Puasa

ishop
15 Februari 2013, Jumat sesudah Rabu Abu

Seorang peminta-minta mengemis kepada seorang bankir yang baru keluar dari kantornya. Jawab si bankir dengan ketus:”Ah, percuma saya kasih uang ke kamu. Paling nanti habis buat beli minuman keras dan rokok.” Tidak kalah ketus, si pengemis membalas:”Pak, kalau untuk rokok dan minuman keras, saya sudah punya uangnya. Sekarang saya minta buat beli makan.”

Di tengah jaman yang mengobarkan semangat belanja seperti sekarang ini, sulit menemukan rasa puas dalam diri sendiri. Setiap hari, selalu ada barang “terbaru, tercanggih, termodern” yang datang melirik dan menggoda nurani untuk lekas membeli. Rasa ingin memiliki yang demikian itu nampaknya alamiah tetapi sebenarnya sikap itu dibentuk oleh masyarakat ekonomis-konsumeris khas abad modern. Undangan untuk berpuasa, yang kita dengarkan di dalam Injil hari ini, dapat membantu kita untuk menemukan yang esensial alias yang sejati dalam kehidupan.

Dalam Injil hari ini, Yesus didatangi para murid Yohanes yang bertanya mengapa para muridNya tidak berpuasa. Sebagai informasi, orang-orang Yahudi berpuasa secara bersama-sama pada perayaan-perayaan tertentu, seperti misalnya pada perayaan silih (yom kippur) atau juga berpuasa secara pribadi yang biasanya dilakukan pada hari Senin dan Kamis (seperti puasanya orang Jawa, Senin-Kemis). Tujuannya adalah untuk merendahkan diri di hadapan Allah, untuk membantu berdoa dan meningkatkan keakraban dengan Allah dan untuk melatih beramal dan berkorban bagi sesama.

Murid-murid Tuhan Yesus, berlawanan dengan para murid Yohanes dan orang-orang Farisi, tidak berpuasa karena Tuhan sendiri hadir di tengah mereka, laksana mempelai pria di tengah para undangan. Akan tetapi, ketika Yesus sudah terangkat ke surga, Gereja mempraktekkan kembali puasa ini untuk menghadapi jaman yang penuh tantangan sambil menantikan kedatangan Yesus yang kedua.

Maka, praktek puasa dapat kita maknai sebagai latihan untuk memusatkan diri pada apa yang esensial, apa yang paling penting dan sejati dalam hidup kita, yaitu kehadiran Tuhan sendiri, dalam hati kita, dalam keluarga, dalam Gereja dan masyarakat. Di tengah gempuran konsumerisme yang hebat melanda, praktek puasa merupakan gaya hidup tandingan yang harus ditunjukkan para murid Tuhan. Mari kita singkirkan beragam sikap boros (boros waktu, tenaga, pikiran) demi yang esensial.

Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria melindungi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s