St Irenius (125-200)

Awan hitam pengejaran, penyiksaan dan pembunuhan orang-orang Kristen menyelubungi hidup dan karya St Irenius. Sebagai imam, Irenius muda sudah melihat dan mengalami sendiri tangan besi kaisar Markus Aurelius yang dihujamkan ke atas diri para murid Tuhan. Sebagai uskup Lyon di wilayah orang Gaul (daerah Perancis sekarang), Irenius menanggung resiko mengalami kemartiran seperti yang baru saja dialami pendahulunya.

Namun demikian, Tuhan memilih St Irenius untuk berjuang bukan pertama-tama melawan musuh-musuh yang kelihatan tetapi melawan keyakinan-keyakinan dan penafsiran-penafsiran yang salah atas iman para rasul.

Golongan Gnosis lah yang menjadi lawan utamanya di medan laga. Sekumpulan orang Kristen ini mengaku bahwa keselamatan datang bukan dari penebusan Putra Allah tetapi dari kesadaran dan pengetahuan (Yunani ginosko) jati diri yang sejati. Karena akal yang bersifat spiritual diutamakan, tubuh dan kehidupan jasmani direndahkan sampai-sampai hidup perkawinan juga disangkal.

Untuk mendukung ajarannya, mereka menafsirkan Kitab Suci sesukanya dan mengklaim memiliki pengetahuan iman rahasia dari para rasul yang tidak diketahui Gereja. Banyak murid Tuhan terseret ke sana. Lantas apa yang bisa dibuat? Gereja belum lagi mempunyai struktur hirarkis yang jelas untuk dapat menyatakan mana penafsiran yang benar dan mana yang menyimpang. Perjanjian Baru pun belum lagi diangkat ke status Kitab Suci walau beberapa di antaranya sudah dibacakan dalam pertemuan hari Minggu.

Sebagai gembala, St Irenius terpanggil untuk membendung pengaruh gerakan Gnosis ini. Ia tidak melawan penafisran Kitab Suci dengan penafsiran lainnya, karena kalau itu dilakukan maka perdebatan tidak akan ada habisnya, tetapi hal itu dilawankannya dengan ajaran para rasul yang disebutnya sebagai ‘tradisi yang hidup’. Tuhan Yesus menurunkan ‘tradisi’ ini kepada para rasul dan para rasul mewariskannya kepada Gereja. Inilah ‘ukuran kebenaran’ (canon) yang harus digunakan untuk membedakan penafsiran Kitab Suci yang benar dari penafsiran yang semena-mena. Pergulatannya melawan gerakan Gnosis ini masih dapat kita baca dalam bukunya Adversus Haereses.

Dengan demikian, St Irenius meletakkan sendi-sendi penafsiran iman yang benar. Tempat Kitab Suci sebagai saluran perwahyuan memang harus dijunjung tinggi. Untuk menafsirkannya secara benar, dibutuhkan saluran lainnya yaitu ‘tradisi yang hidup’ yaitu kenangan para rasul atas apa yang mereka terima dari Tuhan. Berkat St Irenius, dan juga Tertulianus yang hidup di jaman yang sama,  Gereja secara sadar menjaga dua saluran perwahyuan, yaitu Kitab Suci dan Tradisi, dari satu sumber perwahyuan yang sama, yaitu Tuhan Yesus sendiri.

Sudahkah kita mengikuti jejak St Irenius, yang akrab dengan firman Tuhan dan tradisi Gereja?

Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria melindungi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s