Tuhan Yang Suka “Blusukan”

Sabtu, Pekan Biasa I

Ibr. 4:12-16;  Mzm. 19:8-9,10,15; Mrk. 2:13-17

Yesus-memanggil-Lewi-Pemungut-Cukai

Jakarta khususnya dan Indonesia umumnya dibuat terpesona dengan gaya “blusukan” sang Gubernur DKI, Jokowi. Dengan gayanya itu, bang Jokowi ingin menunjukkan keyakinannya bahwa kunci jawaban terhadap permasalahan Ibu Kota tidak terutama ditemukan di belakang meja melainkan di tengah kehidupan warga.

Model “blusukan” à la Jokowi bukanlah ciptaan abad 21. Lebih kurang 600 tahun sebelum masehi, seorang guru kenamaan, Sokrates, juga sudah “blusukan” ke sudut-sudut kota Athena untuk mengajarkan kebenaran. Di mata Sokrates, kebenaran bukanlah rumusan yang diberikan guru kepada para siswanya di ruang kelas. Setiap orang sudah “mengandung” kebenaran. Masalahnya adalah bagaimana membantu “persalinan” kebenaran itu hingga dapat “lahir” dengan selamat. Sokrates menempuh jalan dengan bertanya kepada setiap orang yang mencari kebenaran. Maka, ia memenuhi sudut-sudut keramaian Athena dengan pertanyaan, hingga orang yang merasa sudah memiliki kebenaran harus berpikir kembali.

Dan, akhirnya, di tanah Palestina, di awal tahun Masehi, hiduplah seorang rabi yang begitu berbeda dari rabi-rabi sebelumnya. Rabi ini suka “blusukan” juga tanpa takut dirinya “tercemari dan dikotori” oleh suasana, tempat dan orang-orang yang ia kunjungi. Josua, atau Yesus, nama rabi itu. Tidak seperti rabi lainnya yang duduk menunggu datangnya para murid, Yesus berjalan, “berblusukan” menjumpai dan memanggil orang untuk menjadi muridNya. Dalam Injil hari ini, Ia mengunjungi tempat yang rabi lain pasti enggan melakukannya: Ia mendatangi rumah seorang pemungut cukai. Dengan “blusukan” ke tempat para pendosa, Yesus ingin mewartakan bahwa setiap pribadi adalah anak-anak Allah, termasuk para pendosa. Dengan berada bersama para pendosa, Yesus menerima dan menyembuhkan mereka. “Para Nabi memperingatkan orang berdosa; Yohanes Pembaptis mewartakan pertobatan bagi orang berdosa; Yesus berada bersama para pendosa,” tulis seorang romo Dominikan dari Afrika Selatan, Albert Nolan.

Satu pesan untuk kita: dalam diri masing-masing dari kita, ada sesuatu yang jauh lebih kuat dari kelemahan kita, ada sesuatu yang jauh lebih murni dari dosa kita, yaitu RohNya yang dihembuskanNya ke dalam diri kita agar kita hidup. Tuhan Yesus “blusukan” di rimba sukma-sukma untuk menyembuhkan roh-roh yang sakit agar dapat bangkit kembali. Itulah yang dilakukan Tuhan hari ini, saat ini, detik ini dalam diri setiap orang.

Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria melindungi

 

Iklan

Satu pemikiran pada “Tuhan Yang Suka “Blusukan”

  1. Thanks banget mo…..renungannya……
    Semoga kehadiran seorang Jokowi sebagai pemimpin untuk mengenal dan berada lebih dekat dengan rakyatnya seperti yang telah dilakukan oleh Tuhan Yesus kepada umatnya, dapat membawa perbaikan bagi seluruh masyarakat Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s