Dunia Bisnis dan Iman: Dua Dunia yang Berlawanan?

Setiap orang Kristen, apa pun profesinya, dipanggil untuk menjadi garam dunia. Artinya, dengan menjalankan profesi masing-masing menurut prinsip-prinsip yang berakar pada ajaran Tuhan, mereka sudah menjadi penabur anugerah iman, harapan dan kasih ke dalam dunia.

Salah satu profesi yang punya pengaruh kuat dalam kehidupan umat manusia adalah yang berhubungan dengan ekonomi. Dunia mereka ini biasa kita sebut sebagai “dunia bisnis” dan para pelakunya biasa dikenal sebagai “pebisnis atau penguasaha.” Dunia ini punya satu tujuan utama: keuntungan materi.

Pertanyaannya: apakah profesi sebagai pebisnis atau pengusaha dapat disandingkan dengan iman Kristen?  Bukankah Tuhan Yesus sendiri pernah menantang muridNya untuk memilih antara menjadi hamba Allah atau hamba uang alias Mammon? Dengan tantangan ini, Tuhan Yesus dan Gereja Perdana sudah mengundang setiap orang Kristen untuk waspada terhadap godaan uang.

Melihat tanda-tanda zaman sekarang ini, kecenderungan untuk sekedar mencari keuntungan materi begitu kuat, khususnya bagi para pengusaha.

Gejala yang disebut globalisasi telah meruntuhkan tembok-tembok penghalang kekuatan pasar sehingga modal dapat dengan mudah mengalir dan berpindah tempat. Gejala yang sama memungkinkan munculnya suatu cita rasa tunggal yang tentu sangat menguntungkan bagi pemasaran suatu produk. Jika keuntungan materi yang menjadi tuan, gejala globalisasi hanya menguntungkan pihak-pihak yang sudah siap dan lebih kuat dan melindas mereka yang tidak siap dan lemah.

Salah satu faktor utama pendorong globalisasi adalah kemajuan teknologi komunikasi yang begitu pesat. Dengan kemajuan ini, banyak hal dipermudah. Akan tetapi, efek negatif dari kemajuan ini adalah munculnya “banjir badang” informasi yang mempersulit pengambilan keputusan.

Belum lagi kecenderungan untuk mengkormersialisasikan setiap hal. Ketika ekonomi menjadi aspek terpenting dalam kehidupan, setiap hal punya harga, setiap hal diperdagangkan dan setiap hal dapat dibeli. Bukan hanya barang, sekarang tenaga kerja juga jadi bahan komoditi dalam pasar kerja. Bahkan, manusia pun diperdagangkan secara ilegal.

Dan akhirnya, ada kecenderungan kuat untuk menciptakan kebutuhan-kebutuhan yang bersifat individualis dan tidak begitu berarti bagi peningkatan kualitas hidup pribadi dan sosial. Sekali kebutuhan jenis ini tercipta, suatu pasar tersedia.

Berdasarkan apa yang saat ini kelihatan, apakah masih ada kesempatan bagi para pengusaha Kristen untuk berbisnis secara profesional (menguntungkan) di satu sisi tetapi sekaligus menaburkan firman Tuhan di sisi lainnya?

Tentu masih ada pintu terbuka untuk tetap berbisnis secara profesional tanpa meninggalkan praktek iman yang sejati. Syaratnya adalah menilai dan mengambil keputusan berdasarkan prinsip-prinsip Kristen. Misalnya:

-prinsip-prinsip yang berkaitan dengan produk dan lingkungan produksi: produk yang dihasilkan punya dampak positif bagi pribadi dan lingkungan produksi menghargai kelestarian alam dan budaya yang ada.

-prinsip-prinsip yang berkaitan dengan personal di lingkungan kerja: setiap orang yang terlibat dalam produksi mendapatkan penghargaan yang pantas dalam hal pendapatan, diberi kesempatan untuk belajar dan berkembang berdasarkan prinsip subsidiaritas dan penghargaan atas martabat dan harkat manusia (pekerjaan untuk manusia dan bukan sebaliknya).

-prinsip yang berkaitan dengan pembagian keuntungan: suatu usaha dinilai berjalan dengan baik bila memperhitungkan keuntungan bagi setiap pihak yaitu pengusaha, pekerja, pemegang saham dan masyarakat yang ada. Keuntungan dilihat bukan melulu dari segi materi tetapi juga manfaat rohani dari kegiatan bisnis yang dijalankan.

Setelah melihat dan menilai kini saatnya bertindak. Setiap pengusaha Kristen yang mengambil keputusan dan bertindak berdasarkan prinsip-prinsip yang diinspirasikan oleh ajaran Tuhan, adalah penabur sabda bahagia. Keuntungan materi tidak dinilai “haram” oleh Gereja karena tanpa keuntungan itu dunia usaha tidak dapat dijalankan dan manfaat ekonomi tidak dapat dibagikan kepada masyarakat. Yang penting adalah bagaimana keuntungan materi itu dicapai tanpa melupakan keuntungan lainnya yang bersifat rohani, sosial dan budaya.

Kesimpulannya: pebisnis Kristen yang menilai dan bertindak berdasarkan ajaran Tuhan adalah pengusaha profesional sekaligus garam dan terang dunia, khususnya dunia bisnis yang menjadi ladang garapan mereka.

Sumber: Dokumen dari Komisi Kepausan untuk Keadilan dan Perdamaian tentang Panggilan Para Pengusaha. (Dapat diunduh di sini:http://www.stthomas.edu/cathstudies/cst/conferences/Logic%20of%20Gift%20Semina/Logicofgiftdoc/FinalsoftproofVocati.pdf)

2 pemikiran pada “Dunia Bisnis dan Iman: Dua Dunia yang Berlawanan?

  1. Yuuuupppp mo….tantangan bagi orang Katolik,,,,di mana keuntungan materi secara jujur harus diimbangi dengan keuntungan bersifat rohani dengan cara berbagi kepada sesama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s