Makna Istilah Tanda-tanda zaman dalam Gaudium et Spes (1)

 

 

 

 

 

 

 

Pendahuluan (*)

Pernah ada suatu masa ketika istilah Tanda-tanda zaman sempat membanjiri percakapan, pengajaran, seminar dan diskusi yang ada kaitannya dengan panggilan Gereja di dalam dunia. Jejak ketenaran istilah yang melekat erat dengan konstitusi pastoral Vatikan II, Gaudium et Spes, itu masih dapat ditemukan dalam majalah kebudayaan Basis. Oleh penggagasnya, yaitu Romo Dick Hartoko, kolom Editorial Basis diberi judul Tanda-tanda zaman atau biasa disingkat TTZ. Kalau tidak salah, judul itu masih dipertahankan sampai saat ini.

Dari sudut pandang sejarah, istilah Tanda-tanda zaman (signa temporum, latin) masuk ke dalam perbendaharaan kosa kata konsiliar berkat Paus Yohanes XXIII yang mempopulerkannya lewat ensikliknya Pacem in terris dan bulla Humanae Salutatis.

Mungkin belum banyak pihak yang mengetahui bahwa statistik penggunaan istilah Tanda-tanda zaman dalam dokumen Konsili Vatikan II tidak sebanding dengan tingkat popularitasnya. Dalam kenyataannya, istilah tersebut hanya digunakan satu kali dalam seluruh dokumen Konsili Vatikan II, yaitu dalam artikel 4 konsititusi pastoral Gaudium et Spes. Beberapa dokumen lainnya memang menggunakan istilah yang sama tetapi pengertian yang dikandungnya berbeda (**).

Maka, pertanyaannya sekarang adalah: pesan apa yang dibawa oleh istilah Tanda-tanda zaman yang nampaknya semakin lama semakin jarang digunakan itu? Apakah masih terbuka pintu harapan bagi kembalinya salah satu kosa paling khas dari Konsili Vatikan II dalam percakapan Gerejawi?

Undangan untuk merenungkan kembali istilah Tanda-tanda zaman ini merupakan bentuk sederhana untuk mengenang pesta emas dibukanya konsili ekumenis terbesar dalam sejarah Gereja (dihadiri lebih dari 2000 uskup dari seluruh dunia dan ratusan teolog dari dalam maupun luar Gereja Roma Katolik).

Dua Penafsiran

Kalau membatasi diri pada dokumen Gaudium et Spes, kita dapat menemukan dua makna dari ungkapan Tanda-tanda zaman. Makna pertama dijelaskan dalam artikel 4: Untuk menunaikan tugas seperti itu, Gereja selalu wajib menyelidiki tanda-tanda zaman dan menafsirkannya dalam cahaya Injil (…) Maka perlulah di kenal dan difahami dunia kediaman kita beserta harapan-harapan, aspirasi-aspirasi dan sifatsifatnya
yang sering dramatis.

Artikel 4 menjabarkan Tanda-tanda zaman sebagai sifat-sifat dramatis dunia kediaman kita berikut harapan-harapan dan aspirasi-aspirasinya. Dengan kata lain, Tanda-tanda zaman adalah sifat dramatis dunia kita yang mengungkapkan aspirasi atau harapan saat ini. Dengan demikian, tidak setiap kejadian duniawi dapat diberi lebel Tanda-tanda zaman. Hanya kejadian yang membawa ciri dramatis yang mengandung ungkapan terdalam manusia kontemporer yang dapat menyandang gelar Tanda-tanda zaman.

Sebagai contoh: seorang pemuda Tunisia yang putus asa karena kesulitan ekonomi, membakar dirinya di sebuah lapangan umum sebagai aksi protes kepada pemerintah yang dituduhnya tuli dan buta atas penderitaan rakyat. Satu kejadian kecil ini memiliki sifat dramatis dan simbolis dan menggerakkan gelombang demokratisasi di negara-negara Arab. Satu contoh dari dalam negeri: melubernya warga yang membentengi gedung KPK kali lalu merupakan kejadian yang bersifat dramatis sekaligus simbolis yang mengungkapkan kerinduan rakyat akan terwujudnya tata-tata kelola pemerintahan yang bersih dan adil.

Artikel 11 menafsirkan secara berbeda istilah yang sama: Umat Allah (…) berusaha mengenali dalam peristiwa-peristiwa, tuntutan-tuntutan serta aspirasi-aspirasi yang mereka rasakan bersama dengan sesama lainnya pada zaman sekarang ini, mana sajakah dalam itu semua isyarat-isyarat sejati kehadiran atau rencana Allah. Artinya, menurut artikel 11, Tanda-tanda zaman adalah isyarat-isyarat sejati kehadiran atau rencana Allah dalam sejarah. Dengan kata lain, Tanda-tanda zaman lebih dari sekedar peristiwa dunia tetapi menjadi sarana perwahyuan kehadiran Allah.

Pertanyaannya: penafsiran mana yang benar? Apakah Tanda-tanda zaman itu pertama-tama merupakan peristiwa dunia kita atau dapat langsung dilihat sebagai tanda kehadiran dan penyertaan Allah?

(bersambung ke bagian 2)

Paris, Kamis, 18 Oktober 2012

(*) Tulisan ini adalah ringkasan dari seminar hari Selasa, tgl 16 Oktober 2012, dari mata kuliah tentang membaca dan menafsirkan Konsili Vatikan II, di Fakultas Teologi Fundamental Institut Katolik Paris. Artikel yang digunakan sebagai sumber adalah: Gilles ROUTHIER, “Les Signes du Temps” Fortune et Infortune d’Une Expression du Concile Vatican II, Transversalités, avril-juin, n° 118, p. 79-102.

(**) Misalnya dalam Presbyterorum Ordinis n°9 dan juga Unitatis Redintegratio n° 4.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s