St Alfonsus Maria de Liguori

Santo Alfonsus Maria de Liguori

(27 September 1696 – 1 Agustus 1787)

Santo Alfonsus Maria de Liguori begitu gelisah dan kecewa. Upayanya untuk mendapatkan pengakuan dari pemerintah Napoli atas kongregasi yang didirikannya, ditolak mentah-mentah. Bagaimana karyanya dapat berjalan kalau tidak ada pengakuan dari pemerintah? Ia tidak lagi muda dan banyak karya yang mestinya dapat dibuat akan terhambat karena tiadanya pengakuan resmi yang didapat.

Di tengah keresahannya, datanglah seorang sahabatnya, yang dengan lembut berkata padanya, “Sahabatku, maaf jika aku berkata bahwa melihat kegelisahanmu, tampaknya kau meletakkan seluruh kepercayaanmu pada perkara dunia.” Seperti ditegur oleh malaikat, santo Alfonsus tersadar. Segera ia menemukan kembali kedamaian batin dan ketenangan pikiran di tengah badai permasalahan yang melanda kongregasi dan sakit yang menggerogoti badannya. Ketika itu tahun 1780. Santo Alfonsus, yang saat itu menggembalai keuskupan St Agatha di Napoli, sudah berusia 83 tahun.

Mungkin, dalam kejadian di atas, sang santo terkenang kembali akan peristiwa puluhan tahun yang lalu; suatu peristiwa yang telah mengubah jalan hidupnya untuk selamanya. Saat itu tahun 1723. Sang santo masih seorang pengacara muda dan ternama berusia 27 tahun. Meskipun berasal dari satu keluarga Katolik yang taat, nikmatnya pengakuan dunia berhasil menjauhkannya dari kehidupan rohani. Sampai satu kejadian, di tahun 1723 itu, mengembalikannya kepada hidup yang sudah Tuhan siapkan baginya.

Di tahun itu, ia sedang membela suatu perkara menyangkut kepemilikan harta benda yang saat ini bernilai lebih kurang 500 ribu US dollar. Ia membuka pembelaannya dengan pidato yang meyakinkan. Hatinya dipenuhi kepercayaan bahwa kasus ini akan menjadi miliknya sampai datang seseorang menyerahkan secarik kertas yang menjungkirbalikkan semuanya. Informasi di atas secarik kertas itu meruntuhkan semua pembelaan yang sudah ia siapkan.

Santo Alfonsus kecewa sangat dalam. Seketika itu juga, ia tinggalkan ruang sidang sambil berkata dalam hati, “Dunia, aku tahu wajah aslimu sekarang. Ruang pengadilan, kau takkan melihat wajahku lagi.” Santo Alfonsus pun meninggalkan karirnya dan membaktikan diri untuk hidup doa dan pelayanan. Di bulan Agustus di tahun yang sama, ketika sedang merawat orang sakit, sang santo merasa rumah sakit di mana ia berada terguncang dan ia sendiri seperti dikelilingi cahaya. Pada saat itu, muncul suara dari dalam batinnya yang berkata, “Tinggalkan dunia ini dan berbaktilah padaKu semata.”

Santo Alfonsus setia dengan panggilan itu. Ia meninggalkan semuanya dan menjadi imam. Berkat saran dan dorongan seorang imam yang lebih senior, ia mendirikan Konggregasi Penebus Teramat Suci (Sanctissimi Redemptoris). Dan inilah awal dari banyak prahara kehidupan yang harus ia terima.

Pada saat itu, pemerintah Napoli cenderung memusuhi para pejabat Gereja. Maka, permohonan sang santo untuk mendapatkan pengakuan atas konggregasinya pun ditolak. Pengakuan itu akan diberikan dengan satu syarat: semua imam tarekat harus menjadi imam keuskupan, agar mudah dikendalikan. Tentu sang santo menentang keras rencana ini. Akan tetapi, beberapa anggota tarekat, termasuk para sahabatnya, menentang pendirian sang pendiri dan dengan beragam cara akhirnya berhasil menuntun jemari santo Alfonsus untuk menandatangani promosal yang diajukan pemerintah Napoli.

Di luar Napoli, para imam konggregasi mengadu ke Paus. Uskup Roma pun bertindak dengan melindungi seluruh rumah dan anggota tarekat yang ada di wilayah Tahta Suci dan mengangkat seorang pemimpin baru. Dengan demikian,  santo Alfonsus, yang kala itu sedang terbaring sakit, disingkirkan dan diasingkan dari tarekat yang ia dirikan. Keadaan ini berlangsung sampai ajal menjemput sang santo.

Sendirian, kalah, sedih melihat konggregasinya terpecah belah dan badan ditimpa sakit parah. Begitulah keadaa santo Alfonsus di ujung hidupnya. Ahli teologi moral, uskup, pendiri konggregasi dan pengkotbah ulung ini akhirnya dipeluk oleh Tuhan Yesus yang memanggilnya dan diantar untuk menikmati kebahagiaan di surga pada tanggal 1 Agustus 1787. Saat itu, ia berusia 91 tahun.

Pada tahun 1793, pemerintah Napoli akhirnya mengakui konggregasi Redemptoris sebagaimana dulu didirikan oleh santo Alfonsus. Dan dengan demikian, kesatuan konggregasi pulih kembali.

Perjamuan, hiburan dan pertunjukan adalah kenikmatan dunia; kenikmatan yang penuh dengan pahitnya empedu dan tajamnya duri. Percayalah pada kata-kata ini, sebab  berasal dari dia yang dulu pernah menikmatinya dan sekarang menangisinya.” Begitulah sepenggal kalimat yang sempat ditulis sang santo. Kenikmatan dunia ia tangisi tetapi penderitaan akibat menjalani kehendak Allah ia syukuri, karena membuatnya semakin dekat dengan Dia yang telah lebih dulu mencintainya.

 

 

 

 

Iklan

3 pemikiran pada “St Alfonsus Maria de Liguori

  1. Tengkiu Mo…renungannya…

    hari ini kan pesta nama Pelindung Lingkungan saya… St.Alfonsus…
    tapi misa n acaranya diadakan sabtu pagi nanti…

    Moo.. ijin yach.. kalau jadi..nanti di teks misanya, saya ambil beberapa bagian cerita dari yg Romo tulis yach…
    boleh yach.. Mo… (wajah memelas.com)
    🙂

    Tks Mo Ut…

    Tuhan Yesus Memberkati
    Bunda Maria Melindungi…

    Amien….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s