Sabat

biji merah dan salju 6 copie

Selasa, Pekan Biasa II

Beberapa hari setelah Jakarta direndam banjir, bapak Gubernur Jokowi Widodo memaklumkan keadaan darurat. Dengan maklumat ini, setiap lembaga di dalam tubuh pemerintahan daerah DKI dapat bergerak gesit menanggulangi bencana. Prosedur yang harusnya dilalui dalam keadaan normal dapat diterabas demi membantu para korban. Dalam keadaan normal, hukum dan prosedur wajib ditaati demi kepentingan bersama. Dalam keadaan darurat, hukum dan prosedur wajib ditafsirkan secara kreatif demi keselamatan warga.

Kurang lebih pesan yang sama dapat kita tarik dari Injil hari Selasa dalam Pekan Biasa II ini. Larangan untuk memetik bulir gandum di hari Sabat diperuntukkan bagi mereka yang hidup dalam keadaan “normal” untuk mengingatkan bahwa hasil kerja mereka tidak sepenuhnya tergantung dari tangan mereka tetapi juga dari rahmat Allah. Akan tetapi, para murid Yesus tidak sedang berada dalam keadaan normal. Mereka sedang dilanda kelaparan. Maka, tafsiran hukum Sabat pun harus dilakukan secara kreatif demi kelangsungan hidup manusia, persis seperti yang dibuat Daud dulu ketika menyantap roti persembahan yang dalam keadaan normal hanya boleh disentuh dan dimakan oleh para imam. Yesus menantang orang-orang Farisi yang malas menafsirkan hukum dengan membandingkan sikap mereka dengan sikap Daud, hamba kesayangan Yahwe. Harkat dan kehidupan manusia adalah pusat dan alasan hukum dibuat. Maka, mestinya, segalanya itu berfungsi untuk melayani semakin utuhnya kemanusiaan setiap pribadi.

Dalam kehidupan sehari-hari, sering terjadi kemanusiaan dinomorduakan atau bahkan ditumbalkan demi kepentingan lainnya. Di pabrik, misalnya, buruh yang jatuh sakit seringkali diabaikan sementara mesin yang rusak segera ditangani dengan mendatangkan ahli-ahli dari luar negeri. Di sekolah, berapa banyak murid yang tersungkur dengan luka di batin akibat gaya persaingan keras demi meraih rangking dan kenaikan kelas? Dalam relasi dan kehidupan pribadi, apakah saya juga memperhatikan keutuhan kemanusiaan saya sendiri dan sesama lebih daripada segala ambisi, dorongan tidak teratur, rasa dendam dan benci?

Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria melindungi

Alternatif permenungan lebih lanjut:

  • Sebuah struktur dapat dilihat ketika kita membandingkan apa yang dibuat para murid Yesus dan apa yang dibuat Daud dan para pengikutnya. Sebagaimana para murid Yesus, Daud dan para pengikutnya sedang dalam keadaan lapar. Sebagaimana para murid Yesus, Daud dan para pengikutnya melihat ada kemungkinan untuk melepas rasa lapar mereka tetapi dihalangi oleh sebuah aturan agama. Sebagaimana para murid Yesus, Daud dan para pengikutnya melewati batas yang ditetapkan oleh hukum agama untuk dapat makan. Struktur ini menegaskan sabda Yesus yang menjadi pusat dari kisah ini: “Anak Manusia adalah tuan atas hari Sabat.
  • Sabat adalah salah satu pilah utama hukum agama Yahudi di samping keesan Yahwa, sunat dan hormat pada Bait Allah. Pelanggaran atas salah satu sendi-sendi utama rohani bangsa Yahudi ini adalah hukuman mati: lihat apa yang dialami oleh Stefanus ketika berbicara soal sirnanya peran Bait Allah setelah kedatangan sang Messias. Banyak ahli berpendapat bahwa peraturan Sabat (seperti halnya juga sunat) bukanlah asli penemuan orang Yahudi. Di tanah Babilon, sudah ada peraturan serupa yang disebut Sappatu, atau hari ke lima belas. Pada hari itu, semua hewan dan manusia berhenti bekerja untuk mempersembahkan korban kepada para dewa. Pelanggaran hari istirahat Sappatu ini dapat mendatangkan murka para petinggi langit. Tidak heran, bagi bangsa Babilonia, Sappatu juga dikenal sebagai “hari kemurkaan.” Tampaknya, bangsa Yahudi yang sempat dibuang ke tanah Babilon, mengambil ide ini dan menyesuaikannya dengan iman mereka: Sabat bukan lagi hari “kemurkaan” tetapi sebuah peringatan akan belas kasih Allah yang “mengundurkan diri” untuk memberi tempat kepada manusia, rekanNya dalam penyempurnaan karya ciptaan. Dengan beristirahat, orang Yahudi mengingatkan diri mereka sendiri bahwa bukan mereka penguasa hidup dan bumi ini, tetapi Allah yang telah menciptakan semesta selama 6 hari dan memberi tempat kepada manusia di hari ke 7, seperti tertulis dalam kitab Kejadian. Itulah makna teologis dari hari Sabbat. Akan tetapi, hormat dan kasih pada Allah tidak dapat lepas dari hormat dan kasih pada sesama. Maka, Sabat pun punya makna sosial juga. Di hari Sabat, buruh, budak, hewan dan tanah berhenti bekerja dan diolah. Orang Yahudi diingatkan bahwa mereka dulu juga pernah jadi budak maka sekarang mereka harus memperlakukan budak yang mereka miliki dengan penuh kasih dan hormat seperti diri mereka sendiri (Ulangan 5:14-15).
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s