Santapan Yang Memuaskan Hati Manusia…

Hari Minggu Biasa Ke XX

Seorang pengemis mendatangi istana kaisar dan mengajukan sebuah tantangan. Sang kaisar menerima sang pengemis di tamannya dan bertanya padanya: “Tantangan apa yang hendak kauajukan.”  “Hamba menantang yang mulia untuk mengisi mangkuk hamba ini dengan barang-barang berharga.” Sang kaisar pun menyahut: “Sebuah tantangan yang mudah. Kuterima tantanganmu.”

Segera sang kaisar menyuruh seorang hambanya memenuhi mangkuk kecil sang pengemis dengan butiran emas. Ajaib! Begitu memenuhi mangkuk kecil di tangan pengemis itu, butiran emas itu raib seketika. Kaisar menjadi gusar. Ia memerintahkan para hambanya untuk mengosongkan gudang hartanya dan mengisi mangkuk itu dengan emas, berlian dan permata. Hal yang sama terulang sampai tiada benda berharga tersisa di istana kaisar.

Dalam kegusaran, kaisar pun bertanya: “Bagaimana semuanya terjadi? Mangkuk apa ini?” ” Mangkuk ini,” jawab sang pengemis itu, “mangkuk ini adalah hati manusia.”

Keinginan hati tiada batasnya. Ia selalu meminta lebih. Segala hal yang berharga dan menyenangkan tiada pernah dapat memuaskannya. Syukurlah, dari kaca mata iman kita mengetahui bahwa hati manusia bersifat demikian karena ia diciptakan untuk keabadian dan hanya yang abadi yang dapat memuaskannya.

Dalam kitab Amsal kita baca bahwa orang dapat berbahagia karena memiliki hikmat yang lebih berharga dari emas, perak, permata atau apa pun yang diinginkan hati manusia (Ams. 3: 13-15). Hikmat di sini bukanlah hikmat manusiawi tetapi Sang Hikmat yang bersama-sama Allah menciptakan langit dan bumi (Ams. 3: 19). Hikmat inilah yang mengundang manusia untuk berpesta dengan menyantap roti dan meminum anggur yang dihidangkannya (Ams. 9:5). Menyantap roti dan meminum anggur yang disediakan sang Hikmat berarti mengambil bagian dalam hikmat atau kebijaksanaan ilahi; hidup menurut kebijaksanaan Allah dengan mengikuti jalan pengertian dan membuang kebodohan (Ams. 9:6).

Tentu kebodohan di sini bukanlah kebodohan intelektual tetapi kekerasan hati yang ingin tetap menikmati hidup dalam dosa. Orang bilang dosa itu seperti luka yang menimbulkan rasa gatal di kulit. Enak untuk digaruk tetapi akibatnya luka itu akan bertambah besar.
Demikianlah kebodohan dosa: walau tahu berakibat buruk tetapi tetap terus dibuat karena memberikan kesenangan.

Apa yang tertulis dalam Perjanjian Lama adalah persiapan untuk karya Allah yang lebih besar dalam Perjanjian Baru. Sang Hikmat yang dilukiskan dalam kitab Amsal menjadi manusia dalam pribadi Yesus. Yesus lah kebijaksanaan ilahi yang menjadi manusia untuk mengundang kita ikut serta dalam perjamuanNya: Ekaristi. Berpartisipasi dalam Ekaristi berarti ambil bagian dalam sabda Yesus, dalam hidupNya, kebijaksanaanNya dan juga keilahianNya. Itulah yang kita terima ketika kita menyambut komuni.

Singkat kata, menyambut komuni berarti menjadi satu dengan Tuhan yang adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup. Kita buang kebodohan dosa dan berjalan mengikuti pengertian ilahi. Itulah makanan rohani bagi hati dan sukma kita. Sebagaimana tubuh memerlukan makanan, demikian juga rohani kita memerlukan santapan agar terus hidup dan berkembang. Santapan utama bagi kehidupan rohani kita yang memuaskan hati kita, adalah Ekaristi.

Santa Teresa dari Kanak-kanak Yesus pernah menulis: Engkau tahu betapa tak berartinya diriku Tuhan, oleh sebab itu Engkau tiada takut menjadi demikian kecil untuk mengunjungiku; oh Sang Roti Agung, datanglah memenuhi hatiku, datanglah sebab hatiku terus merindukanmu…

Bersama Santa Teresa, kita dapat berdoa agar semakin hari hati kita semakin membiarkan diri dicintaiNya agar kita dapat membalas cintaNya dan semakin merindukanNya.

Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria melindungi

Lisieux, 19 Agustus 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s