Clergyman

8 Juli 2011,

Dua hari yang lalu, dalam perjalanan menuju susteran, kuterima sebuah email yang memuat pendapat seorang imam di Amerika tentang pakaian imam (clergyman). Gagasannya tidak saja menarik dan penting tetapi juga dibangun di atas dasar ajaran dan tradisi Gereja yang kokoh terutama dengan mengkaitkannya pada sosok ‘raksasa’ Bapa Suci terdahulu, Yohanes Paulus II.

Usai membaca seluruh pendapatnya, kududuk di dalam metro dan kuhadirkan dalam ruang ingatanku beberapa figur imam yang kukenal. Ada romo Mangun yang jarang tampil dengan clergyman tetapi mencoba untuk menampilkan bentuk nyata inkulturasi dengan jubah putih membalut badan dan caping model petani hinggap di kepala.

Kuingat romo Sandyawan yang sering tampil dengan jubah hitam dan sepotong colar putih menutupi leher. Dengan penampilan ini, beliau ingin menunjukkan dari mana datangnya inspirasi dan kekuatan yang didapatnya untuk menentang ketidakadilan yang begitu mencekik pada waktu tertentu.

Kutampilkan juga romo Magnis Suseno, yang sering kulihat berbatik-ria tetapi jarang atau hampir tidak pernah mengenakan clergyman. Tanpa mengenakan jubah pun orang sudah tahu siapa ‘romo’ Magnis ini, apa status serta panggilannya dan tidak ada yang meragukan ketulusan beliau untuk membawa pencerahan budi anak bangsa ini.

Ketiga romo yang kuingat tadi jarang berclergyman tetapi bukannya tidak menganggap penting segi luar yang kelihatan. Lewat pakainnya, mereka ingin menyampaikan pesan kepada khalayak : jubah putih dan caping petani melambangkan inkulturasi iman dan kedekatan imam pada rakyat, jubah hitam dan colar putih lambang keberpihakan Gereja pada kaum tertindas dan batik lambang kebanggaan menjadi orang Indonesia, seolah ingin mematri ungkapan Bapak Uskup Sugyipranoto : 100 persen Indonesia, 100 persen Katolik.

Segi luar, termasuk penampilan, dapat memberi pengaruh pada segi dalam sebab manusia adalah kesatuan rohani-jasmani.

Sambil merenungkan hal ini, dari sela-sela kerumunan orang yang berdesakan di dalam metro pagi itu, kulihat seorang perempuan mengenakan jilbab hitam. Tidak berapa lama, masuk seorang pria, yang sambil berdiri,terus menggumamkan doa di bibirnya dan melewatkan butiran tasbih di jemarinya.

Pada saat itu, ada keinginan untuk menyematkan di kemejaku sepotong salib putih, seperti yang biasa kulakukan dulu. Mungkin besok atau lusa, kan kulakukan itu.

7 pemikiran pada “Clergyman

  1. Dengan pakaian atau lambang/simbol identitas yang dikenakan bisa membuat seseorang lebih mengontrol dan mengendalikan dirinya dalam melakukan suatu perbuatan atau bersikap….karena menyesuaikan diri dengan pakaian yg dikenakannya.
    Dengan melihat pakaian atau simbol yang dikenakan seseorangpun kita bisa memberi penilaian pada prilaku seseorang. Karena itu jika kita sudah berniat untuk mengenakan pakaian atau simbol yang mencirikan suatu identitas, maka kita harus berkomitmen dengan sikap dan prilaku kita sendiri, agar tidak memberi kesan negatif…..

    Apakah bisa begitu romo ?

    Terima kasih romo…..TYM…BMM….

    1. Yes, begitu Marita. Maka kalau kita mengenakan kostum ini, kita juga akan dibiasakan untuk mengambil sikap yang pantas. Lama-lama, berkat bantuan kostum, kita terbiasa bersikap benar. Oleh karena itu, pakaian jasmani (kostum) bisa membentuk ‘pakain rohani’ (kebiasaan berbuat baik atau keutamaan). Kebiasaan itu dalam bahasa latinnya ‘habitus’ yang punya akar yang sama dengan pakain (misalnya, dalam bahasa Perancis, berpakaian adalah habiller).

      Trima kasih

  2. Halo Romo Uut…

    saya lebih suka melihat seorang Romo memakai clergyman, ada kesan lebih berwibawa, lebih di hormati dan terkesan lebih mewakili Kristus🙂 dan orang awampun bisa menghormati dengan memanggil romo, pastor atau bapak romo hehehe
    jika seorang romo sedang tidak bertugas dan memakai pakaian biasa terlihat seperti orang awam biasa, bisa di panggil mas, pak, dek…atau cung hahahaha apalagi kalau pakai baju BOXER wah…sudah cocok banget sebagai petarung hahaha

    Beda dengan ke 3 romo yang disebutkan di atas, mereka adalah romo yg sudah go public muncul di media-media elektronik & cetak sehingga tanpa memakai clergyman masyarakat pada umumnya sudah tahu.

    dah..ah….btw…saya dengar2 selentingan romo sandyawan ‘resign’ ??😦

    1. Trims Sam buat tanggapannya. Pakaian memang bisa memberi pengaruh untuk sang imam maupun orang di sekitarnya. Kalau seorang imam sudah terlanjur go public, berarti memang clergymannya sudah jadi satu dengan hidupnya hingga tidak diperlukan lagi. Tentang selentingan-selentingan atas hidup para imam, saya cenderung membawanya dalam doa agar jalan terbaiklah yang ditunjukkan Tuhan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s