Lubang Jarum Hati untuk Benang Kasih Allah

Selasa dalam Minggu Biasa XX

Kerap kuberpikir bahwa anak kecil juga dapat membahagiakan kedua orang tuanya ketika ia terlelap tidur; seringkali pula kumerenung bagaimana para dokter membius pasien mereka supaya dapat melakukan operasi untuk menyembuhkannya; akhirnya, aku sampai pada pemikiran bahwa Allah melihat kerapuhan diri kita masing-masing dan ingat kalau kita ini debu belaka…

St Teresa dari Kanak-kanak Yesus

Seorang rekan pastor pernah berolok: Manusia itu abu yang berjas dan berdasi, yang berbatik, yang berkaca mata, yang berhias… Gambaran yang tepat. Dalam konteks bacaan hari ini, bisa ditambahkan: Manusia itu abu yang diberi kecerdasan oleh Tuhan.

Ketika manusia lupa bahwa dirinya hanyalah debu di mata Allah, kecerdasan yang diterimanya bisa mengubahnya menjadi monster: dengan kecerdasannya ia bisa memperdaya sesamanya untuk kepentingan dirinya atau memporak-porandakan alam demi kepuasan nafsunya. Itulah yang dibuat raja Tirus sebagaimana ditampilkan dalam bacaan pertama hari ini.

Nabi Yehezkiel menjatuhkan tuduhan bahwa raja Tirus yang memang cerdas dan bijaksana telah menyalahgunakan kebijaksanaannya itu untuk memperkaya dirinya dan untuk mengangkat dirinya setara dengan Allah (Yeh. 28:2-5). Yang ditunggu oleh orang yang sombong dan tamak hanyalah kejatuhan. Dan benar, akhirnya, Tirus dan kerajaannya dihancurkan oleh suatu bangsa yang menjadi kegentaran banyak kerajaan (Yeh. 28:7), yaitu kerajaan Babilonia di bawah raja Nebukadanozor.

Vonis yang diucapkan nabi bukan pertama-tama untuk raja Tirus tetapi seperti permainan biliard, penghakiman itu diserukan agar bangsa Israel merenung: kalau mereka sekarang berada di pembuangan, tentu ada jejak-jejak kesombongan yang pernah mereka buat. Apakah karena merasa diri sebagai bangsa terpilih lalu bangsa Israel memandang diri lebih tinggi dari bangsa lainnya dan terjebak dalam nasionalisme sempit? Dan bukankah nasionalisme sempit macam ini yang menghalangi mereka untuk percaya pada Allah dan mengikuti tuntunan para nabi utusanNya?

Dalam bacaan Injil hari ini, Tuhan Yesus menyerukan satu bentuk kemiskinan total di hadapan Allah: bukan memusuhi harta tetapi menjauhi keinginan buas akan harta yang bisa menjauhkan manusia dari kebijaksanaan ilahi. Harta di sini tidak terbatas pada harta material tetapi setiap keinginan yang ada di dalam hati manusia.

Allah tidak pernah memaksa manusia untuk ikut serta dalam kebijaksanaanNya. Ia rela menjadi kecil dan halus, sekecil dan sehalus benang jahit agar dapat menerobos hati manusia. Akan tetapi, kalau hati manusia sendiri disesaki oleh keinginan tak teratur, hati itu laksana lubang jarum yang tertutup lubangnya: benang setipis apa pun jadi tidak bisa memasukinya.

Syukurlah Allah itu maha kasih: apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah. Ia sanggup mengubah hati yang keras dan tertutup menjadi hati yang lembut dan terbuka lebar asalkan manusia mau bekerja sama denganNya. Para rasul menjadi teladan kita. Meski mereka lemah, meski hati mereka diselimuti berjuta keinginan duniawi seperti renovasi kejayaan kerajaan Israel, mereka mau mengikuti Yesus.

Sebagai imbalannya, orang-orang yang tidak terdidik di mata para ahli agama ini akan menjadi hakim bangsa terpilih: bukan para nabi, bukan para raja Israel, tetapi para murid Yesus yang notabene mantan nelayan, pemungut cukai, atau pemberontak, mereka inilah yang menjadi orang-orang bijaksana, para hakim, yang duduk bersama Yesus untuk menghakimi ke 12 suku Israel.

Marilah kita jaga keterbukaan hati kita untuk Tuhan yang rela menjadi kecil agar bisa masuk ke dalam batin kita. Biarkan diri kita menjadi orang-orang bijak di mata Allah dengan menjadi miskin di mata dunia.

Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria melindungi

Lisieux, 21 Agustus 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s