Seri _3c Inspirasi dan Kesatuan Kitab Suci

Dua tulisan terdahulu membahas Gereja dan Perjanjian Lama serta Gereja dan daftar resmi Kitab Suci Perjanjian Baru. Bagian ini akan mengulas kesatuan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru serta apa itu inspirasi suci dalam penulisan kitab suci. Kita mulai dari yang disebut terakhir.

Bagi Gereja, Kitab Suci adalah sebuah dialog hidup antara yang ilahi sebagai sumber dan asalnya serta yang manusiawi sebagai penerima dan sekaligus pewartanya. Allah memilih pribadi tertentu sebagai penulis Kitab Suci untuk menerima perwahyuanNya dan mengungkapkannya dalam kata-kata manusiawi.

Pertanyaannya sekarang: bagaimana para Bapa Gereja memahami cara Allah “menggunakan” para penulis suci ini untuk menyampaikan perwahyuan yang diterimanya?

Sementara kalangan memandang para penulis suci ini sekedar alat pasif di tangan Allah. Mereka seperti ‘seruling yang memainkan lagu menurut hembusan nafas dan permainan jemari peniupnya.’ Dengan kata lain, Allah membuat mereka tidak sadarkan diri ketika Ia menyampaikan perwahyuanNya. Pandangan semacam ini lahir di Alexandria dari seorang filsuf Yahudi kelahiran Mesir, Philo. Jejak pemahaman ini ditemukan juga dalam tulisan beberapa Bapa Gereja seperti St Yohanes Kristostomos yang mengatakan bahwa St Yohanes dan St Paulus seperti seperangkat alat musik di tangan Allah

Namun demikian, mayoritas Bapa Gereja memahami sebaliknya: para penulis suci berada dalam keadaan sadar ketika menerima perwahyuan ilahi dan ketika menuliskannya. Menurut para teolog dari Gereja Timur seperti Origenes, para penulis suci tetap sadar dan tidak kehilangan kehendak bebasnya. Peran Roh Kudus dalam proses ini adalah menerangi akal budi para penulis suci agar lebih mampu memahami perwahyuan ilahi dan menjauhkan mereka dari kesalahan. Pemahaman serupa ditemukan dalam tulisan para Bapa Gereja di Barat. St Hieronimus, misalnya, menandaskan bahwa para nabi dan penulis suci berada dalam keadaan ‘normal’ dan menggarisbawahi perbedaan gaya penulisan dan latar belakang budaya ketika mereka mengungkapkan perwahyuan suci dalam kata-kata manusiawi.

Ada hal lain yang jauh lebih penting untuk dilihat, yaitu kesatuan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Mengikuti jejak Yesus, Tuhan dan Guru, serta para rasulNya, Gereja menerima Perjanjian Lama sebagai Kitab Suci.

Akan tetapi, beberapa kalangan di dalam Gereja sendiri menolak kesatuan ini. Marcion, misalnya, menyangkal sumber ilahi Perjanjian Lama karena di dalam kitab itu ditemukan hukum agama yang keras dan kaku serta kisah-kisah yang penuh pertumpahan darah. Aliran Gnosis Kristen juga menolak Perjanjian Lama sebagai Kitab Suci para murid Yesus. Menurut mereka, memang ada unsur ilahi di dalam Perjanjian Lama, misalnya 10 Perintah Allah. Akan tetapi ada perintah-perintah agama yang keji, misalnya hukum ‘mata ganti mata gigi ganti gigi’, yang dihapus oleh Kristus. Kesimpulannya: sumber utama Perjanjian Lama tidak datang dari Allah Bapa yang sempurna, tetapi dari ilah yang lebih rendah, Demiurge.

Menanggapi sikap Marcion dan gerakan Gnosis, para Bapa Gereja tampil membela keilahian Kitab Suci Perjanjian Lama. Tokoh utamanya adalah St Irenius, uskup Lion. Menurutnya, Perjanjian Lama tampak ‘seolah-olah’ kurang sempurna di hadapan Perjanjian Baru bukan karena berasal dari sosok ilahi yang kurang sempurna, tetapi karena pemahaman manusia yang harus berkembang untuk dapat mengerti isi perwahyuan ilahi. Para nabi, misalnya, memahami samar-sama saja tentang perwahyuan Allah-manusia yang harus menderita untuk menebus dosa manusia. Di hadapan kisah-kisah keji, seperti pembantain serdadu Mesir di Laut Merah, Irenius mengundang sidang pembaca untuk melihat makna rohani di balik kisah itu: pemurnian umat Israel dari kekuatan dosa berkat campur tangan Allah.

Dalam garis pemahaman seperti ini, Origenes mengungkapkan bahwa perbedaan yang ada di dalam PL dan PB tidak bisa dilihat sebagai pertentangan tetapi dipahami sebagai sebuah proses seperti benih yang harus berkembang dan akhirnya matang menjadi buah. Para nabi, misalnya, memahami perwahyuan Allah yang menjadi manusia dengan cara yang berbeda dari para rasul karena yang satu menerima perwahyuan sebelum peristiwa inkarnasi dan yang satunya sesudahnya. Tidak ada pemahaman yang lebih tinggi dan tidak ada yang lebih rendah.

St Agustinus mengungkapkan kesatuan antara PL dan PB dalam satu kalimat yang padat: Di dalam Perjanjian Lama, Perjanjian Baru tersembunyi dan di dalam Perjanjian Baru, Perjanjian Lama terpenuhi.

(Sumber: JND Kelly, Early Christian Doctrines, Continuum New York 2000, hlm. 60-69)

Iklan

2 pemikiran pada “Seri _3c Inspirasi dan Kesatuan Kitab Suci

  1. Syalom… Mo Ut…

    Dalam alinea ke 6 baris terakhir, Romo ada tulis ”
    Kesimpulannya: sumber utama Perjanjian Baru tidak datang dari Allah Bapa yang sempurna, tetapi dari ilah yang lebih rendah, Demiurge.

    Itu… sumber utama Perjanjian Baru atau Perjanjian Lama, karena baris-baris diatasnya Romo menerangkan tentang Perjanjian Lama..

    Maaf yach Mo.. kalau saya salah pengertian…

    Tks… Mo… Tulisan dan renungannya….
    makin menambah pengetahuan saya akan kitab suci…
    dan sangat berguna bagi saya dalam berkatekese…

    Tuhan Yesus Memberkati
    Bunda Maria Melindungi
    Amien….

    🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s