Perayaan Natal di Konsulat RI, Marseille

Allons enfants de la Patrie

Le jour de gloire est arrivé….

(Marilah putra-putri bangsa

hari kemuliaan telah tiba…)

Potongan syair lagu kebangsaan Perancis ini melintas di benak saya begitu sepasang kaki ini melangkah keluar dari kereta yang selama tiga jam membawa saya dari Paris ke kota kosmopolitan…Marseille! Apa hubungannya lagu kebangsaan negeri berlambang ayam jago dengan kota pelabuhan di sebelah Tenggara Perancis ini? Hubungannya adalah lagu kebangsaan negara asal tokoh kartun Asterix dan Obelix ini dikenal dengan nama “La Marseillaise”, nama penduduk kota Marseille itu sendiri. Mars yang aslinya berjudul Chant de guerre pour l’Armée du Rhin ini semula diciptakan untuk tentara kota Strasbourg. Namun kemudian, mars ini menjadi populer di seluruh Perancis berkat para pejuang kebebasan dari kota Marseille yang menyanyikannya ketika mereka memasuki kota Paris pada tahun 1792 untuk mendukung Revolusi akbar yang terkenal dengan tiga semboyannya : Liberté, Fraternité, Egalité (kebebasan, persaudaraan, kesederajatan). Sejak saat itulah, mars ini lebih dikenal dengan sebutan penduduk kota pelabuhan tersebut: La Marseillaise.

Tetapi, saya datang ke Marseille bukan untuk melakukan revolusi. Saya berkunjung ke Marseille untuk menghadiri perayaan Natal warga Indonesia di kota ini. Sambil menyelam minum air, begitu kata pepatah lama. Maka, saya pun memanfaatkan kunjungan ini untuk melihat-lihat sudut kota tertua di Perancis ini. Toh, jarum jam belum beranjak dari angka 3 siang hari, berarti saya masih punya waktu bebas sekitar dua jam sebelum acara dimulai…

Ada begitu banyak tempat yang ingin saya kunjungi tetapi, mengingat keterbatasan waktu, maka satu objek wisata yang tidak boleh saya lewatkan mendapat prioritas tertinggi untuk dikunjungi: Notre-Dame de la Garde (Basilika Bunda-Kami Sang Penjaga). Gereja agung ini berdiri megah di puncak bukit batu, pada ketinggian 162 meter di atas permukaan laut, di sebelah selatan pelabuhan tua kota Marseille. Basilika bergaya Neo-Bizantin ini diberkati pada tahun 1864, menggantikan gereja lama yang sudah berdiri 3 abad sebelumnya. Penduduk setempat menamai gereja ini sebagai “la bonne mère” atau bunda yang baik hati karena gereja ini didirikan untuk menghormati Bunda Maria, bunda Yesus sang Al-Masih. Ke dalam doa-doa sang Bunda, penduduk Marseille mempercayakan keselamatan kota mereka.

1355957245479108634

Interior basilika Notre-Dame de la Garde

1355957874580024848

Deretan perahu mini yang digantung di langit-langit basilika, sebagai ucapan terima kasih para pelaut yang telah dilindungi dari bahaya

Dari puncak bukit batu di mana bertengger basilika ini, saya dapat menikmati pemandangan indah kota Marseille yang berhadapan langsung dengan Laut Tengah. Tetapi saya harus berhati-hati, sebab angin bertiup begitu kencang saat itu sampai-sampai minuman ringan yang saya bawa dalam gelas plastik melompat keluar dan membasahi mantol yang saya kenakan. Salah satu pemandangan menarik yang dapat dilihat adalah gugusan kepulauan Frioul. Di salah satu pulaunya terdapat Chateau d’If, yang disebut di dalam novel ternama karya Alexander Dumas: Le Comte de Monte-Cristo.

1355958021338537312

Kota Marseille, Laut Tengah dan kepulauan Frioul dengan Chateau 

Tetapi, Marseille tidak saja terkenal karena kenangan masa lalunya. Kota berpenduduk 1,6 juta jiwa ini juga terkenal karena menjadi tempat salah satu klub sepak bola ternama Perancis: Olympique Marseille. Dari klub inilah lahir seorang pemain penyerang yang membawa harum tim nasional Perancis: Zinedine Yazid Zidane. Bukan sekedar menjadi pemain bola kenamaan, Zidane juga menjadi simbol pluralitas tim nasional dan semangat keterbukaan Perancis umumnya dan Marseille khususnya akan keragaman dan perbedaan. Ya, Marseille adalah kota kosmopolitan yang menghidupi perbedaan sebagai perayaan dan kekayaan. Beragam suku bangsa hidup di kota yang berdiri sejak 600 SM ini: mulai dari orang-orang keturunan Itali, Spanyol lalu bangsa Arab  dan Berber dari Afrika Utara, orang-orang Aljazair, Corsica, Vietnam dan Cina. Keragaman menjadi kekuatan dan kebanggaan Marseille sebab tanpa  kedua hal tersebut, kota kedua paling besar di Perancis ini tentu sudah lenyap ditelan konflik dan perpecahan.

13559588641546856049

Lapangan hijau di sudut kota Marseille dilihat dari basilika Notre-Dame de la Garde. Di lapangan hijau ini, Zidane, simbol pluralitas dalam sepak bola Perancis, sempat mengasah bakatnya

Setelah puas menikmati pemandangan dari Notre-Dame, saya pun beranjak pergi ke Konsulat Jenderal Republik Indonesia untuk Perancis, untuk merayakan Natal di sana. Seperti halnya kota Marseille, suasana pluralitas pun kental mewarnai perayaan ini. Setelah ibadat Natal, acara panggung gembira dimulai. Acara tersebut dibuka dengan sambutan Ibu Konsulat Jenderal, ibu Adriana Hermin Mala yang mengucapkan selamat Natal kepada seluruh hadirin dan menekankan pentingnya memaknai keragaman Indonesia sebagai kekayaaan dan berkat yang dititipkan Tuhan kepada rakyat Indonesia.

Beragam hiburan dan permainan disajikan untuk meramaikan suasana. Ada suguhan lagu dari PPI di Marseille, ada permainan lomba makan donat untuk anak-anak, narasi tentang Sinter Klas dan pembagian hadiah. Salah satu gelar panggung yang menarik perhatian hadirin, yang sebagian besar datang dari kota-kota sekitar Marseille, adalah tarian Betawi yang dibawakan oleh para pelajar Indonesia di Marseille. Setiap gerak dan polah penari di atas panggung mengundang tepukan dan seruan semangat dari para hadirin yang menyaksikannya.

1355960008860145249

Suguhan nyanyian yang dipersembahkan para pelajar Indonesia di Marseille

13559601651191598179

Tarian Betawi yang menghebohkan dan mengguncang Konsulat Jenderal….indahnya keragaman Nusantara

1355960263156487705

Salah satu acara permainan yang melibatkan anggota keluarga Indonesia-Perancis

Bagi saya, perayaan Natal tanggal 8 Desember kali lalu adalah perayaan keragaman dan keterbukaan. Natal berarti kelahiran, kelahiran kemanusiaan baru yang terbuka secara penuh pada kasih Allah yng ditemukan dalam keanekaan karunia. Di taman Firdaus, di mana keragaman untuk pertama kalinya tercipta, Adam dan Hawa menolak untuk menjadi terbuka pada keragaman karena tergoda untuk menjadi Tuhan, menjadi yang paling tahu, menjadi sang tunggal. Dengan demikian, mereka menolak menjadi bagian dari keragaman yang begitu indah dan “baik di mata Tuhan”. Yesus, sang Al-Masih, lahir menjadi manusia untuk memberkati keragaman ciptaan dengan menjadi bagian dari keragaman itu sendiri. Menerima dan merayakan keragaman menjadi wujud syukur atas kasih Allah.

Maka, biarlah Indonesia menjadi “Firdaus di dunia” di mana keragaman itu diterima, disyukuri dan dirayakan….Selamat Natal.

Paris,Kamis dini hari  20 Desember 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s