Kotak

Tahun A HARI RAYA St. PETRUS & St. PAULUS, RASUL
Kis 12:1-11, Mzm 34:2-3,4-5,6-7,8-9, 2Tim 4:6-8,17-18, Mat 16:13-19

Menurut kamu, siapakah Putera Manusia itu?” tanya Tuhan.

Orang suka mengkotak-kotakkan. Membuat pengkotakan berarti memisahkan yang satu dengan yang lainnya dan memisahkan tidak sama dengan membedakan. Membedakan waktu doa dan waktu kerja tidak sama dengan memisahkan keduanya.

Karya Tuhan melampaui pengkotakan yang dibuat manusia. Bangsa Israel dapat menyatakan Yerusalem sebagai Kota Suci, tetapi Allah tidak mengurung diri di Bait Suci ketika keturunan Abraham dibuang ke Babilon, tempat tinggal para penyembah berhala. Allah tetap menyertai mereka dan tinggal juga di sana.

Bangsa Israel dapat mengklaim diri sebagai orang-orang pilihan Allah, tetapi lihat apa yang dibuat penduduk Niniwe ketika nabi Yunus datang menyerukan pertobatan. Mereka tidak kalah berimannya dari bangsa pilihan karena mereka langsung bertobat setulus hati begitu menerima seruan dari nabi Tuhan.

Dan dalam Injil hari ini, Tuhan kembali melewati batas-batas yang dibuat manusia. Jati diri Tuhan dinyatakan bukan di Yerusalem atau Kapernaum, tetapi di Kaisaria Filipi, tanah orang asing, tempat para penyembah dewa Pan. Lebih dari itu, perwahyuan itu tidak disampaikan secara langsung oleh Allah sendiri tetapi dipercayakan lewat mulut seorang manusia biasa, Petrus.

Semula Petrus, juga Paulus, pun membuat pengkotakan. Ia merasa sebagai murid Tuhan yang paling setia yang akan mengikuti Tuhan sampai ke dalam penjara, dan dengan demikian ia memisahkan dirinya dari bilangan para murid yang lainnya. Bahkan Petrus berani mengatur dan menegur Tuhan ketika Yesus mewartakan sengsaraNya. Akan tetapi, Tuhan merobohkan pengkotakan yang dibuat Petrus dan menjadikannya murid yang rendah hati.

Menjadi murid Tuhan berarti belajar menjadi terbuka, belajar mereka-reka kotak-kotak mana yang sudah dibuat dan yang memisahkannya dari sesama, dari alam, dan dari Tuhan: kotak agama, kotak dendam, kota benci, kota prasangka, kotak kesombongan, kotak status sosial? Menjadi rendah hati berarti menjadi terbuka, seperti samudera yang terbuka dan menerima semua aliran sungai di sekitarnya.

Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria melindungi

4 pemikiran pada “Kotak

  1. Rm tny dong….
    bgmn dgn kalau kita memilih pasangan hidup, kita pasti akan memilih orang dengan yg agamanya sama dgn kita…. lalu apakah itu termasuk mengkotak-kotakan? n apakah termasuk jg kotak agama pd tulisan Rm… ?

    trimakasih sebelumnya Rm Uut….

    1. Halo Priska
      Terima kasih ya untuk perhatiannya. Senang rasanya renungan yang saya buat bisa dihubungkan oleh Priska dengan kehidupan nyata, khususnya menyangkut pasangan hidup. Hal ini juga menjadi bahan pemikiran saya. Untuk saat ini, saya bisa memberi jawaban sebagai berikut: yang saya maksud kotak adalah pemisahan. Mengkotak-kotakkan berarti memisahkan dan tidak memiliki hubungan sama sekali. Memisahkan tidak sama dengan membedakan. Membedakan jelas penting dalam kehidupan tetapi bukan berarti memisahkan.

      Yang saya maksudkan dengan kotak agama adalah memisahkan agama saya dari agama lainnya dengan menghakimi agama lainnya sebagai palsu dan buatan manusia belaka. Secara historis, pengkotakan agama seperti ini jelas tidak benar karena agama yang satu sedikit banyak mewarisi dan menerima sumbangan dari agama lainnya. Contoh: agama Israel mengambil tradisi sabat dari masyarakat Babilonia dan menghayatinya sesuai dengan iman mereka; mazmur dalam Kitab Suci juga banyak diambil dari kidung pujian orang Mesir untuk dewa matahari.

      Sekarang dihubungkan dengan pertanyaan Priska. Memilih pasangan hidup yang seagama tidak termasuk membuat kotak-kotak yang memisahkan karena kita memilih pasangan hidup berangkat dari keinginan untuk membangun keluarga yang sejahtera. Pilihan pasangan hidup yang seagama adalah pilihan ‘pastoral’ dalam arti mana jalan yang terbaik untuk keluarga yang hendak kubangun. Pilihan ini bukan pilihan ‘dogmatis’ yaitu pilihan yang berdasarkan ajaran bahwa agama lainnya kurang atau tidak benar. Jadi, dengan memilih pasangan hidup seagama, kita tidak ingin memisahkan tetapi membedakan agama kita dengan agama lainnya. Secara pastoral sangat disarankan untuk memilih pasangan hidup yang segama dan seiman.

      Semoga membantu

  2. Trimaksh mo, atas jwbnya, kalo boleh sy simpulkan dr yg sy tangkap/pahami dr penjelasan Rm….
    berarti kita tdk boleh fanatik terhadap agama kita, n menganggap agama kita paling baik, lalu kita jg tdk boleh merendahkan agama lain, serta tdk boleh menjatuhkan org lwt agamanya….

    betul begitu mo….? bnr ato tdk dr apa yg sy pahami…. kalau salah tolong dbetulkan mo…. maklum bukan ahli agama🙂
    trimaksh

  3. Kurang lebih begitu Priska. Satu-satunya alasan untuk dapat berbangga adalah Salib Tuhan, lambang kemenangan kuasa cinta Allah. Mengapa kita tidak boleh merendahkan dan menjatuhkan orang lewat agamanya? Karena Roh Kudus sendiri berhembus lewat agama tiap orang, seperti yang diajarkan Paus Yohanes Paulus II.

    Tuhan memberkati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s