Dia Peduli

 

 

 

Tahun A Hari Minggu Pekan Biasa ke 18

Yes 55:1-3, Mzm 145:8-9,15-16,17-18, Rm 8:35,37-39, Mat 14:13-21

…maka tergeraklah hatiNya oleh belaskasihan kepada mereka…

Sambil menghisap rokok, seorang pelajar menunggu bis di pinggir jalan. Datanglah seorang polisi menghampirinya dan bertanya: “Kenapa kamu merokok?” Jawab pelajar: “Saya suka pak.” “Dari mana uang buat beli rokok?” tanya si polisi lagi. “Dari uang jajan saya pak.” “Sehari berapa banyak dan berapa uang kaupakai buat merokok?” “Paling sebungkus sehari; harga sebungkusnya 5000 perak.” “Kenapa gak kamu tabung aja uang jajan kamu setiap hari, terus bisa beli motor, hingga kamu gak usah nunggu bis lagi kayak sekarang ini.” Dengan wajah serius, si pelajar menatap polisi dan berkata, “Sekarang ganti saya bertanya. Bapak merokok?” “Tidak,” jawab polisi bangga. “Ooo, tapi kok saya tidak melihat motor bapak yaaa…”

Secara teoritis, nasehat pak polisi begitu indah terdengar. Tetapi dalam kenyataannya, keindahan itu tidak mudah diwujudkan. Demikian juga halnya dengan hidup beriman: ada banyak keindahan ajaran dan firman yang menyentuh perasaan tetapi beriman lebih dari sekedar itu. Beriman berarti mengikuti Tuhan ke mana dan di mana pun Ia meminta kita berada; satu hal yang kerapkali tidak mudah dilaksanakan.

Yesus tahu bahwa apa yang menimpa Yohanes Pembaptis akan Ia terima juga nantinya, yaitu kematian di tangan orang-orang yang berkuasa. Kesulitan dan bahkan nasib yang sama juga bisa menimpa mereka yang mencari dan mengikutiNya. Tempat sunyi, atau padang gurun, adalah symbol kesulitan hidup, penderitaan dan kematian. Di sana Yesus berada dan ke sana juga para murid serta orang banyak mengikutiNya.

Jika Yesus sebagai Allah-manusia saja bertempur dengan susah payah menghadapi beragam kesulitan dan godaan demi terwujudNya kehendak Bapa, bagaimana dengan mereka yang mengikutiNya yang berkodrat manusia biasa dan bukan malaikat? Yesus tahu kesulitan yang dipikul para muridNya, oleh karena itu, Ia menaruh belas kasihan pada setiap pengikutNya.

Ekaristi, yang dilambangkan dengan penggandaan roti dalam kisah Injil hari ini, adalah ungkapan belas kasih Tuhan. Seperti diungkapan dalam syair sebuah lagu, Tuhan peduli dan mengerti semua kesulitan yang kita alami. Oleh sebab itu, Ia memberikan DiriNya agar kita tidak terpisah dariNya dan agar kita memperoleh kekuatan untuk dapat bangkit dan terus berjalan.

Andalkanlah Tuhan dan belas kasihNya.

Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria melindungi

 

4 pemikiran pada “Dia Peduli

  1. romo uut…apa kabar nich?msh inget sy ga?oh iya mo…skrng ad dmn mo?
    romo…bagus bgt mo renungan’a jd makin menyadari hidup sebagai orang katholik…d bikin buku az mo..

    1. Halo Gung. Inget dong, kepala suku PA Kalvari kan… Saya lagi di Paris, belajar bahasa Perancis buat persiapan belajar teologi. Salam ya buat semua anak PA. Puji Tuhan kalau renungan-renungan ini bisa memberi inspirasi. Soal dibukukan, wah, belum ke arah situ. Yang penting nulis dan terus menulis dulu aja. Terima kasih Gung. Tuhan memberkati

      1. oh romo uut dah d paris…romo dah lma yach aktif nulis d wordpress yach..byk bgt dong renungan yg blm sy baca..sy br baca yg ini, santo Alfonsus ma yg ekaristi….baca2 dl ah biar ga kering iman…
        selamat berkarya yach romo uut…Tuhan Yesus Memberkati dan Bunda Maria Melindungi….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s