Senjakala Generasi “Bento”

156-yongtcy-evolusi-koruptor

Bento dan ben tooo

Masih ingat lagu Bento? Lagu yang begitu populer di penghujung tahun ‘90 an itu pada intinya berkisah tentang sebuah keajaiban di bumi pertiwi: sebuah keajaiban karena seorang maling, penipu dan tukang jagal rakyat tidak saja bisa menghimpun kenikmatan dan kemewahan tetapi juga punya otoritas untuk berkotbah soal moral; sebuah keajaiban yang terjadi karena kenormalan hukum dikebiri hingga kehilangan kejantanannya. Ketika hukum bersimpuh keok, kesewenang-wenangan merajalela. Siapa saja yang kuat, kaya dan kuasa dapat berbuat sesukanya.

Dalam bahasa Jawa ada ungkapan, yo ben to….biarin ajalah… biarin saja dia berbuat begitu, toh dia bisa karena kaya dan kuasa… Pembiaran semacam itulah yang dipribadikan dalam lagu Bento, yang diteriakkan oleh kelompok Swami. Pembiaran itu dapat terjadi karena masyarakat masih meyakini sebuah sistem nilai yang terlalu mengagungkan ketokohan, figur atau pemimpin sampai mengaburkan kewenangan hukum dalam mengatur perputaran roda sosial kemasyarakatan. Pembiaran itulah yang memungkinkan dinasti Soeharto berkuasa selama lebih dari 30 tahun; pembiaran yang sama ikut mengawetkan dinasti-dinasti lainnya, termasuk dinasti Ratu Atut di Banten.

Bento dan the untouchables

Diperlukan generasi baru, generasi the untouchables, untuk melengserkan generasi Bento dan mentalitas ben tooo tadi. Wujud pertama dari generasi the untouchables ini adalah anak-anak muda, para mahasiswa, yang menggulirkan roda sejarah lewat gerakan reformasi di tahun ‘98. Sebagian besar dari mereka terlibat penuh dalam gerakan itu tanpa membiarkan diri disentuh (untouchable) oleh kepentingan-kepentingan politis, ekonomis atau kuasa sesaat. Mereka juga seolah mengebalkan diri dari rasa takut: tewas dan hilangnya sejumlah kawan tidak menyurutkan perjuangan mereka. Generasi the untouchables ini telah menyampaikan pesan kepada masyarakat: jangan biarkan lagi para Bento ini mengangkangi hukum; penegakan hukum harus diperjuangkan dan dibela habis-habisan. Dalam hal ini, para politikus yang berani mencapreskan diri dalam pemilu nanti wajib mengingat jasa anak-anak muda ini dan bukan sebaliknya, mengagungkan sebuah rezim yang justru  telah menumpahkan darah mereka di jalanan…

Wujud kedua dari generasi the untouchables ini adalah para tokoh masyarakat yang punya rekam jejak bersih, yang diberi wewenang tertentu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Wewenang yang mereka terima digunakan sungguh-sungguh untuk membasmi benalu-benalu, para Bento, dari sangsaka Merah Putih. Maka terjaringlah para penjahat kerah putih, perampok uang rakyat; maka berguguranlah dinasti-dinasti yang dulu duduk nyaman di atas keringat penderitaan rakyat. Para koruptor dibuat gentar. Tidak ada lagi pembiaran seperti dulu, karena para tokoh ini berani mempraktekkan ilmu debus anti tebasan uang suap, iming-iming kekuasaan dan kemewahan.

Pencitraan para Bento dan teladan the untouchables

Masyarakat yang masih melekat pada mentalitas vertikal, alias tergantung pada pimpinan atau figur tertentu, akan menerima sepak terjang para tokoh the untouchables tadi sebagai teladan. Masyarakat mulai belajar untuk menghormati dan membela hukum. Mereka tahu, apa yang dibuat para tokoh ini bukanlah pencitraan. Sebab, pencitraan berarti menampilkan diri sebaik mungkin agar dicatat sebagai orang bersih: itulah yang dibuat oleh para Bento, alias maling-penipu-jagal yang berkotbah soal moral. Para the untouchables, sebaliknya, berangkat dari rekam jejak yang memang telah bersih untuk menegakkan kewenangan hukum dalam hidup berbangsa dan bernegara. Jelas, para Bento menjadi gerah gelisah, karena tapal batas antara negarawan dan preman-garong menjadi jelas tegas di mata rakyat.

Berdasarkan hal-hal tadi, beranilah kita nyatakan bahwa generasi Bento dan sikap pembiaran terhadap pelanggaran hukum pelan-pelan akan terbenam. Fajar baru dalam hidup berbangsa dan bernegara telah terbit. Tapi, bukan berarti perjuangan telah selesai. Di siang terang benderang sekalipun, gerhana kesewenangan masih dapat menutupi mentari kesadaran dan keadilan. Maka, yang diperlukan adalah pembinaan terus menerus akan pentingnya penegakan hukum, pentingnya tanggung jawab dan disiplin dalam hidup berbangsa dan bernegara.

Jangan biarkan para Bento kembali meraja dan mengendalikan jalannya sejarah negeri tercinta…

Ville de Lumière, Sabtu 15 Februari 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s