Religiositas Seorang Pelacur dalam Lagu “Azan Subuh Masih di Telinga”

Pelacur. Baru menyebutnya saja sudah membuat hati ini gelisah dihujam rasa bersalah. Untunglah masyarakat menciptakan beberapa istilah lain yang lebih santun untuk menunjuk salah satu profesi tertua dalam peradaban manusia ini, semacam kupu-kupu malam (lebih manis), perempuan malam (bermakna ganda), pekerja seksual komersial (biasa disingkat PSK) atau yang lebih jadul dan lebih sadis lagi: wanita tuna susila (biasa disingkat WTS). Ada satu istilah lagi yang untuk kebanyakan orang terdengar lebih kasar: lonte.

Kecenderungan memilah-milah istilah dan memilih untuk tidak menggunakan penyebutan yang berkesan kasar mau menunjukkan betapa profesi ini bersifat mendua: di satu sisi dihindari, diemohi dan bahkan dikutuki tetapi di sisi lain ternyata profesi ini sulit dihapus keberadaannya dari masyarakat manusia, khususnya masyarakat kota-kota besar. Tetapi sebenarnya, siapa yang ‘mendua’? Masyarakatnya atau profesinya?

Belakangan ini, dalam pembelaannya, ormas tertentu menggunakan istilah lain yang dikaitkan dengan profesi ini, yaitu maksiat. Dalam Kamus Bahasa Indonesia, maksiat mau menujukkan segala perbuatan yang melanggar hukum dan perintah agama, misalnya berjudi dan berzinah. Melacur dapat digolongkan ke dalam kelompok berzinah yang berarti berbuat maksiat. Kalau melacur disebut perbuatan maksiat, tempat-tempat pelacuran disebut tempat-tempat maksiat. Tidak seperti istilah pelacur yang menunjukkan ambiguitas atau kemenduaan dalam masyrakat, sebutan maksiat berkesan tunggal karena datangnya dari perintah Tuhan. Tidak ada tawar menawar lagi. Dosa atau tidak. Surga atau neraka. Titik. Oleh karena itu, untuk menjalankan perintah Tuhan, praktek maksiat ini harus dihapus.

Saya setuju bahwa pelacuran adalah perbuatan maksiat dan karena itu berdosa. Tetapi, bukankah orang mestinya dapat membedakan perbuatan dari manusianya? Perbuatannya bisa salah dan dihapus tetapi mestikah kita juga ‘menghapus’ orangnya? Bukankah nyawa orang di tangan Tuhan, termasuk nyawa pendosa? Perbuatannya jelas mesti kita kutuk tetapi siapa di antara kita yang berani menyatakan diri suci hingga berhak mengutuk pribadi-pribadi tertentu, termasuk para pelacur? Apakah kita sungguh yakin bahwa Tuhan tidak ada di dalam hati mereka juga?

Lantas saya teringat syair sebuah lagu yang menyandingkan kehidupan seorang pelacur dengan sikap religiositas atau perasaan keimanan-keterarahan hati pada Yang Maha Kuasa. Lagu yang saya maksud ini berjudul Azan Subuh Masih di Telinga yang dinyanyikan oleh Iwan Fals.

Lagu ini berkisah tentang seorang pelacur (yang dalam lagu tidak disebut nama dan profesinya secara eksplisit, tetapi pendengar dapat menduganya; perempuan itu disebut dengan perempuan satu) yang pulang ke rumah mana kala hari masih subuh. Sambil berjalan pulang, hatinya ditikam rasa bersalah karena pekerjaan yang baru saja dilakukannya. Gang sempit dan rumah-rumah yang berdesakan (simbol masyarakat pada umumnya?) seolah menuding dan menghakiminya. Tusukan rasa salah semakin dalam dan menyakitkan ketika ia tahu bahwa malam telah diganti pagi. Memang, belaian pagi yang bersih dan segar sempat menghibur hatinya tetapi ia segera sadar bahwa dengan datangnya pagi berarti kehidupan malamnya yang suram telah selesai dan kehidupan orang ‘normal, bersih dan terhormat’ akan dimulai. Kesadaran ini menciptakan perasaan diasingkan dan disingkirkan dari masyarakat dan kehidupan sosialnya. Hanya ada satu hal yang bukan saja tidak menghakiminya tetapi justru bersikap seperti seorang tetangga yang penuh pengertian: dendang subuh (lambang kehadiran Allah yang maha rahim?) yang tidak segan mampir ke hatinya yang keruh.

Tiba di rumah kontrakan, ia puaskan hatinya yang kering dihisap oleh rasa salah dengan doa-doa yang dilantunkan orang dari surau sebelah. Di sini nampak bagaimana si perempuan satu ini di satu sisi merasa dihakimi oleh masyarakat tetapi di sisi lain merasa butuh pengampunan dan dari mana datangnya pengampunan kalau bukan dari Tuhan? Oleh karena itu, begitu tiba di rumah, segera ia bersujud menyembah dan membiarkan hatinya dipenuhi oleh doa-doa yang mengalir dari surau dekat rumah sewaannya (nampaknya, dalam syair ini, perempuan satu tidak berani masuk ke surau di subuh itu). Dan sejuknya azan serta doa-doa subuh itu masih masih terasa meski mentari sudah sampai di pucuk kepala.

Lagu pun berlanjut berkisah. Suara ramai anak-anak sekolah mengayun pikirannya bernostalgia ke masa mudanya ketika perempuan satu masih segar, murni dan bersih; saat ia masih muda dulu. Inilah saat-saat penuh kebahagiaan. Kenangan itu pun mengajaknya untuk menari di depan cermin yang tidak lagi utuh. Mendadak, kebahagiaannya dalam kenangan dan tarian itu dihentikan oleh tegur anak (gadis?)nya yang baru pulang sekolah. Menatap sang anak, hati perempuan ini pun semakin tersayat rasa salah. Bisa jadi, ia bertanya dalam hati: bagaimana nasib anaknya nanti? Apakah anaknya ini juga harus menempuh jalan hidup seperti yang sedang ia jalani? Sampai di sini, lagu berhenti.

Sekarang, mari kita simak syair lagunya:

Ketika fajar menjelang
Terlihat dia melangkah enggan
Seirama dengan dendang subuh
Yang singgah di hati keruh

Sempit jalan berdesak bangunan
Memandang sinis mendakwa bengis
Perempuan satu dan hitamnya waktu

Dihapusnya gincu dengan ujung baju
Dibuangnya dengus birahi sejuta tamu

Hari pagi menyambut kau kembali
Mengusap nadi mengelus hati
Sesal di hatimu kian mengganggu

Kau reguk habis semua doa doa
Dari surau depan rumah yang kau sewa
Tak terasa surya duduk di kepala
Azan subuh masih di telinga

Terdengar renyah tawa gadis sekolah
Menyibak tabir cerita lama
Didepan retaknya cermin yang telah usang
Menari dia seperti dahulu

Terdengar pelan ketuk pintu
Tegur anakmu buyarkan lamunan
Perempuan satu kian terbelenggu

Dihapusnya gincu dengan ujung baju
Dibuangnya dengus birahi sejuta tamu

Mereka yang disebut pelacur juga manusia, yang butuh diterima, butuh dikasihi dan mengasihi, dan butuh Tuhan. Siapa yang dapat menaruh rasa kasih dan kebutuhan akan Tuhan kalau bukan Tuhan sendiri? Kalau rasa kasih dan iman itu ada di hatinya, bukankah berarti Tuhan sendiri sudah lebih dulu hadir di sana, bersama dengan dendang subuh yang berkenan mampir di hatinya?

Rumah sewaan di gang sempit dan petak-petak tempat tinggal yang saling berhempit, ditambah cermin usang yang sudah retak menggambarkan situasi sosial ekonomi si perempuan satu: ia hidup sebagai orang tidak punya. Gambaran ini melesakkan satu pemikiran dalam budi kita: bahwa mereka ini telah disudutkan oleh desakan kebutuhan ekonomi, demi perut terisi dan biaya pendidikan anak yang dicintai dan sulit menemukan alternatif lainnya selain menjalani profesi yang dicap maksiat ini. Ada semacam lingkaran setan: miskin jadi tidak bisa sekolah, tidak bisa sekolah jadi bodoh, bodoh jadi tidak bisa mendapat kerja, tidak bisa mendapat kerja jadi miskin, dan begitu seterusnya. Maka, upaya memutus lingkaran setan kebodohan dan kemiskinan (plus kurangnya gizi) ini jelas lebih berguna daripada mengutuki mereka sebagai pendosa.

Ville-Lumière, 19 Februari 2012

Iklan

Satu pemikiran pada “Religiositas Seorang Pelacur dalam Lagu “Azan Subuh Masih di Telinga”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s