Perjalanan Teologi: melalui dan melampaui akal budi_1

 

 

 

 

 

Dalam arti luas, yaitu sebagai pengetahuan dan permenungan akan iman, teologi tidak pernah meninggalkan ketajaman nalar yang berguna untuk membedakan kebenaran dari bayangan dan untuk membangun setiap pernyataannya di atas dasar prinsip-prinsip yang jelas dan bukan berdasarkan gagasan buta semata. Dengan demikian, teologi tidak pernah meninggalkan penggunaan akal kritis.

Pada masa Bapa-bapa Gereja sampai Abad Pertengahan, misalnya, para Pembela Iman (Apologist) mengolah isi dan metode permenungan beberapa filsof besar untuk mempertahankan ajaran iman yang benar dari serangan gagasan asing yang berkembang baik di dalam maupun di luar kawanan murid Tuhan. Gagasan dan metode Aristoteles, Plato maupun Stoa dipakai untuk menjelaskan dan membela keyakinan iman karena para Pembela Iman sedang berhadapan dengan dunia yang tidak begitu mengenal Kitab Suci tetapi sangat akrab dengan gagasan-gagasan filosofis. Pada masa Bapa-bapa Gereja sampai dengan Abad Pertengahan, pemikiran kritis dikembangkan terutama untuk menyampaikan dan mempertahankan ajaran iman dan bukan untuk mempertanyakan otoritas atau keabsahan warisan iman yang tersimpan dalam Kitab Suci dan Tradisi.

Di akhir Abad Pertengahan, muncul suatu pemahaman dan sekaligus cara baru dalam memahami dan mendekati kenyataan. Jika sebelumnya olah pikir yang terungkap dalam filsafat memegang peranan, sekarang pengamatan dunia fisik dan perhitungan matematika tampil ke muka sebagai kriteria utama untuk menentukan kebenaran. Galileo dan Francis Bacon memulai gerakan pemikiran ini. Descartes dan Spinoza memantapkannya lewat ‘kotbah’ mereka tentang prinsip matematis dan keraguan universal sebagai pisau operasi untuk memisahkan impian dari kenyataan. Segala hal yang tidak bisa diamati dan tidak bisa diukur adalah semu dan palsu. Dengan semangat ‘mempertanyakan segalanya’ untuk dapat mencengkeram apa yang sungguh-sungguh nyata, otoritas Kitab Suci dan Tradisi juga digugat. Tanpa pandang bulu, metode yang mereka terapkan untuk mempelajari kenyataan fisik, yaitu pengukuran dan pengamatan disertai perhitungan matematis, juga diterapkan untuk mengukur hal-hal rohani. Hasilnya tentu tidak begitu menguntungkan bagi penghayatan hidup keagamaan yang menyandarkan diri pada kenyataan spiritual.

Bagaimana reaksi para teolog di hadapan kerasnya metode baru ini, yang tidak memberi ruang gerak bagi sisi rohani dari kenyataan? Ada dua reaksi yang lahir dari para pemikir Kristen. Reaksi pertama yaitu memisahkan antara kenyataan fisik yang dapat dibedah oleh ilmu pengetahuan dengan daya kritis-analisisnya dan kenyataan rohani yang terkurung di dalam dunia batin-perasaan dan oleh karena itu tidak dapat dilihat dengan kacamata ilmiah. Reaksi ini mendapat dasar filosofisnya berkat pemikiran Immanuel Kant. Di satu sisi, iman dapat diselamatkan dari penghakiman ilmu pengetahuan modern tetapi di sisi lain ia terkurung dan dimiskinkan karena sekarang ia tidak lebih dari sekedar ungkapan emosi dan perasaan.

Reaksi lainnya adalah menggunakan hasil-hasil dan metode ilmu pengetahuan itu sendiri untuk mensahkan keberadaan iman dan sekaligus menyerang balik setiap pemikiran kritis-ilmiah yang meragukan iman. Reaksi ini berupaya sekuat tenaga untuk “mengilmiahkan” iman agar pantas diterima sebagai kebenaran. Dalam kenyataannya, kebenaran iman tidak bisa dibuktikan lewat serangkaian pengamatan di ruang penelitian. Cara ini juga memiskinkan makna iman yang sejati.

 

(Avery Dulles, The Craft of Theology: From Symbol to System, Cross Road, New York 1992, 3-5)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s