Lebih Akrab dengan Konsili Vatikan II: Klasifikasi Dokumen-dokumen Konsili

Des-images-inedites-du-concile-Vatican-II-seront-bientot-revelees_article_popin

Dalam rentang 50 tahun, Konsili Vatikan II masih menjadi tonggak sejarah terbesar dalam peziarahan Gereja. Namun demikian, banyak kalangan masih mengalami kesulitan untuk dapat memahami keagungan sejarah tersebut.

Salah satu kendala utamanya adalah kesulitan untuk mengenali dan memahami teks-teks konsili yang terbilang tidak sedikit tersebut dan hubungan antara teks yang satu dan teks lainnya. Tanpa adanya satu upaya pengelompokkan, teks-teks Konsili laksana dokumen-dokumen hukum tebal yang terpencar-pencar; jangankan memahami, mengenal nama setiap teksnya saja sudah kewalahan.

Artikel sederhana ini hendak menwarkan satu pengelompokkan teks-teks tersebut hingga lebih mudah dikenali dan dipahami hubungan antar teksnya. Pengelompokkan yang dipaparkan di sini diambil dari gagasan seorang teolog sekaligus ahli sejarah Gereja dari Perancis, Christoph Theobald, yang mengajar di centre Sevres, fakultas filsafat dan teologi Jesuit di Paris.

4 dokumen Utama: Konstitusi

Tidak setiap dokumen Konsili memiliki nilai yuridis dan doctrinal yang sama. Dari seluruh dokumen, hanya 4 dokumen yang diberi ‘label’ Konsitusi (undang-undang dasar) artinya sangat penting karena menentukan arah perjalanan Gereja selanjutnya. Ada dua konsitusi dogmatis: konstitusi tentang Gereja (Lumen Gentium) dan tentang Perwahyuan Ilahi (Dei Verbum); satu konstitusi tentang liturgi (Sacro sanctum Concilium) dan satu konstitusi pastoral tentang Gereja dalam dunia (Gaudium et Spes).

Ada satu cara yang dapat membantu agar keempat dokumen ini tidak mudah lenyap dari ingatan: 4 konstitusi Konsili Vatikan II terdiri dari 2 Konstitusi tentang Gereja (LG dan GS) yang membingkai konstitusi tentang perwahyuan dan liturgi.

9 dokumen yang menegaskan dan mengembangkan konstitusi: Dekrit

Secara yuridis, ke 9 dokumen ini menempati ‘level’ lebih rendah dari 4 konsitusi di atas. Dekrit-dekrit ini diluncurkan untuk membantu menerjemahkan ke 4 konstitusi tadi ke dalam reformasi Gereja sesuai semangat Konsili Vatikan II. Maka, pembacaan dan penafsiran ke 9 dekrit ini selalu merujuk pada 4 konstitusi sebagai dokumen utama.

Agar lebih mudah mengenal dan mengingat dokumen-dokumen tersebut, 9 dekrit ini dibagi ke dalam dua kategori: 5 dekrit yang berkaitan dengan status hidup anggota-anggota Gereja (uskup, imam, pendidikan para imam, hidup membiara, dan kerasulan awam) dan 4 dekrit yang berkaitan dengan hubungan internal maupun eksternal Gereja (kegiatan misi, ekumene, Gereja Timur, komunikasi sosial).

5 dekrit yang berkaitan dengan status hidup anggota-anggota Gereja itu adalah dekrit tentang: para uskup (Christus Dominus), para imam (Presbyterorum Ordinis), pendidikan para imam (Optatam totius Ecclesiae renovationem), hidup membiara (Perfectae caritatis), dan kerasulan awam (Apostolicam actuositatem).

4 dekrit yang berkaitan dengan hubungan internal dan eksternal Gereja adala dekrit tentang: kegiatan misi Gereja (Ad Gentes divinitus), ekumenisme (Unitatis redintegratio), Gereja-gereja Timur (Orientalium Ecclesiarum), dan sarana komunikasi sosial (Inter mirifica).

3 dokumen tentang keadaan aktual: Deklarasi atau Pernyataan

 Tiga dokumen terakhir dapat digolongkan sebagai dokumen-dokumen yang membahas kenyataan-kenyataan baru dan aktual, yaitu: tentang kebebasan beragama (Dignitatis humanae), relasi dengan agama-agama non-kristen (Nostra aetate), dan tentang pendidikan kristen (Gravissimum educationis).

Satu contoh

Pengelompokkan di atas, diharapkan, mempermudah orang untuk mengenal setiap teks dan hubungan antar teks Konsili Vatikan II. Hal ini sangat membantu terutama dalam membaca dan menafsirkan ajaran yang terkandung di dalam teks-teks tersebut.

Sebagai contoh: dalam Lumen Gentium 8, terdapat pernyataan yang berbunyi demikian:

“Gereja itu, yang didunia ini disusun dan diatur sebagai serikat, berada dalam Gereja katolik, yang dipimpin oleh pengganti Petrus dan para Uskup dalam persekutuan dengannya, walaupun diluar persekutuan itupun terdapat banyak unsur pengudusan dan kebenaran, yang merupakan karunia-karunia khas bagi Gereja Kristus dan mendorong ke arah kesatuan katolik.”

Perhatikan kata, berada dalam (subsistit in). Awalnya, komisi yang menyiapkan dokumen tentang Gereja memilih menggunakan kata adalah (est); jadi mulanya dokumen tersebut berbunyi demikian: Gereja itu (satu-satunya Gereja Kristus) adalah Gereja katolik, yang dipimpin oleh pengganti Petrus dan para uskup (…).

Sebagian orang menafsirkan pergantian istilah tersebut tidak mengganti isi dokumen yang sudah disiapkan komisi. Entah menggunakan istilah “berada dalam” (subsistit in) atau menggunakan istilah “adalah” (est), artikel 8 LG hendak menyatakan bahwa Gereja Kristus identik sepenuhnya dengan Gereja Katolik. Kalau penafsiran ini yang diambil, maka komunitas-komunitas lain yang tidak bergabung secara eksplisit dengan Gereja Katolik bukanlah Gereja, bukan tubuh Kristus; sebab satu-satunya yang berhak disebut tubuh Kristus, Gereja Kristus, adalah Gereja Katolik.

Di sisi lain, ada pihak yang menafsirkan bahwa penggantian istilah tersebut mengubah makna dokumen. Dengan menerapkan istilah “berada dalam”, para Bapa Konsili mengajarkan bahwa Gereja Kristus memang ditemukan di dalam Gereja Katolik tetapi misteri Gereja Kristus tersebut tidak dapat diungkapkan sepenuh-penuhnya oleh Gereja Katolik. Dengan demikian, Gereja Katolik ambil bagian dalam misteri Gereja Kristus, tetapi Gereja Kristus tetap jauh lebih luas dan lebih dalam daripada Gereja Katolik. Dengan demikian, komunitas-komunitas lain di luar Gereja Katolik tetap dapat disebut Gereja dan ambil bagian dalam Gereja Kristus. Gereja Katolik tidak memonopoli unsur-unsur pengudusan dan keselamatan yang ditawarkan Kristus melalui tubuhNya, yaitu GerejaNya.

Penafsiran mana yang benar?

Sebagaimana telah dijelaskan di atas, konstitusi sebagai dokumen dasar ditegaskan, dijelaskan, dan dikembangkan oleh dokumen-dokumen lainnya, yaitu oleh dekrit dan deklarasi. Maka, penafsiran LG 8 pun perlu memperhatikan penjelasan yang ditemukan dalam dokumen-dokumen lainnya. Dalam hal ini, dekrit tentang ekumene (UR) perlu diperhatikan. Mengapa dekrit tentang ekumene? Karena ketika meresmikan LG, Paus Paulus VI secara eskplisit menyatakan bahwa: “Ajaran tentang Gereja ini (LG) (…) dilengkapi oleh dekrit tentang ekumene yang juga diresmikan oleh Konsili.”

Secara khusus, UR 3 menyatakan:

“Kecuali itu, dari unsur-unsur atau nilai-nilai, yang keseluruhannya ikut berperanan dalam pembangunan serta kehidupan Gereja sendiri, beberapa bahkan banyak sekali yang sangat berharga, yang dapat ditemukan diluar kawasan Gereja katolik yang kelihatan: Sabda Allah dalam Kitab suci, kehidupan rahmat, iman, harapan dan cinta kasih, begitu pula kurnia-kurnia Roh kudus lainnya yang bersifat batiniah dan unsur-unsur lahiriah. Itu semua bersumber pada Kristus dan mengantar kepada-Nya, dan memang selayaknya termasuk gereja Kristus yang tunggal.”

Dengan demikian, misteri Gereja Kristus memang ditemukan di dalam Gereja Katolik tetapi misteri tersebut jauh lebih luas dari batas-batas Gereja Katolik yang kelihatan. Unsur-unsur pengudusan dan keselamatan Gereja Kristus juga dapat ditemukan di dalam komunitas-komunitas Kristen lainnya. Tugas umat Katolik adalah: semakin mengenali dan mensyukuri unsur-unsur pengudusan dan keselamatan dalam Gereja Katolik dalam dialog dengan komunitas-komunitas murid Yesus Kristus lainnya dan juga dengan umat beragama non-Kristen. Sebab, hanya dengan dialog dan keterbukaan, orang dapat mengenal jati dirinya. Prinsip yang sama berlaku juga dalam Gereja.

Paris, Kamis 21 Maret 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s