Makna Ikut Tuhan

Hari Senin dalam Pekan Biasa ke 13

Kej 18:16-33, Mzm 103:1-2,3-4,8-9,10-11, Mat 8:18-22

Seorang anak menulis surat kepada bapaknya, seorang raja minyak yang tinggal  di Dubai, sebagai berikut:

Bapak yang terkasih, Paris sungguh kota yang indah dan orang-orang di mana saya tinggal sebagian besar bersikap ramah. Hanya satu yang mengganggu. Putramu ini merasa tidak enak kalau pergi ke sekolah naik mobil Ferari 599 GTB berlapis emas yang Bapak beri karena teman-teman dan para guru naik kereta untuk pergi ke sana.

Nasser, putra yang tiada henti merindukan Bapak

Selang satu hari kemudian, datang balasan dari sang Bapak yang bunyinya demikian:

Nasser, anakku semata wayang, hari ini Bapak sudah memasukkan ke dalam rekeningmu uang sejumah 20 juta euro. Segeralah beli kereta juga supaya engkau bisa ke sekolah seperti teman-teman dan para gurumu dan jangan merasa tidak enak lagi.

Dari Bapakmu yang tiada pernah berhenti memikirkanmu.

Dalam kisah di atas, sang Bapak tidak menangkap inti dari surat anaknya. Sementara anaknya merasa terlalu dimanja dan hidup sangat berbeda dengan sebagian besar temannya, sang Bapak justru berpikir hidup anaknya susah karena kurang sarana. Sang Bapak tidak menangkap makna kehidupan anak muda yang butuh penerimaan dari teman sebaya.

Dalam Injil hari ini, Yesus menantang dua orang yang ingin mengikutinya: yang satu seorang Ahli Taurat yang lainnya seorang biasa. Keduanya ingin mengikuti Yesus setelah Ia mengalahkan kekuatan jahat dengan menyembuhkan banyak orang sakit dan mengusir banyak setan. Apakah mereka sungguh mengerti apa artinya mengikuti Tuhan? Apakah semata-mata kehebatan dan ketenaran Yesus yang mendorong mereka untuk mengikuti Dia?

Mengikuti Yesus berarti mau hidup susah, tidak manja, tidak tergantung dari sarana dan kenyamanan. Penulis Injil merujuk pada peristiwa salib sebagai makna paling dalam dari mengikuti Tuhan: rujukan pertama terdapat pada ayat 17, yang menutup kisah penyembuhan supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: “Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.” Di atas kayu salib, Tuhan memikul kelemahan dan dosa kita.

Rujukan lainnya terdapat pada kata …tempat untuk meletakkan kepala (Yunaninya Klino). Kata ini dipakai oleh penginjil Yohanes untuk menggambarkan bagaimana Tuhan wafat di atas kayu salib …lalu Ia menundukkan kepalaNya (klino) dan menyerahkan nyawaNya (Yoh. 19:30). Di atas kayu salib, Tuhan Yesus tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya.

Mengikuti Tuhan adalah inti dan panggilan setiap orang yang mengaku muridNya. Injil hari ini mengundang kita untuk merenung: beranikah aku mengambil jarak dari kenyamanan yang kurasakan demi semakin dewasanya panggilan hidupku sebagai murid Tuhan? Seberapa sering aku mengeluh ketika kesulitan dan kegagalan datang? Atau seberapa sering aku bangkit lagi sambil menyadari bahwa kesulitan dan kegagalan itu dapat menjadi alat di tangan Tuhan untuk membuatku semakin dekat denganNya?

Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria melindungi

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s