Seri_3B Kitab Suci: Kanon PB

1. Sikap internal Gereja terhadap tulisan-tulisan Kristen dan  munculnya sebutan Perjanjian Baru

Dalam bagian sebelumnya (lihat 3a_Kitab Suci: Perjanjian Lama) sudah dijelaskan bagaimana Kitab Suci Perjanjian Lama adalah satu-satunya Kitab Suci yang dimiliki dan digunakan oleh para murid Tuhan Yesus.

Namun demikian, di antara para murid Tuhan sendiri, sudah beredar beberapa tulisan yang berakar khususnya pada ajaran Tuhan dan hidup Gereja perdana. Pelan namun pasti, muncul kecenderungan bersama untuk menerima tulisan-tulisan ini sebagai sederajat dengan Kitab Suci Perjanjian Lama. Dengan kata lain, sudah ada keterbukaan untuk memiliki tulisan-tulisan suci lainnya di luar Perjanjian Lama. Benih keterbukaan semacam ini nampak misalnya:

  • Penulis 2 Petrus sudah menempatkan tulisan-tulisan rasul Paulus sejajar dengan ‘kitab-kitab suci lainnya’ (Perjanjian Lama)
  • Di mata St Ignatius dari Antiokhia, ‘Kabar Gembira’ (Injil) memiliki otoritas yang sama dengan ‘para nabi’.
  • Penulis 2 Clement mengawali kutipan yang diambil dari Injil Pertama dengan rumusan: Kitab suci yang lain mengatakan bahwa…
  • Barnabas dan Yustinus mendahului kutipan dari tulisan-tulisan Kristen dengan rumusan: ada tertulis…

Irenius (uskup Lion) adalah pemikir Kristen pertama yang menamakan beberapa tulisan yang berakar pada kehidupan Tuhan dan Gereja  itu sebagai Perjanjian Baru (diinspirasikan dari 2 Kor. 3: 14 di mana Paulus menyebut Kitab Suci orang Yahudi sebagai Perjanjian Lama). Sejak saat itu, para murid Tuhan (Gereja) mulai menyejajarkan Kitab Suci Perjanjian Lama dengan sederetan tulisan Kristen yang disebut Perjanjian Baru. Sikap ini nampak misalnya:

  • Clement dari Alexandria berbicara tentang ‘sebuah Perjanjian Baru yang diberikan kepada umat Allah yang baru’.
  • Tertulianus menyatakan bahwa Gereja Roma menyatukan Kitab Hukum dan para nabi dengan kitab-kitab Injili dan rasuli dan mengakui bahwa kedua Perjanjian ini sama-sama Kitab ilahi.

2. Daftar Kitab-kitab Perjanjian Baru

Pada mulanya, serangkaian perkataan dan ajaran Tuhan Yesus dikenang dan diteruskan secara lisan. Kenangan inilah yang menjadi sumber tulisan-tulisan Kristen pertama, yaitu surat-surat rasul Paulus. Tidak lama sesudah penulisan surat-surat itu, ditulis pula beberapa kitab yang berisi kisah dan ajaran Tuhan. Di tahun 150-an, Yustinus sudah terbiasa dengan ‘ingatan para rasul’ (keempat Injil) dan mengatakan bahwa kumpulan ini digunakan dalam ibadat hari Minggu. Irenius-lah yang pertama kalinya menyebut ‘4 Injil’ dan Tatianus menyatukan keempatnya dalam Diatessaron. Ke empat Injil inilah yang menjadi tulisan-tulisan Kristen pertama yang diterima sebagai Kitab Suci Perjanjian Baru. Surat-surat rasul Paulus akan menyusul kemudian.

Walaupun daftar Kitab-kitab Perjanjian Baru sudah menampakkan wujudnya, pengakuan resmi dari pihak Gereja atas kitab-kitab mana saja yang masuk ke dalam daftar Kitab Suci Perjanjian Baru masih belum ada. Kemunculan dua gerakan bidaah akan mendorong Gereja untuk memilih dan memutuskan secara resmi  tulisan-tulisan Kristen mana saja yang diterima sebagai kitab-kitab Perjanjian Baru.

3. Bidaah Marcionisme dan Montanisme

Marcion berasal dari Sinope, daerah Laut Hitam. Ia memisahkan diri dari Gereja Roma pada tahun 144. Ia membaca Kitab Suci secara harafiah dan dengan demikian sulit merukunkan isi Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, yang di matanya saling berlawanan. Menurut pendapatnya sendiri, PL berisi peraturan ketat dan keras sementara PB berisi rahmat yang menebus. Menerima PL sebagai Kitab Suci berarti menerima adanya dua Allah: Allah orang Yahudi yang menciptakan semesta (Demiurge) dan Allah yang lebih berkuasa yang diperkenalkan oleh  Yesus Kristus. Dengan alasan ini, Marcion membuat daftar Kitab Suci sendiri dan mengumumkannya kepada khalayak. Daftar Kitab Suci ciptaannya meliputi: 10 surat-surat rasul Paulus (kecuali surat-surat pastoral) dan Injil Lukas (setelah disensor dari pengaruh Yahudi).

Selain Marcion, ada juga Montanus yang juga mengklaim daftar Kitab Suci Perjanjian Baru lainnya. Montanus dan beberapa pengikutnya membuat sekte dalam agama Kristen yang disebut Montanisme di Phrygia pada tahun 156. Mereka percaya bahwa Roh Kudus telah memilih mereka untuk menerima pencurahan baru seperti yang terjadi pada saat Pentekosta. Seperti Gereja, gerakan ini juga punya jabatan nabi. Para pengikut Montanus percaya bahwa nubuat para nabinya ini adalah perwahyuan Roh Kudus harus dimasukkan ke dalam jajaran ‘kitab-kitab suci terdahulu’.

4. Terbentuknya daftar resmi (kanon) Kitab Suci Perjanjian Baru

Menanggapi beragam versi daftar Kitab Suci Perjanjian Baru yang dibuat baik oleh Marcion maupun oleh gerakan Montanus, Gereja bergerak untuk mengeluarkan daftar resmi Kitab Suci Perjanjian Baru yang diterima dan digunakan oleh para murid Tuhan.

Daftar resmi pertama Kitab Suci Perjanjian Baru nampak dalam apa yang dikenal sebagai fragmen Muratorian yang berasal dari Roma di akhir abad kedua. Daftar ini mencakup seluruh Kitab Perjanjian Baru yang kita kenal sekarang ini kecuali: Surat Ibrani, 1 dan 2 Petrus, surat Yakobus dan 3 Yohanes. Ada juga dua tulisan yang sekarang tidak ada lagi dalam Kitab Suci Perjanjian Baru kita, yaitu Kebijaksanaan dan Apokalipsis Petrus.

Daftar Kitab Suci Perjanjian Baru yang sekarang ini kita terima tidak jauh berbeda dengan apa yang ditemukan di dalam surat Paskah yang ditulis oleh St Athanasius pada tahun 367. Surat ini mencantumkan ke 27 buku Kitab Suci Perjanjian Baru seperti yang kita miliki saat ini. Namun demikian, sebelum sampai abad ke enam, banyak Gereja memiliki daftar Kitab Suci Perjanjian Barunya sendiri.

Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan menyangkut proses terbentuknya kanon Kitab Suci Perjanjian Baru:

  1. Kriteria utama untuk menentukan sebuah tulisan atau kitab dapat dimasukkan ke dalam kanon Kitab Suci Perjanjian Baru, adalah sifat apostolisnya (berasal dari para rasul). Seindah apa pun isinya, tetapi tidak dapat dihubungkan dengan pribadi para rasul, maka tulisan itu tidak akan dimasukkan ke dalam kanon.
  2. Sebagian buku yang semula masuk ke dalam kanon akhirnya dihapus dari daftar Kitab Suci Perjanjian Baru karena tidak tahan uji di bawah kriteria utama tadi. Misalnya: Didache, Gembala Hermas dan Apokalipsis Petrus.
  3. Sebaliknya, sebagian buku baru dimasukkan kemudian ke dalam kanon setelah sekian lama diragukan sifat kerasulannya, seperti Surat Ibrani dan Surat Yakobus (lama ditolak oleh Gereja Barat) dan Wahyu (lama ditolak Gereja Timur) serta 2 Petrus, 2 dan 3 Yohanes serta Surat Yudas.

(Sumber JND Kelly, Early Christian Doctrines, Continuum New York 2000, hlm. 56-60)

Iklan

Satu pemikiran pada “Seri_3B Kitab Suci: Kanon PB

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s