Tanpa “s”, Dosa tak Berdaya…

to-conquer-my-sin_t_nv

16 Februari 2013, Sabtu sesudah Rabu Abu

Sepotong kisah dari roman Les Miserables karya Victor Hugo:

Seorang terpidana mati akan menghadapi saat eksekusi keesokan harinya. Sesuai kebiasaan, ia berhak didampingi seorang pastor. Namun demikian, pastor paroki terdekat menolak melakukan hal itu. Hal ini segera disampaikan kepada sang uskup, yang dengan desahan pelan menjawab:”Pastor paroki itu benar. Bukan dia yang harus mendampingi si terpidana mati, tetapi saya sendiri.” Dan sang uskup pun bergegas meninggalkan wisma keuskupan menuju penjara. Di sana, ia menemani terhukum mati, siang dan malam. Ketika hari eksekusi tiba, kerumunan orang yang memadati lapangan akan melihat sang ukup yang tidak pernah menjauh dari sang terhukum, sampai detik terakhir. Victor Hugo pun menulis batin sang uskup yang bergumam:”Dia yang dihukum mati oleh hukum manusia, dibangkitkan oleh Allah; Dia yang disembunyikan manusia, menemukan kembali Bapa.”

Kerapkali, kita membagi dunia dan manusia dalam kategori hitam-putih, suci-cemar, terberkati-terkutuk. Dan ketika kesucian menjadi obsesi, orang cenderung menutup diri dan membatasi dunianya dari segala hal yang dianggap bisa mendatangkan cemar. Maka, dibangunlah sekat-sekat fisik dan rohani dalam pergaulan hidup sehari-hari. Mereka yang dianggap berdosa dan cemar dijauhkan agar tidak menodai kesucian diri.

Dalam Injil hari ini, Tuhan menunjukkan bahwa sikap itu bukanlah sikap yang diambil Allah. Allah mau bergaul dengan kaum pendosa justru karena Dia Maha Kuasa. Ia tidak takut tercemari dosa. Ia justru ingin menyalakan terang di tempat di mana kegelapan meraja. Sebab, seperti diwahyukan dalam kitab Mazmur: bagi Tuhan, kegelapan paling pekat sekalipun adalah terang.

Hal inilah yang tidak dimengerti orang-orang Farisi dan para Ahli Taurat. Bagi mereka, Tuhan Allah hanya bersedia tinggal di lingkungan yang kudus dan suci menurut hukum agama. Dengan demikian, pemikiran mereka sendiri telah membatasi kuasa kasih Allah yang jauh lebih besar dari dosa, dari hati manusia.

Allah datang membawa terang dan kuasaNya itu jauh lebih besar dari dosa kita masing-masing. CitraNya yang ada dalam diri kita tidak mungkin dapat dihapus oleh dosa. Kita selalu dapat berkomunikasi kembali denganNya. Dosa, seperti ditulis Victor Hugo, adalah kejatuhan yang membuat kita berlutut dan yang bermuara pada doa.

Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria melindungi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s