu sulit dipahami secara manusiawi.

Kisah Abraham adalah kisah pemurnian iman. Beberapa buah hasil pemurnian ini adalah kesederhanaan dan kerendahan hati. Mari kita mohon kedua rahmat ini yang mutlak perlu agar kita sanggup mendengarkan dan menghidupi firmanNya.

Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria melindungi

Iklan

2 pemikiran pada “Pintu Sempit

  1. Tapi Mo… sangat sulit untuk mengetahui apakah jalan yang kita tempuh itu adalah jalan dari Tuhan atau bukan…
    karena kadang kita rasakan itu jalan dari Tuhan… tapi ternyata bukan…

    gimana cara memastikan itu jalan Tuhan atau bukan Mo..?

    Tks.. Mo..
    renungannya hari ini… makin meneguhkan…

    ditunggu terus renungannya yach.. Mo…
    🙂

    Tuhan Yesus Memberkati
    Bunda Maria Melindungi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s