Kemerdekaan Batin dan Kemerdekaan Bangsa

HARI RAYA
KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA

Seseorang terjatuh ke dalam lubang yang dalam dan mengalami luka parah. Setiap orang yang lewat dan melihat orang malang tersebut berhenti dan masing-masing memberikan komentarnya:

Seorang filsuf berkata, “Saudara tidak rasional. Seharusnya saudara bisa melihat lubang ini dan menghindarinya.

Seorang pastor berkata, “Anakku, engkau pasti sudah berbuat dosa.

Seorang ilmuwan berhenti dan mengukur kedalaman lubang tersebut.

Seorang jurnalist melakukan wawancara tentang rasa sakit dan derita orang malang tersebut.

Seorang ahli yoga berucap, “Lubang ini hanya buah pikiranmu, seperti rasa sakit yang kau alami sekarang ini.”

Seorang dokter melemparkan dua butir aspirin.

Seorang jururawat menangisi orang tersebut dari tepi lubang.

Seorang psikolog melakukan analisa untuk menghubungkan peristiwa jatuhnya orang malang tersebut dengan masa kecilnya dulu.

Seorang penganut New Age dan pembaca setia The Secret berkata, “Kalau Anda mau, Anda bisa.

Seorang optimis berujar, “Untung cuma luka kaki, bukan patah kaki.”

Seorang pesimis berkomentar, “Wah, bisa tambah parah lukanya.”

Lalu, seorang anak lewat dan mengulurkan tangan pada orang malang itu…

Hari ini bangsa Indonesia merayakan hari kemerdekaannya. Dari kaca mata iman, perayaan ini menjadi kesempatan untuk bersyukur atas rahmat kemerdekaan. Bentuk syukur atas rahmat itu dapat diungkapkan dengan menggunakan kemerdekaan itu untuk hidup sebagai hamba Allah dan bukan untuk menyelubungi perbuatan-perbuatan yang jahat.

Kisah sederhana di atas merupakan salah satu contoh bagaimana kebebasan dipakai untuk menutupi kejahatan orang-orang yang lewat tanpa berbuat sesuatu pun: mereka berkomentar banyak sesuai keahliannya. Tapi, komentar mereka semuanya hanyalah selubung untuk menutupi keengganan mereka mengulurkan tangan bagi orang yang menderita. Kemalasan, ketidakpedulian, kejahatan dapat ditutupi dengan banyak hal, termasuk dengan hal-hal yang dianggap suci sekalipun!

Orang-orang Farisi, dalam bacaan Injil, juga menggunakan kemerdekaan mereka untuk menyelubungi perbuatan-perbuatan mereka yang jahat. Satu-satunya tujuan yang mereka kejar adalah kemuliaan dan kehormatan mereka sendiri melalui cara hidup yang kelihatan alim dan suci di mata orang. Yesus membongkar selubung kesucian ini dan memperlihatkan kepada orang banyak kejatahan yang ada di baliknya. Itu sebabnya, orang-orang Farisi tidak suka dengan Yesus dan ingin mencelakakanNya.

Diam-diam mereka merancang jebakan untuk Yesus. Pelaksanaannya diserahkan kepada orang lain, yaitu para murid dan orang-orang dari kelompok Herodian. Dan jebakan itu dieksekusi dengan cara yang lihai: dimulai dengan pujian, dengan harapan Yesus bisa terbuai atau terprovokasi untuk menjawab dari sudut pandang mereka dan kalau itu terjadi…jret! Yesus pun terjerat kata-kataNya sendiri.

Mereka mengharapkan Yesus untuk menentang kaisar, sebab membayar pajak merupakan ungkapan ketaatan padahal orang Israel hanya boleh taat pada Allah, Raja mereka yang sejati dan bukan pada kaisar yang berasal dari bangsa kafir. Kalau Yesus terbuai bujuk rayu mereka, Yesus akan dengan mudah diseret ke pengadilan negri dengan tuduhan makar terhadap pemerintahan kolonial Romawi.

Tetapi Yesus anti bujuk tipu rayu manusiawi. Dia mengenal hati manusia. Hanya mereka yang menyerahkan hatinya pada Allah dan hidup sebagai hamba Allah, bukan hamba uang, harta, atau hormat dan kuasa, dapat sungguh-sungguh memujiNya. Berikan pada Kaisar apa yang menjadi hak kaisar dan pada Allah apa yang menjadi hak Allah.

Orang beriman yang sungguh-sungguh menjadi hamba Allah akan mampu memberikan sumbangan yang tepat kepada masyarakatnya. Sebab, orang semacam ini tahu membedakan ambisi pribadi dari kegiatan sosial kemasyarakatan. Ia dapat melakukan amal bakti bagi negeri atau memberikan kritik bagi pemerintahan dengan niat murni: demi kehidupan berbangsa yang lebih baik dan bukan mencari nama baik. Ia juga tidak menutupi ketidakpeduliannya pada masalah sosial dengan alasan agama dan hal-hal suci.

Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria melindungi

Lisieux, 17 Agustus 2012

Merdeka!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s