3 Perintis dari Miletus

Otak manusia dicipta untuk bertanya dan sebisa mungkin menemukan jawaban yang memuaskan. Sebuah pertanyaan yang tidak pernah padam dari zaman ke zaman adalah dari mana segalanya ini berasal? Banyak kalangan bersandar pada kisah-kisah suci tentang para mahluk supra-insani sebagai penyebab lahirnya semua ciptaan di alam ini. Namun demikian, pada pertengahan abad ke 6 SM, di kota Miletus muncul cara baru dalam melihat dan memahami asal segala sesuatu. Mungkin pada awalnya cara baru ini lahir bukan sebagai bentuk perlawanan atas kisah-kisah suci yang sudah ada. Lebih tepat dikatakan bahwa cara baru ini lahir sebagai ungkapan rasa kagum atas kenyataan semesta yang beragam namun tetap teratur adanya yang mendorong mereka untuk berpetualang secara intelektual: tidak begitu saja menerima penjelasan yang sudah ada tetapi berani membangun sendiri penjelasan yang masuk akal atas kejadian dan asal alam ciptaan.

Yang pertama dari ketiga tokoh dari kota Miletus ini adalah Thales. Beragam kisah menampilkan Thales sebagai seseorang yang haus akan ilmu pengetahuan. Ia mengamati segala hal yang nampak dan berusahan menyusun penjelasan tentang alam semesta berdasarkan apa yang ia amati. Atas pertanyaan dari mana semuanya ini berasal, misalnya, Thales menarik kesimpulan bahwa segala ciptaan pada dasarnya berasal dari air. Bisa jadi, ia menarik kesimpulan ini karena melihat bahwa segala yang hidup memerlukan air; makanan mahluk hidup pun banyak yang bersifat lembab atau basah, artinya, mengandung air. Benda-benda padat diyakininya berasal dari air seperti es yang padat adalah air yang membeku. Demikian juga udara, diyakininya datang dari air karena air yang dipanaskan akan mengudara dalam bentuk uap. Dengan demikian, Thales melihat adanya kesatuan unsur dasar dalam keanekaragaman wujud ciptaan. Satu dalam keragaman dan keragaman dalam satu.

 

Pengikut Thales, yaitu Anaximander, meneruskan metode sang guru: berpikir sendiri untuk menyusun penjelasan atas dunia yang bisa diamati ini. Namun demikian, berbeda dengan penjelasan Thales, Anaximander tidak dapat menerima bahwa air adalah ibu segala benda. Alasannya, sumber segala sesuatu harusnya tidak mengandung perlawanan dengan unsur-unsur yang dilahirkannya sementara air masih berlawanan dengan unsur api. Bagaimana menjelaskan api yang datang dari air, misalnya, kalau dalam kenyataannya api itu sendiri akan padam oleh air? Oleh karena itu, Anaximander berpikir bahwa sumber segala sesuatu itu bersifat tidak terbatas, tidak lekang di makan usia dan bukan bagian dari unsur-unsur alam yang sekarang diamati ini. Dalam unsur dasariah yang menjadi sumber segala benda ini tidak ada pertentangan dan perubahan. Lebih lanjut, Anaximander juga menjelaskan bagaimana proses lahirnya segala sesuatu dari bahan dasariah ini. Ia menggambarkan adanya sebuah gerakan yang memisahkan beragam unsur yang berbeda dari unsur dasariah ini. Segala yang bersekutu dengan unsur api akan terlontar jauh sementara unsur yang lebih padat seperti air dan tanah tetap tinggal di dunia dan unsur udara mengambil tempat di tengah-tengah. Yang cukup mengejutkan adalah teorinya tentang asal muasal manusia. Mendahului teori Darwin, Anaximander sudah berpikir bahwa semua hewan keluar dari samudera dan manusia dulunya adalah salah satu dari bangsa hewan ini.

 

Penerus Anaximander adalah Anaximenes. Dialah tokoh terakhir sekolah Miletus sebelum akhirnya kota itu dihancurkan pada pertengahan abad ke 5. Anaximenes lebih mengikuti Thales daripada Anaximander. Menurut Anaximenes, segala sesuatu datang bukan dari unsur dasariah yang tak terbatas, tak kenal waktu dan tak teramati, tetapi dari udara. Udara dapat diatur sedemikian sehingga mendingin dan menjadi air atau es (lihat bagaimana dari udara bisa muncul embun) dan memanas hingga menjadi uap dan api.

 

Bagi kita, jawaban mereka mungkin sudah usang dan ketinggalan zaman. Akan tetapi, sumbangan mereka yang paling besar bagi kemanusiaan bukanlah jawaban-jawaban yang mereka berikan melainkan keberanian mereka untuk berpikir dan menyusun jawaban sendiri atas pertanyaan tentang semesta alam. Merekalah perintis filsafat Yunani. Nama mereka akan terus disebut oleh para filsuf yang lahir sesudah mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s