St Benediktus dari Nursia (480-543): Pelindung Eropa

Satu siang, seorang rahib muda gemetar ketakutan. Kepada Benediktus ia bercerita  bahwa sabit yang ia gunakan untuk memotong rumput terlepas dari gagangnya dan tenggelam ke dalam danau yang dalam. Benediktus pun pergi ke danau itu, mencelupkan gagang kayu tanpa sabit tadi ke dalam air danau dan entah bagaimana sabit itu telah kembali bersatu dengan gagangnya.

Rahib muda yang masih gemetar karena ketakutan itu menerima kembali sabitnya dari Benediktus. Pada saat yang bersamaan, ia mendengarkan ucapan singkat dan tegas dari orang kudus itu: “Ecce! Labora! Ini dia. Ayo kerja!”

Kerja. Untuk orang Eropa di awal pertengahan, kata kerja melekat dengan kehidupan budak: para budak ditakdirkan bekerja dan para majikan diciptakan untuk berpikir dan berpesta. St Benediktus merombak konsep ini. Kerja bukanlah semata nasib para budak. Bekerja adalah dorongan alamiah manusia untuk meningkatkan mutu hidupnya. Bekerja adalah bentuk ketaatan manusia di hadapan kehendak Allah.

Sudah sejak masa mudanya, Benediktus melihat ada yang tidak beres dalam mentalitas masyarakat di jamannya. Semula, ia dikirim oleh keluarganya di Nursia untuk meneruskan pendidikannya di Roma. Begitu sampai di Kota Abadi, ia berubah haluan: kehidupan Roma yang sarat pesta pora bukanlah jawaban atas kerinduan batinnya yang paling dalam.

Bersama seorang pelayan pribadinya, ia memutuskan untuk tinggal menyepi di kota Affile. Didorong oleh keinginan untuk hidup semata-mata bagi Kristus, ia melepaskan pelayan pribadinya dan pergi sendirian ke Subiako. Di Subiako-lah, St Benediktus menemukan jalan yang dapat membantu orang-orang sejamannya untuk dapat hidup menurut kehendak Allah, yaitu mengalahkan rasa malas sebagai bentuk ketidaktaatan dengan kerja dan doa sebagai bentuk ketaatan: Ora et Labora.

Bagi St Benediktus, rahmat yang Tuhan berikan tidak menemukan tanah yang subur di dalam diri orang yang suka bermalas-malasan. Dengan demikian, kerja adalah wujud nyata keinginan orang untuk bekerja sama dengan rahmat Tuhan. Di dalam biara yang didirikannya, tiada batasan untuk jenis pekerjaan selama hal itu memang dibutuhkan oleh kehidupan biara dan masyarakat sekitar: berkebun, berkesenian, belajar, mengajar di sekolah orang miskin, mengajar di universitas, beternak dan sebagainya.

Pada dasarnya, peraturan yang ditulis oleh St Benediktus tidak terbatas untuk kalangan berjubah tetapi ditujukan untuk semua orang yang menyebut dirinya Kristen. Oleh karena itu, tradisi mendoakan Ibadat Harian yang dituliskannya menjadi doa seluruh umat, bukan semata doa para imam dan biarawan.

Sesuatu yang dimulai oleh St Benediktus sebagai gerakan rohani berkembang menjadi dasar bagi masyarakat baru yang sedang mencari bentuknya pada saat itu, yaitu masyarakat Eropa. Dengan disiplin yang diterapkan dalam komunitasnya, yang dapat disingkat dalam semboyan Ora et Labora, kekayaan rohani Kristen-Romawi dapat berpadu dengan semangat kerja keras suku-suku bangsa Jerman yang menguasai Roma. Tidak mengherankan jika kemudian biara-biara yang membawa semangat St Benediktus menjadi pusat kebudayaan dan cikal bakal lahirnya kota-kota penting Eropa.

Ecce! Labora!

Iklan

4 pemikiran pada “St Benediktus dari Nursia (480-543): Pelindung Eropa

  1. Salam kenal Romo.
    Saya Frater Hendrik dari Keuskupan Bogor. Saya hendak menulis tesis yang bertemakan St. Benediktus dari Nursia. Apakah romo bisa membantu saya dengan meminjam buku tentang St. Benediktus dari Nursia untuk di foto copy? Apakah saya bisa bertemu dengan langsung dengan romo. Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s