Seri_3d: Metode Memahami Kitab Suci

 Sebagai penutup pembahasan tentang Gereja dan Kitab Suci, akan dibahas secara sangat singkat cara para Bapa Gereja membaca dan memahami Kitab Suci.

Metode Tipologi

Secara garis besar, Gereja menggunakan metode tipologi ketika membaca dan memahami Kitab Suci. Tujuan metode tipologi adalah memperlihatkan hubungan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dengan dituntun oleh sebuah keyakinan bahwa peristiwa-peristiwa dan tokoh-tokoh yang ada di dalam Perjanjian Lama merupakan gambaran (tipe) yang menunjuk pada kenyataan yang seseungguhnya di dalam Perjanjian Baru. Dalam metode ini, kejadian manusiawi atau sejarah begitu penting sebab: (1) Allah hadir di dalam sejarah dan secara bertahap mewujudkan karya keselamatanNya di dalam sejarah; (2) manusia dapat percaya pada janji Allah sebab ia melihat tanda-tanda perwujudan janji itu dalam peristiwa-peristiwa dan pribadi-pribadi tertentu.  Sebagai contoh: Adam dan Musa dipahami sebagai ‘tipe’ atau gambaran yang menunjuk pada pribadi Yesus; peristiwa menyeberangi Laut Merah yang terbelah dan menyantap manna di padang gurun merujuk pada pembaptisan dan ekaristi.

Di dalam prakteknya, metode tipologi dapat memiliki dua kecenderungan: di satu sisi, cenderung pada simbolisme (tanda-tanda) yang mengabaikan sejarah dan kenyataan dunia; di sisi lain, tipologi juga dapat cenderung pada makna harafiah (literal) yang terlalu terikat pada sejarah dan mengabaikan yang rohani. Kecenderungan yang pertama disebut allegori dan kecenderungan kedua disebut literal atau harafiah

Metode Allegori

Metode ini membaca dan memahami Kitab Suci semata-mata sebagai symbol atau tanda dari kebenaran-kebenaran rohani. Tujuan metode ini sudah jelas: mengungkapkan makna moral, teologis dan mistis dari setiap kisah, halaman bahkan setiap kata yang ada di dalam Kitab Suci. Makna historis atau kenyataan manusiawinya diabaikan. Contohnya: dengan menggunakan metode ini, kisah orang Samaria yang baik hati dapat dipahami sebagai berikut: orang yang disamun adalah Adam, Yerusalem adalah surga, Yeriko adalah kenikmatan dunia yang membawa kematian, para penyamun adalah iblis, para imam yang lewat tanpa menolong adalah upacara keagamaan Perjanjian Lama yang tidak ampuh menebus dosa, dan orang Samaria yang baik hati adalah Yesus serta rumah penginapan tempat perawatan orang yang disamun adalah Gereja. Metode ini berkembang di Alexandria, di bawah pengaruh filsafat Plato yang menekankan dunia ‘ide’.

Salah satu tokoh utama ‘sekolah Alexandria’ ini adalah Origenes yang membagi makna Kitab Suci dalam tiga bagian: (1) makna historis atau harafiah; (2) makna tipologis; dan (3) makna mistis. Contoh: Dengan nyaring aku berseru kepada Tuhan dan Dia menjawab dari gunungNya yang kudus (Mzm 3:4). Menurut makna historis, Daudlah yang berseru kepada Tuhan; tetapi menurut makna tipologis, yang berseru adalah Kristus yang tahu bahwa Allah akan membangkitkanNya setelah peristiwa salib dan menurut makna mistis yang berseru di sini adalah setiap jiwa yang berkat persatuanNya dengan Kristus (mistis) mendapatkan kemuliaan Allah di surga.

Metode Literal atau harafiah

Kecenderungan allegorisme yang mengabaikan sejarah nyata dalam membaca Kitab Suci ditanggapi dengan metode literal atau harafiah yang menekankan pentingnya teks sebagaimana adanya dan konteks sejarahnya. Metode ini berkembang di Antiokia, Syria, pada abad keempat dan kelima. Beberapa tokoh dari ‘sekolah Antiokia’ ini adalah Diodorus dari Tarsus, Theodorus dari Mopsuestia dan secara praktis metode ini diterapkan oleh Yohanes Krisostomos dalam kotbah-kotbahnya.

Secara singkat dapat dikatakan bahwa, metode literal ini ingin menjaga agar tipologi jangan sampai ‘kebablasan’ menjadi allegorisme yang melupakan sejarah. Makna rohani di balik setiap kisah atau tulisan di dalam Kitab Suci dapat ditemukan bukan dengan mengabaikan teks Kitab Suci dan konteks sejarahnya, tetapi dengan ‘kekuatan pemahaman’ atau yang disebut ‘theoria’.  Dengan demikian, tipologi dimurnikan karena tipologi itu sendiri artinya nubuat yang disampaikan dengan bahasa sehari-hari. Ada beberapa syarat agar kekuatan pemahaman ini mampu menguak petunjuk-petunjuk yang tersimpan dalam sejarah suci: (1) makna harafiah dalam kisah Kitab Suci jangan dihapus, (2) ada hubungan nyata dan tidak dibuat-buat antara fakta sejarah dan makna rohaninya, (3) keduanya dipahami secara bersamaan, meskipun masing-masing dipahami dengan cara yang berbeda.

Sebagai contoh: pintu yang ditandai dengan darah anak domba pada peristiwa Paskah sebagaimana dibaca dalam kitab Keluaran, dipahami oleh Theodorus sebagai tanda yang menunjuk pada penebusan dosa dengan darah Kristus dalam Perjanjian Baru.

Yohanes Krisostomos membedakan pernyataan-pernyataan Kitab Suci dalam tiga kategori: (1) pernyataan yang punya dua makna: makna harafiah dan sekaligus juga makna yang lebih dalam yang harus digali dengan ‘kekuatan pemahaman (contoh: Musa adalah tokoh historis tetapi sekaligus menunjuk pada pribadi Yesus sebagai pemberi Hukum Baru); (2) pernyataan yang hanya memiliki makna harafiah (contoh: perintah jangan membunuh harus diterima secara harafiah, artinya jangan menghabisi nyawa orang lain) ; dan (3) pernyataan yang hanya memiliki makna allegoris (contoh: Adam dan Hawa adalah gambaran atau simbol manusia pertama).

Kelemahan metode literal ini adalah kuatnya kecenderungan untuk berhenti pada huruf dan sejarah dan menolak makna rohani yang sebenarnya tersimpan di dalam sebuah kitab atau perikop Kitab Suci. Misalnya, ada kalangan dari sekolah Antiokia yang menolak kitab Kidung Agung sebagai lambang relasi kasih antara Kristus dan GerejaNya atau Kristus dan jiwa manusia. Menurut mereka, Kidung Agung hanyalah lagu cinta yang digubah oleh raja Salomo ketika menikahi seorang putri kerajaan Mesir.

(Sumber: JND Kelly, Early Christian Doctrines, Continuum New York 2000, hlm. 69-79)

 

 

 

 

 

 

Satu pemikiran pada “Seri_3d: Metode Memahami Kitab Suci

  1. tks.. infonya Mo…

    semakin menambah pengetahuan kita tentang kitab suci..
    walopun bacanya agak puyeng2 dikit Mo…

    🙂

    Tuhan Yesus Memberkati
    Bunda Maria Melindungi

    Amien

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s