Iman di luar pagar

Sabtu dalam Pekan Biasa 12

Kej 18:1-15, Mat 8:5-17

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorangpun di antara orang Israel,” sabda Tuhan.

Ada kecenderungan berpikir bahwa yang bukan putih itu hitam semuanya. Memang, hitam bukan putih, tetapi bagaimana dengan merah, hijau, kuning, abu-abu? Bukankah warna “non-putih” itu bukan sekedar hitam?

Demikian juga dalam perkara kebenaran agama dan keselamatan kekal. Apakah karena meyakini agamanya sebagai yang paling benar lantas yang lainnya itu sesat belaka dan tidak pantas menjadi jalan untuk sampai ke surga?

Dalam bacaan Injil hari ini, Tuhan Yesus memuji iman seorang prajurit Romawi. Mungkin ia tertarik untuk masuk agama Yahudi atau malah sudah menjadi penganut agama Yahudi walau sebatas golongan “takut akan Tuhan” (yaitu golongan yang bukan berdarah Yahudi tetapi ingin menjadi penganut agama Yahudi. Untuk bisa sepenuhya menjadi penganut agama Yahudi, mereka harus mau disunat).

Yang pasti, kasih untuk budaknya yang terbaring lumpuh karena sakit, mendorongnya untuk berjumpa dengan Yesus secara pribadi. Imannya pada Tuhan Yesus sangat nyata karena penghayatannya tidak dipisahkan dari kehidupan hariannya sebagai prajurit militer.

Tuhan Yesus memuji iman prjurit Romawi ini sebagai sesuatu yang melampaui iman kebanyakan orang Yahudi sendiri yang mengaku sebagai bangsa pilihan Allah. Dengan kisah ini, penginjil Matius ingin mengingatkan jemaatnya yang mayoritas adalah keturunan Yahudi, untuk tidak jatuh dalam kesombongan dan kebutaan rohani yang menutup mata hati mereka untuk melihat kenyataan bahwa Roh Tuhan juga bekerja dalam hati banyak orang yang bukan Yahudi, yang tidak seagama dan seiman.

Jika iman sejati dapat tumbuh di luar batas-batas agama kita, berarti keselamatan juga ditawarkan di sana. Lantas apa artinya iman dan agama kita kalau toh di luar agama kita orang juga bisa selamat? Bukan karena benar maka bangsa Israel dipilih Allah tetapi karena dipilih Allah maka bangsa Israel dibenarkan. Demikian juga kita, dipilih Allah bukan karena kita hebat tetapi kita tangguh karena Allah memilih kita.

Martabat bangsa pilihan dan anak-anak Allah yang kita terima berkat iman dalam agama kita bukanlah suatu alasan untuk menjadi sombong tetapi suatu panggilan untuk bersaksi bahwa Allah tidak pernah berhenti memperhatikan umat manusia. Kita dipilih dan dipanggil untuk menjadi saksi kasih itu karena kita sudah lebih dulu mengalaminya.

Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria melindungi

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s