PPerjalanan Para Majus: Menuju Makna Natal Sejati

 

 

 

 

 

Tidak mudah melepaskan diri dari cekikan Natal versi dunia pasar global dengan simbol-simbolnya yang terlanjur mengakar kuat di benak setiap anak dan yang menyajikan santapan segar untuk indra manusia: pohon pinus berhiaskan gantungan dan penerang beraneka warna, kakek ramah berjanggut putih yang membawa sekarung hadiah, aroma kue dan hidangan nikmat diiringi jingle yang memanjakan telinga dan pikiran. Seperti setiap iklan, komersialisasi Natal menawarkan dunia impian yang dapat digapai asal punya uang.

 

Bagi Thomas Stearns Eliot, Natal jauh dari belain musik syahdu dan hiruk pikuk perburuan hadiah. Penyair kelahiran St. Louis, Missouri, tahun 1888 ini memaknai Natal sebagai sebuah perjalanan, sebagaimana nampak dalam puisinya yang termasyur Perjalanan Para Majus (Journey of The Magi). Perjalanan menemukan Natal (Natal – Natus, Latin, – Kelahiran) ini bukanlah perjalanan yang mudah tetapi sebuah perjuangan menantang kesulitan:

 

dingin menimpa kami/musim terburuk tahun ini/untuk sebuah perjalanan, sebuah perjalanan teramat panjang.

 

Kesulitan pertama yang terungkap adalah kesulitan yang datang dari alam: musim dan hawa dingin yang menekan. Kesulitan dari alam ini dapat dimaknai sebagai perjuangan manusia untuk dapat mengendalikan alam, baik alam di luar maupun di dalam dirinya. Manusia adalah bagian dari alam. Ia justru menjadi manusia ketika tidak menyerah begitu saja pada tantangan dari alam luar maupun dorongan-dorongan spontan dari alam dalam dirinya. Apa yang bersifat alamiah perlu disadari dan diatur agar bersifat manusiawi. Inilah yang disebut budaya. Maka, hidup berbudaya adalah sebuah perjalanan dan perjuangan; adalah bagian dari Kelahiran manusia sebagai citra Allah yang menerima mandat untuk menguasai alam dan seisinya,  untuk menyempurnakan alam ciptaanNya.

 

Kesulitan yang datang dari alam bukanlah satu-satunya hambatan. Ketidaksetiaan para pengiring dapat menjadi godaan untuk meninggalkan jalan yang sudah dipilih:

 

Sais unta mengutuk dan mengeluh/dan lari mencari tuak dan perempuan

Tidak mudah untuk setia dalam kesendirian; ketika mereka yang biasa menjadi pengiring kini berbalik pergi untuk mengejar tujuannya sendiri. Tetapi, bagi peziarah sejati, ke mana harus pergi, kalau dunia lama tidak lagi memberi arti?

 

Ada masa yang kami sesali/istana-istana musim panas yang nyaman, teras-teras/dan para gadis berkain sutra menyajikan makanan

Peziarah sejati adalah mereka yang telah menemukan kehampaan di balik topeng kenikmatan dunia. Para majus termasuk golongan peziarah sejati ini. Menjaga kesadaran untuk tidak terbuai tawaran hampa dari dunia adalah senjata utama mereka untuk terus melangkah.

 

Para peziarah sejati adalah orang asing di setiap tempat yang mereka kunjungi. Bagi mereka, dunia pergaulan sehari-hari dapat jadi tidak begitu bersahabat:

 

Kota-kota penuh kebencian dan kampung-kampung tak ramah/Dan desa-desa kotor meminta harga tinggi:

Maka para peziarah sejati kerap merasa sepi sendiri seperti mereka yang berjalan di malam hari:

 

Akhirnya, kami memilih berjalan menembus malam,/ Tidur di gorong-gorong

Di tengah segala kesulitan itu, godaan paling besar justru datang dari dalam diri sendiri. Kata pepatah Cina, ada dua pencuri di dunia ini: pencuri dari luar dan pencuri dari dalam diri. Pencuri dari luar dapat dengan mudah diwaspadai. Tetapi pencuri yang tidak kasat mata, yang datang dari dalam diri, dapat merenggut cita-cita dan tujuan hidup secara perlahan dan sering di luar kesadaran:

 

Ditemani suara yang bernyanyi di telinga kami, yang mengatakan/Apa yang kami lakukan adalah kebodohan

 

Satu-satunya hiburan dan harapan di tengah perjalanan mencari Kelahiran diri yang sejati adalah salib Tuhan: Dia yang dapat memberi harapan di tengah penderitaan dan kematian adalah Dia yang telah sungguh-sungguh direnggut penderitaan dan kematian tetapi kemudian bangkit dan mengalahkan keduanya:

 

Ketika fajar menjelang di lembah yang hangat,/Dari balik kemilau salju, menyeruak aroma tetumbuhan;/Dengan gemericik sungai mengalir dan sebuah penggilingan yang memukul kegelapan,/Dan tiga batang pohon tegak menusuk langit rendah

 

Tetapi, perjalanan ini, peziarahan ini, ke mana membawa para majus? Kepada kematiankah atau kelahiran? Tentu perjalanan ini telah membawa para majus ke hadapan sebuah kelahiran, itu pasti. Tetapi, kelahiran yang mereka saksikan dan yang mereka cari adalah kelahiran yang sulit, penuh siksaan. Kelahiran ini sekaligus kematian mereka. Sekembalinya di istana masing-masing, para majus dicekam oleh kenyataan bahwa orang-orang di sekitar mereka sudah ‘mati’ secara rohani karena menyembah berhala. Para majus lebih memilih ‘kematian’ yang berbeda, yang mereka alami dalam perjalanan penuh kesulitan, Kematian yang membawa mereka pada Kelahiran, pada Natal:

 

Kami kembali ke istana kami masing-masing, ke kerajaan kami,

Tetapi tidak merasa nyaman lagi di sini, dalam kemapanan lama ini

Dengan bangsa asing yang melekat pada berhala mereka

Aku lebih berbahagia dengan kematian yang lainnya.

 

Banyak pengamat memaknai puisi Journey of the Magi ini sebagai cerminan dari pertobatan T.S Elito sendiri. Penyair yang pada mulanya tidak peduli entah Allah ada atau tidak ini akhirnya memberikan diri dibaptis dalam Gereja Anglikan. Keputusan ini tidak mudah karena banyak yang menentangnya, termasuk orang terdekat dalam hidupnya, yaitu istrinya sendiri. Karena keputusannya ini, T.S Eliot akhirnya berpisah dari istri pertamanya.

 

Natal adalah sebuah perjalanan, sebuah perjalanan teramat panjang dan penuh kesulitan. Natal adalah cerminan perjuangan rohani bagi mereka yang ingin kembali hidup suci. Puisi ini mengingatkan bahwa meraih kelahiran kembali bukanlah perkara gampang. Tetapi, Dia yang lahir untuk menderita adalah Dia yang juga menderita untuk jaya. Dalam KelahiranNya kita menemukan Kematian dosa-dosa kita.

 

Selamat Natal – Selamat Lahir Kembali

 

 

Perjalanan Para Majus

 

(Terjemahan lepas dari puisi Thomas Stearns Eliot: Journey of The Magi)

 

Dingin datang menimpa kami,

Musim terburuk tahun ini,

Untuk sebuah perjalanan, sebuah perjalanan teramat panjang:

Jalur berat dan cuaca tajam,

Di tengah musim dingin yang kejam.

Unta-unta kelelahan, kaki bernanah, hewan iklim panas

Duduk di hamparan salju meleleh.

Ada masa yang kami sesali

Istana-istana musim panas yang nyaman, teras-teras,

Dan para gadis berkain sutra menyajikan makanan.

Sais unta mengutuk dan mengeluh

Dan lari mencari tuak dan perempuan

Dan api malam padam dan tempat berteduh sulit ditemukan

Kota-kota penuh kebencian dan kampung-kampung tak ramah

Dan desa-desa kotor meminta harga tinggi:

Waktu yang sulit menimpa kami.

Akhirnya, kami memilih berjalan menembus malam,

Tidur di gorong-gorong

Ditemani suara yang bernyanyi di telinga kami, yang mengatakan

Apa yang kami lakukan adalah kebodohan.

 

Ketika fajar menjelang di lembah yang hangat,

Dari balik kemilau salju, menyeruak aroma tetumbuhan;

Dengan gemericik sungai mengalir dan sebuah penggilingan yang memukul kegelapan,

Dan tiga batang pohon tegak menusuk langit rendah,

Dan seekor kuda putih berderap menjauh di padang.

Lantas kami tiba di sebuah kedai minuman berhiaskan dedaunan anggur,

Di pintu yang terbuka enam tangan melempar dadu demi sejumlah uang perak

Dan kaki menyepak serbat anggur kosong.

Tetapi tiada keterangan kami dapatkan maka kami pun lanjut berjalan

Dan ketika hari petang, dengan susah payah

Kami menemukan tempat itu; rasanya (kau dapat mengatakannya) memuaskan.

 

Itu semua sudah teramat lama terjadi, masih kuingat selalu,

Dan kubersedia melakukannya lagi, tetapi

Kemana semua itu menuntun kami

Kelahiran atau Kematian? Ada sebuah Kelahiran, itu pasti,

Kami menyaksikannya sendiri dan tidak ragu lagi. Sudah kulihat kelahiran dan kematian,

Meskipun demikian, yang satu ini berbeda; Kelahiran ini

Begitu keras, pahit dan menyiksa kami, seperti Kematian, kematian kami sendiri.

Kami kembali ke istana kami masing-masing, ke kerajaan kami,

Tetapi tidak merasa nyaman lagi di sini, dalam kemapanan lama ini

Dengan bangsa asing yang melekat pada berhala mereka

Aku lebih berbahagia dengan kematian yang lainnya.

 

 

T. S. Eliot’s “Journey of The Magi”

 

‘A cold coming we had of it,
Just the worst time of the year
For a journey, and such a long journey:
The ways deep and the weather sharp,
The very dead of winter.’
And the camels galled, sore-footed, refractory,
Lying down in the melting snow.
There were times we regretted
The summer palaces on slopes, the terraces,
And the silken girls bringing sherbet.
Then the camel men cursing and grumbling
And running away, and wanting their liquor and women,
And the night-fires going out, and the lack of shelters,
And the cities hostile and the towns unfriendly
And the villages dirty and charging high prices:
A hard time we had of it.
At the end we preferred to travel all night,
Sleeping in snatches,
With the voices singing in our ears, saying
That this was all folly.

Then at dawn we came down to a temperate valley,
Wet, below the snow line, smelling of vegetation;
With a running stream and a water-mill beating the darkness,
And three trees on the low sky,
And an old white horse galloped away in the meadow.
Then we came to a tavern with vine-leaves over the lintel,
Six hands at an open door dicing for pieces of silver,
And feet kicking the empty wine-skins.
But there was no information, and so we continued
And arrived at evening, not a moment too soon
Finding the place; it was (you may say) satisfactory.

All this was a long time ago, I remember,
And I would do it again, but set down
This set down
This: were we led all that way for
Birth or Death? There was a Birth, certainly,
We had evidence and no doubt. I had seen birth and death,
But had thought they were different; this Birth was
Hard and bitter agony for us, like Death, our death.
We returned to our places, these Kingdoms,
But no longer at ease here, in the old dispensation,
With an alien people clutching their gods.
I should be glad of another death.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s