Pythagoras

Di paruh kedua abad ke 6 Sebelum Masehi, kemilau kejayaan kerajaan Ionia di Yunani mulai meredup. Segala kemajuan duniawi yang dulu sempat dinikmati kini mulai berkarat dan pelan-pelan menampakkan tanda-tanda kemunduran. Dalam sejarah, kemunduran suatu masyarakat selalu ditandai oleh dua hal: merebaknya keraguan dan bangkitnya gerakan kerohanian.

Pythagoras dan komunitas kerohaniannya adalah salah satu tanda nyata suatu kebangkitan rohani ketika masyarakat Yunani Ionian sedang berada di bagian bawah roda sejarah.

Bersama para muridnya, Pythagoras hendak menuntun masyarakat Ionia untuk dapat melewati saat-saat redup dalam sejarah mereka. Dua hal ditawarkan oleh komunitas ini: pertama, pembaruan cara pandang dan kedua, penerapannya melalui gaya hidup tertentu. Pembaruan cara pandang dilakukan lewat ajaran atau doktrin tentang keabadian roh manusia. Berbeda dengan para pemikir sebelumnya, seperti Thales-Anaximenes-Anaximander yang cenderung ‘materialistis’, Pythagoras mengajarkan bahwa roh bukan sekedar bayang-bayang raga tetapi unsur paling utama pribadi manusia. Yang rohani ditempatkan di atas yang jasmani. Karena itu, dalam komunitas mereka, kemurnian rohani sangat dijaga.

Di samping itu, pembaruan cara pandang juga ditawarkan lewat pelajaran matematika khususnya geometri. Pelajaran ini menjadi begitu penting sebab di mata Pythagoras dan para muridnya, segala yang ada di alam ini dibentuk oleh angka. Mereka mencoba melampaui apa yang kelihatan untuk sampai pada unsur terdalam yang mengatur setiap benda, yaitu angka. Karena segalanya terdiri dari angka, maka semuanya bisa diatur, seperti orang menakar bahan untuk obat agar berkhasiat;  seperti orang memperhitungkan nilai setiap nada dalam bentuk angka ketika menciptakan sebuah komposisi musik agar tercipta karya seni yang harmonis.

Pembaruan cara pandang seperti ini diterapkan dalam disiplin hidup yang jelas. Mati raga, meluangkan waktu untuk hening, mengembangkan akal budi khususnya lewat pelajaran matematika, semuanya digunakan untuk menjaga kemurnian rohani.

Melalui gerakan ini, Pythagoras dan para muridnya mencoba mematahkan pandangan sebelumnya yang menyatakan bahwa materi berada di atas segalanya. Komunitas Pythagorian juga menuntun masyarakatnya untuk keluar dari keraguan dan kekacauan dengan mendorong mereka untuk percaya pada kemampuan akal budi.

Pembaruan manusiawi senantiasa melibatkan kemanusiaan seutuhnya: pribadi-sosial, jasmani-rohani, akal-rasa dan sebagainya. Pembaruan atau pembangunan yang mengutamakan satu aspek semata, tidak dapat membawa masyarakat ke mana-mana. Bagaimana dengan hidupku? Apakah aku juga memperhatikan segala segi kemanusiaanku? Adakah yang luput dari perhatianku?

Di kemudian hari, Pythagoras menginspirasikan filsof besar Plato. Tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa sampai saat ini pun ia masih memberi inspirasi.

2 pemikiran pada “Pythagoras

    1. Trims Ko untuk tanggapannya. Mumpung punya waktu buat baca-baca lagi. Artikel aslinya juga ke sana arahnya, menjelaskan setiap pemikiran dalam konteks sejarah. Buku yang saya pakai sejarah filsafat jilid satu tulisannya romo Frederick Copleston, bacaan wajib waktu di stf dulu. God bless you.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s