Akar Kita yang Sejati

Selasa Pekan Biasa ke 13

Kej 19:15-29, Mzm 26:2-3,9-10,11-12, Mat 8:23-27

 

“Bagaimana kalau aku gagal menjalankan tugasku dalam pertandingan nanti?” tanya Harry Potter yang dipilih sebagai seorang seeker dalam kesebelasannya. “Engkau tak mungkin gagal,” jawab Hermione, “sebab hal itu ada di dalam darahmu.” Hermione dapat berkata demikian, sebab sebelumnya ia melihat sebuah piala emas dengan nama ayah Harry Potter terukir abadi di sana.

Ada ungkapan Like father, like son yang dalam bahasa Indonesia kurang lebih sepadan dengan ungkapan buah jatuh tidak jauh dari pohonnya (kecuali kalau dipetik untuk dijual di pasar atau di supermarket). Ungkapan seperti inilah yang menjadi latar belakang mengapa Hermione begitu yakin kalau Harry Potter akan mampu memainkan perannya dengan baik dalam kesebelasan mereka.

Singkatnya, ungkapan itu mau mengatakan bahwa setiap pribadi membawa rekam jejak orang tua dan keluarganya. Sejarah keluarga seolah menjadi akar untuk kepribadian setiap manusia.

Dalam Injil hari ini, Tuhan Yesus menunjukkan di mana akar hidupNya tertanam dalam-dalam. Dikisahkan bagaimana para murid ketakutan ketika badai menerjang biduk mereka dan pada saat itu sang Guru justru tidur belaka.  Tidurnya Tuhan Yesus tentu bukan ungkapan ketidakpedulian atau kekurangwaspadaan. Ada makna yang lebih dalam dari ungkapan tidur di dalam kisah ini.

Air danau yang mengancam dan tidur masing-masing melambangkan kuasa kegelapan dan kematian. Air sebagai lambang kuasa kegelapan dapat ditemukan misalnya di dalam kisah penciptaan (Kej. 1:2). Kekuatan itu sudah dikalahkan oleh Allah ketika air dipisahkan dari daratan. Tidur sebagai lambang kematian akan ditemukan dalam bab berikutnya (Mat. 9:24), yaitu dalam kisah kebangkitan seorang putri kepala rumah ibadat di Kapernaum.

Dengan demikian, tenangnya air danau dan bangunNya Tuhan menunjukkan kuasa Tuhan Yesus atas  kegelapan dan maut. Di tangan Tuhan, kekuatan-kekuatan itu tidak ada artinya apa-apa karena Ia mengakarkan hidupNya pada kuasa BapaNya. Rekam jejak Allah Bapa terpatri jelas dalam pribadi Tuhan Yesus. Dialah gambaran sempurna dari Allah Bapa yang tidak dapat dilihat mata manusia.

Berkat kuasa Roh Kudus, buah misteri Paskah Tuhan, yang disalurkan melalui sakramen Baptis dan khususnya Ekaristi, kita mewarisi rekam jejak yang sama. Kuasa Allah Bapa sungguh hadir di dalam diri kita. Kuasa itu sungguh nyata sampai Tuhan Yesus sendiri bersabad: hendaklah kalian sempurna seperti Allah Bapamu di surga adalah sempurna. Apakah Tuhan akan memerintahkan sesuatu yang mustahil untuk dilaksanakan?

Kita ditakdirkan untuk menjadi serupa dengan Tuhan dan bersekutu denganNya. Masalahnya, seberapa sering hal ini kita sadari dan kita renungkan setiap hari? Salah satu kekuatan utama Beata Teresa dari Kalkuta adalah meresapkan kasih Tuhan yang diterima dalam perayaan Ekaristi: inilah TubuhKu, inilah DarahKU. “Resapkanlah dan ulangilah senantiasa sabda Tuhan ini dalam hatimu,” ajarnya.

Sudahkah kita menyadari dan mensyukuri sungguh-sungguh warisan agung yang kita terima dalam sakramen Baptis dan Ekaristi ini?

Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria melindungi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s