Keselamatan umat non Kristen dan pandangan tentang agama mereka dalam Ajaran Gereja Pasca Konsili Vatikan II

Secara sangat ringkas, akan diulas dokumen-dokumen terpenting yang mencerminkan sikap Gereja di hadapan tradisi keagamaan lainnya pasca Konsili Vatikan II:

Kepausan Paus Paulus VI:

Dalam ensikliknya, Ecclesiam Suam, Paus Paulus VI menggambarkan sejarah keselamatan sebagai suatu dialog terus menerus antara Allah dan umat manusia. Dalam konteks itu, panggilan Gereja adalah meneruskan dialog ini agar sampai ke setiap pribadi dan komunitas manusiawi. Bersama pemeluk agama lainnya, Gereja mengejar nilai-nilai rohani dan moral yang sama: di atas kesamaan inilah dialog dibangun. Di sisi lain, Paus juga mengakui adanya perbedaan di antara setiap agama dan menghimbau Gereja untuk tidak mengorbankan apa yang menjadi  keunikan imannya demi berlangsungnya dialog (ES 655).

Dalam seruan apostoliknya, Evangelii Nuntiandi, Paus Paulus VI menegaskan perbedaan dan keunikan iman Kristen tersebut di hadapan tradisi keagamaan lainnya: sementara kerinduan akan Tuhan di dalam tradisi keagamaan non-Kristen digambarkan laksana “tangan yang terentang ke langit,” di dalam agama Kristen kerinduan itu terpenuhi karena di sana dalam pribadi Yesus Kristus “Allah Bapa membungkuk untuk menjumpai manusia.” (53)

Kepausan Paus Yohanes Paulus II:

Secara ringkas dapat dikatakan bahwa sumbangan Paus Yohanes Paulus II berkenaan dengan hal ini adalah digarisbawahinya peran Roh Kudus di dalam dunia dan di dalam setiap tradisi keagamaan, sebagaimana sudah dinyatakan dalam Konsili Vatikan II (GS 32, 38, 39, ect.; 15, 37,41, ect).

Dalam enskliknya Redemptoris Hominis, Paus melihat bahwa karya universal Roh Kudus itu terungkap misalnya dalam kerinduan terdalam manusia akan Tuhan (RH 11), keyakinan yang kuat akan imannya (RH 6)  dan doa-doa yang dipanjatkan secara tulus (lihat misalnya kegiatan doa sedunia demi perdamaian yang diselenggarakan di Asisi sejak tahun 1986). Sikap orang Kristen di hadapan karya Roh Kudus adalah penghargaan yang tulus atas ‘apa yang dikerjakan Roh Kudus di dalam diri manusia’ (RH 12).

Peran universal Roh Kudus ini dijelaskan secara lebih nyata dalam ensikliknya Dominum et Vivificantem. Sambil mengutip ajaran Konsili Vatikan II, Paus mengingatkan kembali bahwa Kristus sudah wafat untuk semua orang (Rom. 8:32) dan semua manusia dipanggil pada tujuan ilahi yang sama dan oleh karenanya harus diterima bahwa Roh Kudus menganugerahkan kepada semua orang kemungkinan untuk disatukan dalam misteri Paskah penebusan Tuhan (GS 22).

Dalam ensikliknya Redemptoris Missio, kembali ditegaskan buah Roh Kudus tidak saja di dalam individu tetai juga di dalam tradisi keagamaan itu sendiri: kehadiran dan karyaNya bersifat universal, tidak dapat dibatasi baik oleh ruang maupun waktu… yang mempengaruhi tidak saja invidu tetapi juga masyarakat, sejarah, bangsa, budaya dan agama (RM 28). Tanpa menjelaskan lebih jauh peran tradisi-tradisi keagamaan itu, Paus Yohanes Paulus II menegaskan bahwa sarana-sarana keselamatan yang ada di luar Gereja ambil bagian dalam Kristus sebagai sumber dan tujuannya (RM 5). Ensiklik ini tidak menyatakan secara eksplisit apakah tradisi-tradisi keagamaan non-Kristen termasuk sarana-sarana keselamatan yang dimaksud.

Dokumen Dialog dan Pewartaan:

Pernyataan bahwa tradisi-tradisi keagamaan non-Kristen dapat menjadi sarana keselamatan dinyatakan secara eksplisit dalam sebuah dokumen yang berjudul Dialog dan Pewartaan: renungan dan arah bagi dialog antar umat beragama dan pewartaan Injil Yesus Kristus,  yang dikeluarkan bersama oleh Dewan Kepausan Untuk Dialog antar Umat Beragama dan Dewan Kepausan untuk Penginjilan Bangsa-bangsa. Di dalamnya dinyatakan bahwa: dalam pelaksanaan secara tulus apa yang baik menurut tradisi keagamaannya dan mengikuti tuntunan suara hati masing-masing, setiap orang menanggapi secara benar undangan Allah dan menerima keselamatan dalam Yesus Kristus, bahkan ketika mereka tidak mengakui atau mengetahuiNya sebagai Penyelamat (bdk. AG 3, 9,11) (29).

Kesimpulan:

  • Paus Paulus VI mengundang umat Kristen untuk berdialog dengan penganut agama lainnya tanpa kehilangan jati dirinya sendiri sebagai orang Kristen. Di sini, perbedaan ditegaskan demi terjaganya iman.
  • Paus Yohanes Paulus II mengundang Gereja untuk melihat karya Roh Kudus yang hadir melampaui batas-batas Gereja, yaitu di dalam hati setiap manusia dan setiap tradisi keagamaan lainnya. Di sini, kesatuan, yang jauh lebih dalam daripada perbedaan, ditegaskan.
  • Dokumen Dialog dan Pewartaan meneruskan sikap Gereja di hadapan kenyataan pluralitas agama dengan mengakui bahwa setiap penganut agama menerima keselamatan dari Tuhan ketika mereka melaksanakan ajaran agamanya dengan tulus sesuai tuntutnan hati nuraninya.

Benih yang disemai oleh Konsili Vatikan II, yang sebagai benih memang tidak begitu nampak jelas, secara pelan namun pasti memperlihatkan buahnya. Di hadapan kenyataan pluralitas agama dewasa ini, Gereja terbuka dan mengakui bahwa dengan kuasa Roh Kudus karya keselamatan Allah yang terpenuhi di dalam diri Yesus Kristus juga disampaikan kepada penganut agama lainnya di dalam tradisi keagamaan mereka menurut cara yang hanya diketahui oleh Dia.

(Sumber: Jacques Dupuis, Toward a Christian Theology of Religious Pluralism, Orbis, New York 2001, hlm. 170-179)

5 pemikiran pada “Keselamatan umat non Kristen dan pandangan tentang agama mereka dalam Ajaran Gereja Pasca Konsili Vatikan II

  1. Salam sejahtera, Pater,,, Saya Severinus, orang muda Katolik dan pemilik blog indonesian-papist.blogspot.com
    saya mau menanggapi artikel Pater ini.

    B. Yohanes Paulus II pernah menyampaikan demikian…
    http://www.vatican.va/holy_father/john_paul_ii/audiences/alpha/data/aud19950531en.html

    “Karena Kristus membawa keselamatan melalui Tubuh Mistik-Nya, yang adalah Gereja, jalan keselamatan secara mendasar dihubungkan dengan Gereja.
    Aksioma “extra ecclesiam nulla salus ” – “di luar Gereja tidak ada keselamatan” – dinyatakan oleh St. Siprianus (Epist. 73, 21; PL 1123 AB), dalam tradisi Kristen.
    Aksioma ini dimasukkan dalam Konsili Lateran IV (DS 802), dalam Bulla Kepausan Unam Sanctam dari Bonifasius VIII (DS 870), dan Konsili Florence (Decretum pro Jacobitis, DS 1351).
    Aksioma ini berarti bahwa bagi mereka yang mengetahui fakta bahwa Gereja telah ditetapkan Allah melalui Yesus Kristus sebagai [hal yang] perlu, ada kewajiban untuk memasuki Gereja dan tetap di dalamnya guna mencapai keselamatan diri (lih. LG 14).”

    “Supaya berlaku, anugerah keselamatan membutuhkan penerimaan, kerjasama, sebuah ya untuk karunia ilahi. Penerimaan ini, setidaknya secara implisit, berorientasi kepada Kristus dan Gereja.
    Dengan demikian juga dapat dikatakan bahwa sine ecclesia nulla salus — “Tanpa Gereja tidak ada keselamatan.”
    Berada dalam Gereja, Tubuh Mistik Kristus, bagaimanapun implisit dan misteriusnya, adalah syarat esensial untuk keselamatan.”

    Pada dasarnya, Beato Yohanes Paulus II membela dogma Extra Ecclesiam Nulla Salus. Ia menyatakan dogma ini sebagai aksioma (kebenaran yang harus diterima)

    Bahkan lebih jauh dari itu, Beato Yohanes Paulus II menegaskan demikian

    (Pope John Paul II, Radio Message for Franciscan Vigil in St. Peter’s and Assisi, October 3, 1981, L’Osservatore Romano, October 12, 1981.) “Misteri keselamatan dinyatakan kepada kita dan diteruskan dan tercapai didalam Gereja, dan dari sumber yang asli dan satu-satunya ini, bagaikan air yang ‘rendah hati, berguna, berharga, dan murni’ misteri ini mencapai dunia. Para muda dan umat tercinta, seperti Brother Francis kita harus sadar akan dan menyerap kebenaran fundamental yang diwahyukan ini, yang terkandung didalam kata-kata yang di sucikan oleh tradisi: Tidak ada keselamatan diluar Gereja. Hanya dari dia-lah (Gereja) kuasa hidup menuju Kristus dan RohNya mengalir secara pasti dan secara penuh, untuk memperbaharui seluruh kemanusiaan, dan karenanya mengarahkan setiap manusia untuk menjadi bagian dari Tubuh Mistik Kristus.”

    di sini justru kita melihat bahwa dogma Extra Ecclesiam Nulla Salus itu tetap berlaku sekarang dan Konsili Vatikan II tidak mengajarkan “Di luar Gereja ada keselamatan.”

    Saya sengaja menuliskan artikel http://indonesian-papist.blogspot.com/2011/07/apakah-konsili-vatikan-ii-menganulir.html ini untuk menunjukkan bahwa KV2 tidak mengajarkan di luar Gereja ada keselamatan.

    1. Halo Severinus, maaf baru saya baca dan tanggapi komentarnya hari ini karena sebelumnya saya bertugas di sebuah paroki dengan jaringan internet yang terbatas. Terima kasih untuk tanggapannya. Syukurlah masih ada anak muda Katolik yang berminat mendalami tradisi dan ajaran iman. Salut dan saya dukung usahamu!

      Sekarang, meminjam rumusan Tukul, mari ‘kembali ke laptop’ diskusi kita tentang aksioma extra ecclesiam nulla salus.

      Saya coba rumuskan secara ringkas tanggapan saya.

      Pertama, perlu disamakan lebih dahulu paham kita tentang keselamatan. Dalam iman kita, keselamatan berarti hidup kekal, yaitu mengenal Allah sebagai Bapa. Dan seperti yang diterima Gereja dari Tuhan Yesus, tidak ada orang mengenal Bapa kalau tidak melalui Putra. Kalau rumusan keselamatan ini diterima, berarti untuk dapat selamat, atau untuk mengenal Allah sebagai Bapa, orang harus mengenal Yesus, Allah Putra. Artinya, Di Luar Kristus Tidak Ada Keselamatan. Ajaran iman inilah yang pertama-tama harus ditanamkan di hati agar dapat memahami secara tepat aksioma Di Luar Gereja Tidak Ada Keselamatan. Ada bahaya, orang terlalu fokus pada Gereja dan lupa pada Kristus (eklesiosentris). Beato Yohanes Paulus II sadar akan hal ini, sehingga Beliau memilih judul Keselamatan Datang Melalui Kristus untuk audiensinya pada tanggal 31 Mei 1995. Pilihan memakai Kristus dan bukan Gereja jelas bukan sekedar pilihan strategis tetapi pilihan doktrinal, artinya Kristus harus datang lebih dulu baru kemudian Gereja.

      Kedua, perlu dibedakan antara keselamatan pribadi dan jalan yang menuntun orang itu sampai pada keselamatan. Keselamatan berarti mengenal Allah sebagai Bapa, berarti hidup akrab dengan Allah. Dari Kitab Suci Perjanjian Lama, Gereja belajar untuk menerima kenyataan bahwa ada pribadi-pribadi yang bukan termasuk ‘bangsa pilihan’ yang hidupnya menampakkan keakraban dengan Allah. Nuh, Enokh, Melkisedek, Ayub, Rut, dan masih banyak lagi, bukan termasuk golongan bangsa pilihan, bangsa suci, bangsa yang mengenal Allah sebagai Pribadi, tetapi hidup mereka menjadi teladan bagi orang beriman. Demkian juga di jaman sekarang, banyak pribadi yang bukan anggota Gereja Katolik yang hidupnya menjadi tanda harapan dan kedamaian seperti Mahatma Gandhi, Jalaludin Rumi, Sidharta Gautama, dan lain-lainnya. Maka, pengakuan bahwa percikan Firman Allah (Logos) bekerja di dalam hati setiap orang, baik yang termasuk anggota Gereja atau bukan, juga menjadi tradisi Gereja (ajaran St Yustinus martir). Mengikuti tradisi Gereja ini, Beato Yohanes Paulus II menulis bahwa anugerah keselamatan tidak dapat dibatasi hanya untuk mereka yang mengakui Kristus secara eksplisit dan telah masuk menjadi anggota Gereja. Karena keselamatan itu bagi semua orang (baik di dalam maupun di luar Gereja) maka keselamatan itu harus tersedia bagi semua orang (baik di dalam maupun di luar Gereja) (Redemptoris Missio 10). Setiap orang, entah Katolik maupun non-Katolik, dipanggil untuk hidup akrab dengan Allah. Kalau orang punya kerinduan untuk mengenal Allah, untuk berdoa, untuk hidup baik, untuk mencintai, tandanya di dalam hati orang itu bekerja Roh Kudus, sebab hanya Roh Kudus yang mampu membangkitkan dorongan-dorongan itu. Artinya, Roh Kudus juga bekerja melampaui batas-batas Gereja, Roh Kudus juga bekerja di luar Gereja Katolik Roma. Maka, keselamatan pribadi di luar Gereja Katolik dijamin berkat karya Roh Kudus yang menyatukan mereka semua dengan karya penyelamatan Tuhan Yesus (Gaudium et Spes 22). Bukankah dalam perayaan Ekaristi, Kristus sendiri bersabda: Inilah DarahKu, darah perjanjian baru dan kekal yang ditumpahkan bagimu dan bagi SEMUA ORANG demi pengampunan dosa?

      Lalu, apa artinya Gereja kalau setiap pribadi toh diselamatkan lewat karya Roh Kudus di dalam hati mereka? Nah, ini yang dimaksud jalan yang menuntun orang sampai pada keselamatan itu. Jalan itu adalah Yesus Kristus, sebab Dialah Sang Jalan, Kebenaran dan Kehidupan. Dialah jalan yang membawa orang sampai pada Bapa. Tetapi, untuk sampai pada Jalan Utama, orang mesti melalui jalan yang aman, dan jalan yang aman itu adalah Gereja, yang Tuhan Yesus dirikan sendiri, TubuhNya sendiri. Inilah peran Gereja: membawa orang sampai pada Jalan Utama, untuk secara penuh hidup akrab dengan Allah sebagai Bapa. Konsili Vatikan II tidak menghapus aksioma Di Luar Gereja Tidak Ada Keselamatan. Konsili Vatikan II memberi sebuah penafsiran dari Aksioma itu untuk orang di masa kini. Penafsiran itu adalah sebagai berikut: Roh Kudus membangkitkan rasa haus dan rindu akan Allah dan Roh Kudus pula yang menuntun orang untuk mencariNya. Hanya Kristus yang mampu memenuhi dahaga itu karena Kristus membawa orang sampai pengalaman hidup dengan Allah sebagai Bapa. Dan pengalaman yang demikian ini hanya dapat ditemui di dalam GerejaNya yang kudus, dalam ajarannya, sakramen-sakramennya. Secara ringkas, aksioma itu ditafsirkan dengan rumusan sine ecclesia nulla salus.

      Terakhir, perlu disadari bahwa setiap ajaran iman perlu ditafsirkan dan dimaknai secara baru tanpa menghianati maksud dan tujuannya yang sejati. Dalam hal ini, konsili vatikan II mengembalikan makna asali dari aksioma di luar Gereja tidak ada keselamatan. Aksioma yang kerap dipakai oleh St Siprianus dalam surat gembalanya kepada umat di Kartago itu tidak pernah menyinggung orang dari agama lain atau orang tidak beragama. Sasaran aksiomanya adalah mereka yang sudah berada di dalam Gereja tetapi hendak memisahkan diri karena mengikuti sekte atau penafsiran ajaran iman yang bertentangan dengan tradisi para rasul. Baru setelah agama Kristen menjadi agama resmi Kekaisaran Roma, aksioma ini menembak orang Yahudi dan orang non-Kristen sebagai sasarannya. Ada perkembangan pemaknaan dari aksioma yang sama.

      Duh, maaf ya, jadi panjang lebar gini. Ok. Itu dulu dari saya. Ditunggu umpan baliknya.

      Salam dan doa

      Mo Ut

  2. Pater, tanggapan Pater masih abu-abu sekali dan terkesan kontradiksi.
    Judul tulisan Pater :
    Keselamatan di luar Gereja Katolik: Ajaran Gereja Pasca Konsili Vatikan II
    Salah satu tanggapan ke saya :
    Konsili Vatikan II tidak menghapus aksioma Di Luar Gereja Tidak Ada Keselamatan.

    Pater sama sekali tidak menekankan perlunya persatuan dengan Gereja baik misterius maupun eksplisit untuk keselamatan manusia. Menekankan hal ini tidak menjadikan keselamatan itu ekklesiosentris.

    orang-orang Perjanjian Lama dan mereka yang tidak mengenal Kristus bukan karena kesalahan mereka sendiri bisa selamat karena digabungkan Allah KE DALAM persekutuan dengan Tubuh Mistik-Nya, Gereja, secara misterius. Beato John Paul II menegaskan BERADA DALAM Gereja adalah syarat esensial untuk keselamatan.

    “Berada dalam Gereja, Tubuh Mistik Kristus, meskipun secara implisit dan sungguh secara misterius, adalah syarat esensial untuk keselamatan.” (Beato Yohanes Paulus II, Audiensi Umum 31 Mei 1995)

    Pater juga perlu menekankan pentingnya pembaptisan bagi keselamatan setiap manusia.
    Gereja sendiri mengakui bahwa Gereja tidak mengenal sarana lain untuk menjamin langkah masuk ke dalam kebahagiaan abadi selain melalui pembaptisan.

    Perlunya pembaptisan untuk keselamatan.

    Pembaptisan adalah Sakramen iman. Iman membutuhkan persekutuan umat beriman. Setiap orang beriman hanya dapat beriman dalam iman Gereja. – KGK 1253

    Tuhan sendiri mengatakan bahwa Pembaptisan itu perlu untuk keselamatan. Karena itu, Ia memberi perintah kepada para murid-Nya, untuk mewartakan Injil dan membaptis semua bangsa. Pembaptisan itu perlu untuk keselamatan orang-orang, kepada siapa Injil telah diwartakan dan yang mempunyai kemungkinan untuk memohon Sakramen ini. Gereja tidak mengenal sarana lain dari Pembaptisan, untuk menjamin langkah masuk ke dalam kebahagiaan abadi. – KGK 1257

    Mengapa Pembaptisan perlu untuk keselamatan? Karena Pembaptisan menggabungkan seseorang ke dalam Tubuh Mistik Kristus, Gereja Katolik.

    Pembaptisan menjadikan kita anggota-anggota Tubuh Kristus. “Kita adalah sesama anggota” (Ef 4:25). Pembaptisan menggabungkan kita ke dalam Gereja. Dari dalam bejana pembaptisan dilahirkanlah umat Allah Perjanjian Baru yang unik, yang mengatasi semua batas alami dan manusiawi menyangkut negara, kebudayaan, bangsa, dan keturunan. “Dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak maupun orang merdeka telah dibaptis menjadi satu tubuh” (1 Kor 12:13). – KGK 1267

    Buah Pembaptisan atau rahmat Pembaptisan itu bermacam-macam: pengampunan dosa asal dan semua dosa pribadi; kelahiran untuk hidup baru, yang olehnya manusia menjadi anak angkat Allah, anggota Kristus dan kenisah Roh Kudus. Orang yang dibaptis digabungkan dengan Gereja, Tubuh Kristus, dan mengambil bagian dalam imamat Kristus. – KGK 1279

    Bentuk pembaptisan itu dapat berupa Sakramen Pembaptisan, Baptis Rindu dan Baptis Darah yang ketiganya menghasilkan buah persatuan dengan Gereja untuk mendapatkan keselamatan.

    Tentu, Roh Kudus bekerja melampaui batas Gereja tetapi tetap membawa setiap manusia untuk bersatu dengan Gereja supaya mereka dapat selamat. Bila Roh Kudus tidak bekerja di luar Gereja, bagaimana bisa mereka yang di luar Gereja seperti Scott Hahn, dan orang-orang lain yang pindah ke Katolik, dapat bersatu dengan Gereja Katolik dan meninggalkan agama mereka yang lama.

    Gagasan “Sine Ecclesiam Nulla Salus” ini dikeluarkan oleh Beato Yohanes Paulus II mengenai mereka yang “invincible Ignorant” yaitu mereka yang mengalami ketidaktahuan yang tidak teratasi, mereka yang bukan karena kesalahan mereka sendiri tidak dapat mengenal Kristus dan Gereja. Rumusan dogmanya tetap pertama dan terutama “Extra Ecclesiam Nulla Salus”, lalu bagi yang invincible ignorant dipahami sebagai “Sine Ecclesiam Nulla Salus.” Tapi keduanya tetap mensyaratkan persatuan dengan Gereja untuk keselamatan.

    Orang-orang yang di luar Gereja bisa selamat, bila mereka masuk ke dalam Gereja entah itu misterius atau eksplisit. Yang masuk secara misterius, Gereja juga gak bisa berspekulasi makanya Gereja terus melakukan evangelisasi ke seluruh dunia hingga sekarang ini. Hal ini selain untuk mewartakan Kristus juga menunjukkan bahwa persatuan dengan Gereja mutlak perlu untuk keselamatan.

    Just curious, RM 5 di artikel utama kenapa bisa seperti itu kalimatnya?

    Pax et Bonum, Severinus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s