Rabu Abu

Siapakah diriku? Untuk menjawab pertanyaan ini, orang perlu membedakan antara “diri yang sejati” dan “diri kosmetik”. “Diri kosmetik” adalah pantulan kehendak orang lain atas diri kita. Maka, “diri kosmetik” biasanya nampak dalam titel, gelar, kebanggan karena terkenal, senang karena pujian, kepuasan karena dipandang hebat, dan segala hal yang bersumber dari “apa yang baik menurut kata orang.”

Sementara itu, “diri sejati” jauh lebih sunyi, lebih sepi dari hingar bingar “apa kata orang”. Ia berada di kedalaman batin setiap pribadi, di sudut terdalam “ruang batin” di mana hanya Bapa yang dapat menemukannya. Segala yang baik yang dipelajari dari Gereja, masyarakat, buku, atau sumber kebijaksanaan lainnya akan diendapkan di ruang batin tadi, dalam keheningan, dan diyakini sebagai jalan untuk menyenangkan hati Bapa. Tanpa tiupan terompet dan genderang pengumuman, segala yang baik itu menyatu dan mengalir dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam Injil hari ini, Tuhan Yesus ditampilkan sebagai Musa baru. Ia mengajar dari atas bukit seperti Musa dahulu menyampaikan Taurat dari atas gunung Sinai. Kalau Musa mengajar umat Israel yang hendak masuk ke Tanah Terjanji, Yesus mengajar Israel Baru yaitu Gereja yang siap berziarah sampai pada Tanah Terjanji Abadi yaitu Kediaman Allah Bapa.

Ada tiga butir penting yang dapat ditarik dari pengajaran Yesus dalam Injil hari ini. Pertama, praktek keagamaan setiap anggota Gereja merupakan kesatuan relasi dengan sesama (karya amal), dengan Allah (berdoa), dan dengan diri sendiri (puasa). Bukan tanpa alasan kalau relasi dengan Allah ditempatkan di tengah, karena memang itulah yang menjadi pusat sekaligus sumber kehidupan beragama. Kedua, Yesus mengingatkan adanya bahaya untuk memusatkan perhatian pada “diri kosmetik” dan bukan pada Allah. Sanjung dan puja-puji orang karena kehebatan kita dalam hidup beragama dapat mengaburkan tempat Allah sebagai pusat kehidupan beragama. Ketika hal itu terjadi, sumber kehidupan beragama bukan lagi Allah tetapi “tradisi manusia” atau “apa kata orang”. Dan ketiga, memusatkan diri pada diri kosmetik bukan saja mengabaikan Allah tetapi juga memperalat Allah untuk kepentingan diri sendiri. Untuk melambungkan “diri kosmetik”, nama Allah tidak lagi dihormati tetapi dimanfaatkan layaknya salah satu sarana di antara banyak sarana lainnya.

Tepatlah Gereja memilih bacaan Injil tersebut untuk mengawali masa tobat, Rabu Abu, ini. Dari sekian banyak bahaya yang menghantui umat beriman, penyembahan berhala, termasuk dalam bentuk pengagungan “diri kosmetik” tadi, merupakan bahaya terbesar. Bertobat berarti mengubah haluan hidup, mengubah arah, banting setir, dari “diri kosmetik” ke “diri sejati” sebagai sarana perjumpaan dengan Allah.

Bagaimana pun indahnya “diri kosmetik”, kita hanya debu dan tidak lebih dari abu yang hinggap di pelipis kita seusai misa hari ini, jika Allah tidak bersabda, menghembuskan RohNya, dan mengangkat kita menjadi putra-putriNya dalam Yesus.

Selamat memasuki masa puasa, selamat didamaikan kembali dengan Allah. Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria melindungi

Paris, Rabu Abu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s