Hampa

Tahun A, Selasa dalam Pekan XV

Kel 3:1-69-12, Mzm 103:1-2,3-4,6-7, Mat 11:25-27

Katanya, dalam mengejar setiap hal di dunia ini, manusia senantiasa menantikan tiga sifat berikut ini: kejelasan, kestabilan dan kekekalan. Dalam relasi, misalnya, kita butuh kejelasan (apa status relasi ini: persahabatan, pertemanan, atau lebih serius lagi), kestabilan (kalau statusnya sudah jelas, kita ingin relasi itu tetap ada, stabil, tenang, gak perlu berantem) dan kekekalan (dari relasi yang stabil kita merindukan relasi yang tidak aus dimakan waktu).

Sayangnya, penantian ini tidak selalu mendapatkan jawaban yang memuaskan. Kerapkali manusia justru menemukan ketidakjelasan (misalnya: apa sebenarnya tujuan hidupku), ketidaksabilan (misalnya: perselisihan atau sakit) dan kesementaraan (misalnya: kematian atau perpisahan). Pertentangan antara penantian manusia dan jawaban yang diberikan kehidupan melahirkan suatu rasa hampa dan sia-sia.

Dalam bacaan pertama hari ini, Musa mengalami kesia-siaan itu. Statusnya sebagai seorang pangeran kerajaan Mesir tidak membuatnya lupa akan asal-usulnya dari bangsa yang diperbudak, yaitu Israel. Dia pikir, dengan membunuh seorang serdadu Mesir yang mencambuki salah seorang dari bangsanya, ia akan diterima sebagai pemimpin. Inilah yang dia nantikan: kejelasan bahwa sekarang dirinya diterima oleh bangsanya sendiri sebagai pemimpin; penerimaan itu bersifat tetap tanpa gangguan dan berlangsung selamanya.

Apa daya, dalam waktu sehari, semua yang dinantikan itu runtuh berantakan. Baru saja Musa bertindak sebagai penengah di antara dua orang Israel yang bertengkar, ia tidak saja dimaki tetapi juga diancam bahaya maut begitu mengetahui bahwa kabar tentang tindak kriminalnya sudah menyebar. Ia lari dengan kecewa menjauhi istana tempat ia dibesarkan, menjauhi bangsanya sendiri yang ia rindukan. Musa tenggelam dalam kehampaan dan kesia-siaan.

The End……?

Belum. Disebutkan tempat ke mana ia lari: ke tanah bangsa Midian. Di sanalah Musa akan berjumpa dengan Tuhan. Di sanalah Musa akan menemukan semua yang dirindukannya: penerimaan yang jelas, stabil dan kekal dari Tuhan. Dengan menyebut namaNya kepada Musa, Allah mengikat persahabatan dengannya: Akulah Allah nenek moyangmu, Allah Abraham-Iskak-Yakub. Akulah YAHWE!

Kekecewaan, kehampaan dan kesia-siaan bukanlah sebuah akhir. Bagi orang beriman, semua itu dapat menjadi awal sebuah babak baru kehidupan karena membuka mata hati kita akan sisi rohani kehidupan ini. Ketika rasanya dunia tidak memberikan jawab, Dia yang diangkat dalam setiap perayaan Ekaristi senantiasa menyerahkan DiriNya untuk kita: “Inilah TubuhKu… Inilah DarahKu…”. Dengan kata lain, Ia senantiasa berkata kepada setiap orang: sampai akhir jaman, Aku sertamu… Dialah jawaban setiap kerinduan hati manusia yang terdalam.

Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria melindungi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s