Pohon dan Buah

Rabu Pekan Biasa ke 12

Kej 15:1-12,17-18, Mzm 105:1-2,3-4,6-7,8-9, Mat 7:15-20

Dari buahnya kalian mengenal mereka,” sabda Tuhan.

Di jaman Matius, para nabi datang ke tengah jemaat untuk mewartakan nama Tuhan dan ajaranNya. Melalui mereka, ajaran Tuhan diperkenalkan dan diteruskan. Sebagai pewarta keliling, para nabi mengandalkan belas kasih jemaat yang menerima pewartaan mereka. Tempat berteduh, makanan dan pakaian disediakan secara cuma-cuma oleh jemaat yang sudah diteguhkan imannya.

Melihat kenyataan itu, beberapa kalangan tergoda untuk berpura-pura menjadi nabi agar bisa menikmati kemudahan hidup. Hal ini dapat dilakukan karena pada masa itu belum ada struktur pengawasan yang ketat semacam keuskupan, paroki atau seminari. Lalu bagaimana membedakan antara nabi palsu dan nabi sejati?

Perumpaman Tuhan Yesus tentang domba-srigala serta pohon-buah memberi jawabnya. Para nabi adalah mereka yang pertama-tama dipilih Allah untuk hidup dekat denganNya. Namun demikian, mereka tidak saja pasif menerima pilihan itu tetapi juga aktif dengan memilih gaya hidup yang mendukung tugas perutusan dari Allah. Pilihan Allah menjadi nyata dalam gaya hidup dan pilihan-pilihan yang diambil para nabi.

Tidak mungkin orang menemukan buah semangka dari tangkai sirih atau buah anggur dari semak berduri. Demikian juga jemaat belajar untuk mencium kepalsuan dari nabi yang berminggu-minggu menumpang makan dan tidur di rumah orang. Tidak mungkin seorang nabi sejati bergaya dan memilih hidup yang menomorsatukan kenikmatan dan kepentingan diri sendiri di atas tugas perutusan dan kepentingan jemaat yang dilayaninya.

Perlakuan istimewa umat untuk pelayan Tuhan masih ada di Gereja kita. Hal ini dapat dimengerti dan bisa diterima mengingat umat yang dilayani juga butuh mengungkapkan rasa terima kasihnya karena merasa sudah disegarkan imannya. Yang perlu diperhatikan adalah sikap berjaga-jaga untuk tidak larut dalam kenyamanan, baik itu nyaman dalam memberi penghargaan kepada pelayan Tuhan maupun nyaman dalam menerimanya.

Kesadaran bahwa kita masih harus terus menerus dimurnikan agar pilihan kita sesuai dengan panggilan hidup kita masing-masing dapat membantu kita untuk berjaga-jaga. Iman terungkap nyata dalam pilihan-pilihan yang kita ambil, seperti pohon anggur menjadi nyata dari buahnya. Dan kita tahu, kerapkali tidak mudah mewujudkannya. Itu sebabnya, kita berdoa:…jadilah kehendakMu di atas bumi seperti di dalam surga…

Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria melindungi

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s