Unjuk Rasa Anti Perkawinan Sejenis di Paris

Dalam demokrasi, rakyatlah yang memilih sendiri diktator mereka.

Dengan kutipan bernada sinis itu, Patrick Sebastien, seniman serba bisa Perancis, menyindir praktek demokrasi di negerinya sendiri. Di balik kutipan tersebut terselip satu pesan bahwa demokrasi jauh lebih besar dari sekedar pemilihan umum. Kebebasan untuk memperoleh informasi, untuk berkumpul dan berserikat serta untuk mengungkapkan pendapat turut menandai kehadiran kehidupan berdemokrasi. Dengan kata lain, demokrasi lebih dari sekedar sebuah pesta yang diadakan empat atau lima tahun sekali dalam wujud PEMILU. Demokrasi terutama adalah perayaan kedaulatan rakyat dalam pengaturan kehidupan bersama.

Perayaan demokrasi itulah yang saya saksikan di Paris pada hari Minggu lalu, dalam wujud sebuah aksi unjuk rasa. Manifestation (unjuk rasa) yang digalang oleh La Manif Pour Tous itu hendak menentang rencana undang-undang yang pada prinsipnya akan melegalkan dua hal: perkawinan dua orang berjenis kelamin sama dan kesempatan bagi mereka berdua untuk memperoleh anak.

 

 

13582119731348606644

 

Bagi mereka yang tidak setuju, rencana undang-undang itu dianggap menyerang hakikat keluarga yang sejatinya terdiri dari satu bapak, satu ibu dan anak-anak. Rencana undang-undang itu juga dianggap mengabaikan anak-anak yang berhak dibesarkan oleh seorang ayah dan ibu. Menurut mereka, anak-anak perlu belajar mengenal perbedaan sejak dini, mulai dari perbedaan yang paling dasariah, yaitu perbedaan jenis kelamin. Perbedaan inilah yang membentuk kemanusiaan.

 

 

13582125511971342676

 

Sementara pihak menilai, sang presiden François Hollande akan menunjukkan kegigihannya untuk menggolkan rencana undang-undang tersebut sebab itulah yang menjadi salah satu janji politiknya. Pertanyaannya adalah, apakah sebagian besar rakyat Perancis yang memilihnya benar-benar peduli dengan rencana undang-undang tersebut? Ataukah mereka memilih lebih didorong oleh janji-janji politiknya menyangkut persoalan yang jauh lebih mendesak seperti persoalan ekonomi? Banyak pengamat politik menyayangkan pemborosan energi akibat “kegaduhan politik” demi sebuah perkara yang sebenarnya tidak terlalu mendesak semacam rencana undang-undang tersebut.

Akan tetapi, bagi para manifestants (pengunjuk rasa) dan mereka yang membela hakikat keluarga, persoalan yang diributkan itu lebih dari sekedar perkara politik tetapi perkara pondasi kemasyarakatan. Perkawinan kaum sejenis dan terutama kemungkinan mereka untuk dapat memperoleh anak, dapat merubah peradaban secara keliru.

 

 

1358213443988824480

 

Panasnya persoalan di tingkat politik tidak menjadikan para pengunjuk rasa turun ke jalan dengan kepala dan hati yang panas. Sejauh pengamatan saya, seluruh rangkaian unjuk rasa berlangsung sangat tertib dan santun. Tidak terdengar seruan yang menghujat pihak-pihak tertentu. Himbauan untuk tidak terprovokasi oleh oknum-oknum dapat dibaca di dalam brosur yang dibagikan secara cuma-cuma oleh para relawan.

Unjuk rasa itu sendiri dimulai pada pukul 13.00 waktu setempat di tiga titik berbeda dan akan bermuara di Champ de Mars, lapangan luas di dekat Tour Eiffel. Saya sendiri berangkat dari Denfert Rochereau. Begitu tiba di tujuan, saya mencari kelompok relawan untuk meminta brosur. Kemudian saya memberanikan diri meminta lebih banyak, “Bisa minta bendera sama balonnya juga gak?” Mbak relawan menjawab, “Wah, maaf mas, balon dan benderanya buat keluarga dan anak-anak.” Wow, baru kali ini saya dengar dan saksikan demontrasi di jalanan yang diikuti keluarga dan anak-anak. Dan memang, dari ribuan pengunjuk rasa yang memadati lapangan Denfert Rochereau, banyak di antaranya merupakan keluarga-keluarga: ayah, ibu, anak-anak bahkan kakek dan nenek turut serta!

 

 

1358214739799919632

 

Mungkin, anak-anak ini belum mengerti untuk apa mereka turun ke jalan. Namun demikian, mereka sudah mulai belajar untuk merayakan kehidupan demokrasi dengan mempraktekkannya secara bertanggung jawab.

Setelah lebih kurang satu jam mendengarkan lagu dan beragam orasi, kami mulai berarak pelan. Melalui jalan-jalan utama kota cahaya, Paris, kami berjalan ke araha Tour Eiffel sambil bernyanyi dan menyerukan slogan-slogan pembelaan keluarga. Tidak ada ketegangan maupun bentrokan yang paling kecil sekalipun. Semua orang senang dan gembira. Benar-benar sebuah perayaan!

 

13582152911509609361

 

Ada kejadian menarik sementara kami berarak bersama. Di ketinggian sebuah apartemen, sebuah jendela terbuka. Dari balik jendela, menyembul dua pemuda yang seolah-olah menentang aksi unjuk rasa. Dengan beragam gerakan tangan, mereka ingin memberi kesan bahwa apa yang kami lakukan itu tidak berguna. Mayoritas demonstran pun menanggapi ulah kedua pemuda itu dengan seruan “huuuuu”. Mendapat sorakan seperti itu, keduanya pun menghilang dari pandangan untuk kemudian tampil lagi…kali ini dengan bendera merah muda yang sama seperti yang dikibarkan oleh para demonstran. Kontan, para demonstran pun mengerti apa yang sedang terjadi dan gemuruh tepuk tangan memenuhi udara…

Setelah lebih kurang empat jam berjalan beriringan, kami pun memasuki Champ de Mars. Sebuah panggung dan dua layar raksasa terpasang di sana. Di sinilah para demonstran berkumpul dan beragam acara diadakan. Salah satu acara yang menarik perhatian saya adalah kesaksian yang diberikan oleh seorang homosexual. Di atas panggung, ia mengakui dirinya homosexual tetapi menentang rencana undang-undang tersebut. Alasannya, pemerintah tidak berhak mengubah hakikat perkawinan dan keluarga. Ia menjalin hubungan dengan pasangannya berdasarkan cinta tanpa menuntut lebih dari itu. Dengan kesaksian tersebut menjadi jelas bahwa unjuk rasa Minggu lalu bukanlah homophobi atau anti kaum homo, tetapi untuk membela hak anak dan hakikat keluarga.

 

 

1358216211617549329

 

Ada kejadian menarik lainnya yang saya lihat di tengah unjuk rasa kali lalu. Di antara kerumunan para demonstran, saya menyaksikan sebuah spanduk putih yang dibentangkan. Di atasnya tertulis sebuah kalimat dalam bahasa arab dan perancis, yang bunyinya: “Warga Muslim Perancis tidak akan pernah menerimanya.” Unjuk rasa kali lalu bukan saja bersifat lintas usia dan gaya hidup, tetapi juga lintas agama dan kepercayaan.

 

 

1358216841190336323

 

Setelah beragam acara, akhirnya sampailah kami pada acara puncak: pembacaan petisi yang ditujukan kepada Presiden Perancis untuk menunda pembahasan rencana undang-undang tersebut. Petisi dibacakan di tengah keheningan para demonstran. Setiap pengunjuk rasa seolah ingin meresapkan dalam-dalam, untuk petisi itulah mereka hari Minggu itu turun ke jalan, bersama teman, pasangan hidup, anak, ayah, ibu, kakek, nenek mereka. Tekad mereka untuk membela hakikat keluarga seolah diwakili oleh ratusan nyala lilin-lilin kecil yang diangkat ratusan ribu tangan di  Champ de Mars yang sudah dikelambui gelap.

Jam menunjukkan pukul 18.00. Hujan rintik mulai turun. Setelah mengumumkan jumlah pengunjuk rasa (sekitar 800.000 orang) panitia pun mengucapkan terima kasih tanpa lupa menyampaikan undangan untuk berdemo lagi kalau Presiden tidak mengindahkan suara mereka. Mengingat hujan yang tampaknya mulai deras dan suhu yang semakin dingin menggigit kulit, saya bergegas lari kembali ke asrama sambil membawa sebuah kenangan yang bakal sulit menghilang tentang makna demokrasi dan pentingnya keluarga.

Semoga, di bumi pertiwi, demokrasi dapat menjadi sebuah perayaan kedaulatan rakyat dan bukan sekedar pesta lima tahunan sekali.

Paris, Selasa 15 Januari 2013

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s