Pencuri dan Pertapa

 

 

 

 

Sabtu dalam Pekan Biasa 20 Tahun A

Rut 2:1-3,8-11,4:13-17, Mzm 128:1-2,3,4,5, Mat 23:1-12

Alkisah, seorang pencuri mengendap-endap masuk ke gubuk seorang pertapa. Ia mencuri sebisanya mengingat tidak banyak barang berharga yang dimiliki pertapa miskin itu. Ketika si pencuri hendak meninggalkan gubuk, terdengar suara sang pertapa lirih memanggil: “Ssssttt….kemari. Masih ada sepasang sandal yang masih bisa kaubawa pergi.” Pencuri itu pun berbalik, mengambil sandal sang pertapa dan beranjak pergi. Sebelum terlelap, sang pertapa menatap bulan purnama lewat jendela kamarnya sambil berbisik, “Seandainya bisa, kuberikan juga bulan itu padanya.”

Kaya – miskin bukan sekedar perkara berapa banyak hal yang dapat dimiliki seseorang tetapi lebih dalam lagi juga perkara kebebasan hati. Sang pertapa sudah melatih dirinya untuk mengalami kebebasan batin dan karena itulah ia tidak begitu terusik oleh si pencuri. Hiburannya tidak terletak pada benda-benda yang ia miliki. Hiburannya ada pada kehidupan yang sudah begitu kaya, yang tidak dapat diganggu oleh lenyapnya satu atau dua barang milik pribadinya. Berbeda dengan si pencuri, sang pertapa tidak perlu mencuri apa-apa dari sesamanya.

Orang-orang Farisi dan para Ahli Taurat dalam Injil hari ini dapat digambarkan sebagai pencuri: mereka mencuri perhatian banyak orang dengan memakai jumbai doa yang panjang-panjang dan dengan duduk di tempat terhormat selama perjamuan. Mereka mau diperhatikan; mereka mau dihormati dan dihargai. Dengan kata lain, hati mereka belum lepas bebas. Mereka masih merasa perlu mencuri karena bagi mereka hidup ini belum cukup kaya. Dengan demikian, kebebasan batin tidak saja menyangkut mengambil jarak dari benda-benda jasmani tetapi juga, dan ini jauh lebih sulit, dari perkara-perkara emosi, perasaan.

Setiap murid Tuhan diundang untuk berlatih bebas terhadap keduanya, lepas bebas terhadap benda-benda jasmani dan juga terhadap dorongan-dorongan emosi. Maka, di antara sesama pengikut Tuhan, tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Semuanya adalah saudara dengan fungsi pelayanan yang berbeda-beda. Bagaimana orang bisa bebas tidak mencuri perhatian? Bagaimana membebaskan diri dari dorongan dihormati, dihargai, jadi populer dan melambung nama baiknya?

Santa Teresa dari Kanak-kanak Yesus punya satu doa singkat yang begitu indah: Solo Dio, basta. Hanya Tuhan, dan itu cukup. Murid Tuhan merasa tidak perlu lagi mencuri perhatian sesamanya karena menyadari dan mengalami bahwa dirinya senantiasa diperhatikan Allah. Kalau Allah sudah memperhatikannya, apa lagi yang dicari selain berkata seperti pertapa tadi: ah, seandainya orang-orang tahu betapa Allah adalah Bapa yang memperhatikan mereka. Luangkan waktu untuk menyadari kehadiran Allah yang memperhatikan kita. Beri kesempatan Allah berbicara lewat firmanNya, bahwa kita dicipta untuk dicinta olehNya dan mencinta.

Solo Dio, basta: Hanya Tuhan dan itu cukup bagiku.

Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria melindungi

3 pemikiran pada “Pencuri dan Pertapa

  1. Tks Mo Ut… renungannya

    memang paling susah Mo.. menghilangkan keinginan agar nama dikenalin orang…
    kadang menjadi suatu kebanggaan ketika dalam pelayanan, kita dikenal banyak org, dipuji, dan disanjung2..
    tapi inilah yang harus pelan-pelan kita kikis, agar tidak merusak jiwa kita…
    dan semoga sperti Santa Teresa doakan dan Mo Ut tulis : Solo Dio, basta… Hanya Tuhan dan itu cukup bagiku… bisa merasuk dan menjiwai diri kita…
    dan kalo boleh saya tambahkan Mo… Seperti Yohanes Pembaptis berkata : Biarlah Dia semakin besar dan saya semakin kecil.. kita menyadari pelayanan yg kita lakukan bukan utk kemuliaan nama kita, tapi utk kemuliaan Tuhan…

    Tuhan Yesus Memberkati
    Bunda Maria Melindungi
    Amien…
    🙂

  2. Kadang….kita sibuk sendiri dan menjadi lupa akan kehadiran Allah yang senantiasa tak pernah absen mendampingi dan menolong kita…….

    Thanks mo…..buat renungannya yg indah……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s