Si Bukan Siapa-siapa

Seluruh penghuni istana siap menyambut sang raja. Tiba-tiba, tampillah seorang Fakir-Sufi yang berjalan di tengah barisan seluruh penghuni istana dan duduk di atas singgasana sang raja. Melihat hal itu, perdana menteri naik darah dan menegur sang Fakir-Sufi:

Hai, orang miskin, pikirmu dirimu itu siapa hingga berani berbuat demikian? Kamu pikir kamu itu seorang menteri?

Si Fakir-Sufi menjawab: Bukan, saya lebih dari seorang menteri.

Lebih dari seorang menteri? Kamu pikir kamu perdana menteri? TIdak mungkin sebab sayalah sang perdana menteri di kerajaan ini

Ooo, tenang. Saya lebih dari seorang perdana menteri.

Lebih dari perdana menteri? Kamu pikir dirimu yang dipertuan agung raja negeri ini?

Hahaha, saya lebih dari seorang raja

Seorang kaisar?

Bukan, lebih dari seorang kaisar

Seorang nabi?

Saya lebih dari seorang nabi

Kamu pikir kamu itu Tuhan

Lebih dari Tuhan

Hah, kamu gila, tidak ada siapa-siapa di atas Tuhan

Tepat, itu lah saya, si  bukan siapa-siapa

Dalam hidup sehari-hari, jati diri seorang pribadi kerap dilekatkan pada sesuatu yang bernilai duniawi: entah itu prestasi, kemampuan, bakat, kekayaan, nama baik, jabatan, gelar dan sebagainya. Sedemikian umumnya praktek itu sehingga tanpa sadar, orang menerima begitu saja bahwa keberadaan dirinya atau diri orang lain dinilai berdasarkan hal-hal duniawi tadi.

Dalam bacaan pertama, dari kitab Yehezkiel, orang Israel yang sedang dalam pembuangan di Babilon memaknai hidup mereka berdasarkan ukuran duniawi: bahwa pembuangan yang kini sedang mereka alami adalah buah dari dosa nenek moyang mereka. Mereka menyamakan begitu saja tradisi manusiawi yang terungkap dalam peribahasa ayah yang makan buah asam dan anak yang ngilu giginya dengan kebijaksanaan ilahi. Melalui nabi Yehezkiel, cara pandang itu dikoreksi. Kebijaksanaan ilahi tidak dapat disamakan begitu saja dengan tradisi manusia. Butuh refleksi dan waktu yang panjang untuk sampai pada pemurnian cara pandang seperti itu.

Dalam bacaan Injil, Tuhan Yesus juga mengoreksi cara pandang para murid. Di mata para murid, anak-anak hanya menimbulkan gangguan dan kekacauan. Oleh karena itu, mereka tidak punya tempat di mata Tuhan untuk menerima berkatNya. Anak-anak di sini mewakili kelompok murid Yesus dalam komunitas Matius yang kurang diperhitungkan. Pada saat Injil ditulis, komunitas Matius di Antiokhia di ambang perpecahan. Beberapa kelompok mengklaim ajarannya sebagai yang paling benar. Dalam suasana seperti itu, kebenaran diidentikkan dengan kemampuan mengolah kata dan kemampuan mempengaruhi yang lainnya. Tentu, kelompok yang kurang berkuasa dan kurang berkemampuan akan dianggap kurang benar dan disingkirkan.

Tuhan Yesus mengkoreksi pendapat itu. Di mata Allah, justru yang nampak lemah menurut kriteria dunia menjadi yang paling besar di hadapanNya. Merekalah yang memiliki Kerajaan Surga. Untuk memahami ajaran Yesus, perlu menjadi si bukan siapa-siapa di mata dunia agar bisa menjadi putra-putri Allah dalam Kerajaan Surga.

Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria melindungi

Lisieux, 17 Agustus 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s