Pencuri Kehidupan Abadi

Seorang pria muda datang kepada guru spiritualitas. Ia mengungkapkan keinginannya untuk meraih kesempurnaan hidup. Setelah diyakinkan akan keteguhan hati pemuda itu, sang guru memberinya petunjuk, “Pergilah ke Himalaya. Di sana ada sebuah biara. Jumpai kepala biara di sana dan ajukan keinginanmu. Ingat, kau hanya bisa mengajukan satu keinginan.” Pemuda itu pun berangkat ke Himalaya.

Sampai di biara yang dimaksud, ia harus menunggu untuk bertemu sang kepala biara. Hatinya membara untuk meminta kesempurnaan hidup kalau nanti berjumpa dengan pimpinan biara. Begitu tiba gilirannya, ia pun masuk ke tempat kepala biara berdoa. Matanya terbuka lebar dan mulutnya menganga begitu berjumpa dengan kepala biara, karena rupanya pimpinan biara itu adalah seorang wanita muda yang begitu cantik. Kepala biara pun bertanya, “Anak muda, silahkan, ajukan keinginanmu.” Masih dalam kekaguman, pemuda itu pun menyahut, “Kalau boleh tahu, nomor telpon Anda berapa?”

Pepatah Cina mengatakan bahwa ada dua jenis pencuri di dunia ini. Jenis pertama adalah pencuri di luar diri manusia. Jenis kedua, yang jauh lebih berbahaya, adalah pencuri di dalam diri manusia. Jenis pencuri yang terakhir ini seringkali beraksi dalam wujud keinginan-keinginan terdalam yang sontak muncul manakala seseorang dalam keadaan tak waspada.

Dalam bacaan pertama, masa depan iman dan panggilan bangsa Israel nyaris dicuri habis oleh jenis pencuri kedua tersebut. Tinggal di pembuangan Babilonia adalah kesempatan bagi bangsa Israel untuk memperdalam iman mereka, untuk mengasah kepekaan mereka akan cara Allah mendidik dan menuntun mereka dan untuk memurnikan cinta mereka padaNya. Namun, kesempatan itu nyaris direnggut oleh keinginan mereka untuk merasakan kembali kejayaan semu upacara agama di Bait Allah yang megah. Mereka tergoda untuk terus bernostalgia tentang indah dan semaraknya liturgi suci di Yerusalem, lupa bahwa saat ini Allah sedang mendidik mereka.

Nabi Yehezkiel diutus untuk mengingatkan bangsa Israel agar per-hati-annya tidak dicuri oleh keinginan suci yang semu. Hidup sang nabi sendiri menjadi pesan: sebagaimana nabi tidak akan dapat berjumpa lagi dengan istrinya yang mati demikian juga bangsa Israel tidak akan dapat melihat lagi Bait Allah karena sebentar lagi akan dihancurkan. Sebelum mereka kembali ke Tanah Suci, hati mereka harus dimurnikan dulu. Pemurnian itu terjadi selama mereka berada di pembuangan. Dan kesempatan pemurnian itu harus dijaga.

Pencuri yang sama beraksi juga dalam diri anak muda yang mencari hidup kekal. Ia datang pada Tuhan Yesus meminta petunjuk untuk sampai ke keabadian. Dan Sang Sabda yang menjadi manusia pun memberikan petunjukNya: ikutilah Aku. Ya, hukum yang diberikan Allah melalui Musa adalah persiapan untuk menerima Hukum Utama, yaitu Tuhan Yesus sendiri. Mengikuti Tuhan Yesus berarti menerima Sang Hukum, Sang Kebijaksanaan, Sang Kebenaran. Hukum itu menjadi pribadi.

Sayang beribu sayang, kesempatan mengikuti Tuhan dicuri oleh keinginan akan harta dan kekayaan. Tuhan Yesus tidak membenci harta dunia. Ia mengutuk perbudakan yang lahir karena keinginan dan cinta yang berlebihan akan kekayaan. Seperti pernah ditulis oleh St Kristostomus: hati yang terikat pada harta adalah hati yang paling miskin sebab ia menolak harta terbesar yang ditawarkan kepada manusia, yaitu Sang Hidup itu sendiri.

Bagi kita saat ini, di depan Sang Sabda, mari kita bertanya: Tuhan, keinginan apa yang ada dalam diriku saat ini, yang menghalangiku untuk mencintaiMu di atas segala-galanya?

Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria melindungi

Lisieux, 20 Agustus 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s