Misi

13 Juli 2011,

Makan bersama adalah sebuah perjumpaan. Entah selama ‘déjeuner’ atau makan siang, entah selama ‘dinner’ atau makan malam, perjumpaan antar pribadi seringkali tercipta. Dalam perjumpaan ini, biasanya orang coba saling lebih mengenal satu sama lain.

Seperti yang kualami malam ini. Keterlambatanku datang ke ruang makan saat makan malam justru membawa berkah karena ‘mau tidak mau’ aku duduk di sebuah meja bersama dua pastor Perancis yang sudah lanjut usia. “Asiikk, bisa praktek bahasa Perancis,” batinku. Dan yang kuharapkan memang terjadi. Aku terlibat pembicaraan menarik dengan mereka berdua. Dalam bahasa Perancis pastinya (walau agak terbata-bata, tetapi little-little sih I can….)

Mereka berdua adalah imam MEP (Missions Etrangères de Paris) yang sudah puluhan tahun menjadi misionaris di luar Perancis: yang satu di Cina, satunya di India. Kami pun ngobrol tentang perbedaan bahasa, tentang bahasa dan tulisan Cina yang terkenal sulit dan rumit, tentang fromage et vin (keju dan anggur) dan juga tentang Indonesia karena salah satu dari mereka pernah berada dalam angkatan yang sama sewaktu di seminari dulu dengan seorang misionaris asal Perancis yang kini bekerja di Indonesia.

Sambil ngobrol, kutatap mereka berdua. Sudah lama aku bertanya, bagaimana mungkin orang dapat memilih untuk pergi jauh dari keluarga dan tanah kelahirannya demi orang-orang yang tinggal di tanah asing yang belum dikenalnya? Bagaimana bisa mereka meninggalkan kebiasaan yang sudah dikenal sejak kecil, seperti bahasa, makanan, iklim, cara berpakaian dan sebagainya? Sudah lama aku dibuat kagum oleh apa yang dibuat para misionaris ini.

Iman akan Yesus yang kuterima saat ini, adalah karunia Roh Kudus yang disalurkan lewat para misionaris juga. Iman ini dapat dilacak mulai dari kegiatan misi yang dibuat oleh romo Van Liith di Jawa Tengah, yang memperkenalkan iman Kristen kepada penduduk di sana sampai akhirnya diterima oleh kedua orang tuaku dan diturunkan kepada kami, anak-anaknya.

Karya misi yang dipercayakan Roh Kudus kepada GerejaNya belum selesai. Karya itu masih terus berlanjut. Sekarang, setiap orang yang dibaptis adalah para misionaris (dari kata Latin, missi – artinya yang diutus; Yunaninya apostolos). Tidak perlu pergi ke tanah asing untuk menjadi utusan. Menurut Kisah Para Rasul, Gereje Perdana sudah menjalankan misi-nya (perutusannya) dengan menampilkan cara hidup yang memikat: Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan (Kis. 2:47).

Tuhanlah yang membuat orang memutuskan untuk masuk menjadi anggota Gereja. Tugas kita adalah menjadi utusan dengan memberi kesaksian hidup.

 

 

 

4 pemikiran pada “Misi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s