St Petrus dan St Paulus

Sementara Petrus mewartakan Injil kepada orang-orang Yahudi, aku mewartakan Injil kepada orang-orang bukan Yahudi,” demikian tulis Paulus kepada jemaat di Galatia (Gal. 2, 8). Di hadapan Simon si Batu Karang, Paulus tidak merasa lebih rendah atau kurang berarti. Baginya, bukan manusia tetapi Tuhanlah yang menentukan siapa yang menjadi rasul bagi orang Yahudi dan siapa menjadi rasul untuk mereka yang belum mengenal Tuhan.

Keyakinan ini juga yang membuat Paulus berani menegur Petrus saat mereka berdua berada di Antiokia. Pada waktu itu, mereka berdua bersama murid-murid Tuhan lainnya yang bukan orang Yahudi sedang makan bersama. Ketika datang utusan dari Yerusalem, Petrus mulai berubah sikap. Ia menjauhi meja makan dengan untuk menghindari pertentangan dengan orang-orang Kristen Yahudi yang datang dari Kota Suci (Gal. 8, 11-14). Sikap bijaksana Petrus menimbulkan sakit hati jemaat Paulus dan serta merta Paulus pun mencela sikap Petrus.

Di sisi lain, Petrus juga menunjukkan kebesaran hati yang tidak kalah mengagumkan. Posisinya sebagai yang paling dituakan di antara 12 rasul tidak membuatnya besar kepala. Ia tidak merasa terancam oleh kesuksesan Paulus yang berhasil membawa banyak orang non-Yahudi menjadi murid Tuhan.

Di dalam konsili Yerusalem, Gereja perdana nyaris terpecah ketika usulan Paulus dan Barnabas supaya orang-orang Kristen non-Yahudi dibebaskan dari peraturan sunat mendapat perlawanan dari komunitas Yerusalem di bawah pimpinan Yakobus. Di tengah kebuntuan itu, Petrus berdiri dan berkata kepada, “…Kalau demikian, mengapa kamu mau mencobai Allah dengan meletakkan pada tengkuk murid-murid itu suatu kuk, yang tidak dapat dipikul, baik oleh nenek moyang kita maupun oleh kita sendiri? Sebaliknya, kita percaya, bahwa oleh kasih karunia Tuhan Yesus Kristus kita akan beroleh keselamatan sama seperti mereka juga” (Kis. 15;10). Pernyataan Petrus ini memecahkan kebuntuan konsili dan membenarkan pewartaan Injil yang dibuat Paulus dan Barnabas.

Keduanya adalah rasul besar. Keduanya menampilkan keterbukaan dan kebebasan hati dari belenggu iri, dendam dan cari kepentingan diri. Keduanya tidak menyangkal perbedaan yang ada di antara mereka berdua tetapi menerima perbedaan itu sebagai cara Tuhan untuk memperkaya Gereja yang dipercayakan kepada mereka.

Mereka berdua dapat berjalan berdampingan di tengah perbedaan yang ada karena keduanya adalah murid-murid dari Guru dan Tuhan yang sama. Keduanya telah belajar untuk hidup secara bebas demi Kabar Gembira dari Sang Kabar Gembira itu sendiri.

Dan pada akhirnya, keduanya menerima mahkota kemartiran di dalam iman yang sama, di kota yang sama, Roma, walau dengan cara yang berbeda: di Stadion /Sirkus Nero (sekarang menjadi Lapangan St Petrus persis di depan Basilika St Petrus, Roma), Petrus disalib dengan kepala menghadap ke bawah; sementara Paulus dipenggal di tempat yang sekarang dikenal sebagai biara Tre Fontane.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s