Film Jagal, Penghargaan BAFTA dan Sejarah yang Dijegal

13926155772043367872
Para korban 65 yang sedang menonton film The Act of Killing (Jagal). Tribun Medan/Liston Damanik

Jangan mulai mencintai pasangan Anda ketika ia sudah sempurna; tapi sempurnakanlah pasangan Anda dengan mulai mencintainya apa adanya.

Kata-kata manis tapi sudah basi karena hari Valentin baru saja beranjak pergi. Tapi saya memang bukan mau bicara soal Valentin atau soal kasih mesra sepasang manusia; saya lebih ingin bicara soal kasih seorang anak bangsa terhadap tanah air dan negaranya.

Bung Karno sudah mencintai bangsa Indonesia ketika apa yang sekarang dikenal sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia belum lagi lahir ke dunia. Ia tetap mencintai bangsa Indonesia yang masih muda meski di matanya bangsa ini ternyata masih bermental “budak” walau sudah menghirup udara merdeka. Demikian juga bung Syahrir dan Hatta, sama-sama tetap mencintai bangsa dan negara Indonesia yang kondisinya masih jauh dari sempurna.

Sayangnya, saat ini, pemerintah dan sebagian masyarakat kita tidak punya jiwa besar untuk meneruskan sikap para Bapak pendiri bangsa tadi. Kita masih merasa malu untuk menerima sejarah bangsa kita apa adanya. Album gelap perjalanan sejarah ibu pertiwi masih kita tutup-tutupi dan haram untuk diangkat dan dijadikan bahan diskusi.

Pembubaran secara paksa diskusi tentang pemikiran seorang pahlawan nasional, Tan Malaka, misalnya, menunjukkan mentalitas untuk menjaga kesempurnaan sejarah berdasarkan pandangan sempit dan sepihak. Kesempurnaan diartikan keseragaman. Dan perbedaan adalah musuh utamanya.

Contoh yang lebih aktual saya temukan ketika membaca berita tentang film dokumentar The Act of Killing (TAK) (Jagal) karya sutradara Joshua Oppenheimer yang dinilai oleh BAFTA (British Academy of Film and Television Arts) sebagai film dokumenter terbaik tahun ini (link terkait). Dalam kata sambutannya, sang sutradara mas Joshua menyampaikan sebuah harapan supaya penghargaan atas filmnya ini dapat “mempercepat perubahan atas cara bangsa Indonesia berbicara tentang sejarahnya sendiri.” Berkat (atau untuk sebagian orang gara-gara) penghargaan ini, media dunia akan berbicara tentang ‘bencana moral’ yang terjadi di Indonesia sebagaimana dipaparkan dalam film tersebut. Sejarah gelap atau bencana moral yang dimaksud adalah pembantaian ratusan ribu (jutaan?) jiwa yang menjalari seantero negeri menyusul peristiwa G30S di tahun ‘60 an. Yang memprihatinkan adalah kenyataan bahwa sang sutradara terpaksa mengucapkan terima kasih kepada rekan Indoensianya secara anonim: dia tidak boleh disebut namanya dan tidak dapat hadir demi keselamatan jiwanya. Sungguh besar kekuatan sejarah hingga pengungkapannya dapat mengancam jiwa seseorang…

Ternyata, sejarah kelabu pembantaian itu masih tabu untuk dibicarakan secara terbuka. Seingat saya, baru presiden Abdurahman Wahid yang berani menyodorkan tema itu sebagai bahan pembicaraan nasional (lihat Kompas 15 Maret 2000). Sesudah Beliau, pembicaraan tentang pengungkapan sejarah kelabu itu ditarik mundur lagi ke alam bawah sadar anak-anak negeri.

Sejarah gelap itu sudah terjadi hampir setengah abad yang lalu. Tapi, sebagai bangsa, kita masih belajar mengeja untuk menyebutnya dalam percakapan terbuka. Tepatlah harapan sang sutradara, Joshua, agar penghargaan BAFTA yang diraihnya dapat membantu kita untuk menyikapi sejarah bangsa kita sendiri. Maka, tidak tepatlah menolak atau mengecam penghargaan itu karena alasan mencoreng nama baik bangsa. Nama baik bangsa justru terangkat kalau kita memperlakukan sejarah gelap itu dengan bijaksana. Ingatlah Nelson Mandela, begitu tanpa bosan dikatakan Goenawan Muhamad.

Jadi, mari kita cintai bangsa ini, negara ini, apa adanya, dengan kesuksesan dan kegagalannya, dengan kebesaran tetapi juga kekerdilannya. Jangan baru mencintainya manakala ia sudah sempurna. Cinta kitalah yang akan menyempurnakan bangsa dan bumi pertiwi ini.

Maka, kalau pada tanggal 2 Maret nanti film Jagal meraih penghargaan Oscar dan ada pejabat yang memprotesnya, dapat dipastikan bahwa pejabat itu belum mencintai bangsa ini apa adanya, tetapi mencintai bumi pertiwi karena ada apa-apanya…

Ville de Lumière, Senin 17 Februari 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s