Calvary: Ketika Pastor Tidak Lagi Jadi Bos… (sebuah resensi film)

calvary_ver2_xlg1

Romo James ( Brendan Gleeson) adalah sosok gembala yang baik bagi umat parokinya. Ia sungguh hadir bukan pertama-tama sebagai pengotbah tetapi sebagai ‘teman bicara.’ Ia mengenal dengan baik setiap domba gembalaannya. Ia kenal bagaimana Michéal (Michael Og Lane), seorang putra altar, punya kecenderungan memanipulasi, misalnya. Pengenalan ini muncul karena romo James senantiasa menyediakan diri untuk mendengarkan isi hati domba gembalaannya, di dalam maupun di luar ruang pengakuan. Tidak cukup menunggu mereka datang, ia sendiri akan berkanjang pastoral untuk bertemu dan berbicara dengan mereka. Singkat kata, romo James menerjemahkan fungsi kegembalaannya sebagai “komunikator,” artinya dia yang membangun komunikasi. Jika komunikasi dimaknai sebagai upaya membangun communio, persekutuan,  maka romo James memandang dirinya sebagai alat Tuhan untuk menjadi jembatan antara manusia dan sesamanya serta manusia dan Tuhan. Di samping itu, Romo James tampil sebagai seorang pribadi matang. Ia menjadi imam setelah istrinya berpulang dan putri semata wayangnya, Fiona, sudah mandiri dan bekerja di London.

Demikianlah, sutrada dan penulis film Calvary, John Michael Mc Donagh, menggambarkan pribadi romo James, tokoh utama dalam film terbarunya ini. Film yang mengambil lokasi di pantai timur Irlandia ini dapat dilihat sebagai semacam refleksi atas kehidupan menggereja di Irlandia yang belakangan ini diguncang oleh “tsunami” skandal pelecehan seksual. Di sana, para romo Gereja Roma Katolik dibidik sebagai pelaku utama di balik skandal yang disinyalir telah terjadi selama lebih dari setengah abad yang lalu itu.

Calvary dibuka dengan sebuah adegan di ruang pengakuan. Di ruang itu, kepada romo James, seorang pria bercerita tentang pelecehan seksual yang dideritanya dari seorang pastor. Ia menanggung siksaan fisik dan psikis itu sejak berusia tujuh tahun dan berulang-ulang terjadi selama lima tahun. Sang korban menutup kisahnya dengan sebuah permintaan tak terduga: ia ingin membunuh romo James, bukan karena romo James bersalah tetapi justru karena sang romo dianggap tak bersalah. “Buat apa membunuh seorang Romo yang banyak cacat cela. Tetapi, membunuh seorang Romo yang suci, di hari Minggu pula, hal itu akan menjadi berita!”

Maka ia mengundang romo James untuk datang sendiri ke pantai pada hari Minggu berikutnya.

Bangunan kisah Calvary diisi oleh perjumpaan dan perbincangan romo James dengan umat yang digembalakannya, pada seminggu sebelum kejadian di tepi pantai itu. Tidak semuanya menghargai upaya romo James untuk membangun komunikasi. Veronica (Orla O’Rourke), misalnya, yang terkenal punya banyak “teman tidur” pria padahal sudah menikah, tanpa ragu mengakui dosa perzinahannya kepada romo James tetapi tetap terus melakukan dosa yang sama. Atau Fitzgerald (Dylan Moran), seorang bankir kesepian, yang mengundang romo James ke rumahnya hanya untuk memamerkan kekayaannya. Atau tukang daging, suami Veronica, Jack Brennan (Chris O’Dowd), yang tidak peduli pada tingkah laku istrinya dan mengejek romo James dengan pertanyaan, “Apakah Tuhan masih ada?” Semua itu tampil sebagai ilustrasi bagaimana situasi masyarakat di Eropa sudah berubah. Imam, yang dulu sempat dipandang sebagai “penguasa” (sebutan Don, di Itali, misalnya, merujuk pada status ekonomi-sosial seorang imam sebagai tuan tanah), kini tidak lebih dari orang kebanyakan. Seorang imam bukan lagi “boss” yang perkataan dan perintahnya harus didengarkan dan dituruti.

Namun demikian, semangat romo James tidak surut. Ia yakin bahwa keimamatan tidak pupus karena penolakan dan pelecahan itu. “Jenisku tidak akan pernah musnah,” begitu ucapnya kepada Brendan (Pat Shortt), penjaga bar setempat. Ucapan romo James ini seolah ingin menjawab keraguan orang akan makna kehadiran imam khususnya dan Gereja Katolik umumnya di Eropa yang sedang dilanda krisis iman.

Krisis itu berwujud merosotnya jumlah imam dan tergerusnya jumlah umat yang hadir ke perayaan Ekaristi. Lebih dari puluhan ribu imam telah meninggalkan panggilannya di banyak negara Eropa (di Inggris sendiri sudah lebih dari 10 ribu imam menanggalkan jubah sejak lima puluh tahun yang lalu). Perayaan Ekaristi mingguan semakin senyap dari kehadiran umat. Akan tetapi, Calvary bukanlah cerminan sikap pesimis McDonagh. Ia ingin menggambarkan situasi nyata tanpa melepaskan harapan.

Harapan itu dihadirkan dalam sosok Theresa (Marie-Josée Croze). Theresa kehilangan suaminya dalam sebuah kecelakaan mobil. Romo James dipanggil untuk memberikan sakramen perminyakan. Dalam sebuah adegan di kapel rumah sakit, Theresa mengungkapkan kekuatan imannya. Kematian suaminya, katanya, tidak menghapus imannya akan Yesus. Sebab, ia dan suaminya telah menjalani hidup yang begitu indah selama ini. Mereka berdua saling mencintai. Baginya, kematian sang suami bukanlah sebentuk ketidakadilan yang ditimpakan Tuhan kepadanya. “Yang tidak adil adalah, mengapa begitu banyak orang tidak bahagia karena tidak saling mencinta. Saya merasa kasihan kepada mereka,” begitu ungkapnya.

Jika romo James setia menjadi pendengar yang baik bagi siapa saja yang ingin mengungkapkan isi hatinya, siapa yang bersedia mendengarkan isi hati romo James itu sendiri? Pertanyaan ini muncul karena di dalam film, romo James tidak pernah mengungkapkan keluh kesahnya. Misalnya, ia tidak bercerita kepada Fiona (Kelly Reilly), putrinya dari pernikahannya terdahulu, tentang kematian Bruno, anjing kesayangannya. Atau juga tentang rencana pembunuhan terhadap dirinya. Figur romo James, adalah figur yang kesepian. Padahal, kepada putrinya itu, yang beberapa kali mencoba bunuh diri karena gagal dalam percintaan, romo James berpesan untuk menemukan seseorang untuk berbicara agar bebannya dapat dikurangi.

Calvary akan berlalu begitu saja kalau kita menontonnya tanpa memperhatikan tidak saja detil dalam setiap percakapan tetapi juga dalam gambar-gambar yang ditampilkan. Permainan warna, misalnya, menyampaikan pesan sendiri. Warna merah menampilkan segala hal yang bersifat duniawi, yang cepat atau lambat akan musnah. Maka, warna merah dikenakan oleh sang sutradara pada mobil sport romo James (yang memang berfungsi untuk melaju), pada karpet yang terbentang di dalam gereja dan dinding seputar altar gereja paroki (musnah terbakar di pertengahan film. Yang tidak terbakar hanya altar yang berwarna putih), pada bunga mawar di taman kediaman uskup dan pada darah yang membuncah dari leher Bruno yang tersayat. Tidak hanya permainan warna, objek-objek tertentu pun memiliki pesan tersendiri. Laut, misalnya, digunakan oleh sutrada untuk menampilkan chaos purba di mana kematian meraja. Fitzgerald berkata kepada romo James kalau banyak orang mencampakkan dirinya ke atas batu karang di tepi laut. Ahli pembiusan Frank (Aidan Gillen) berkata kalau suami Theresa yang wafat dalam kecelakaan adalah ahli kelautan dan sekarang tinggal di kedalaman ‘laut’ (kematian) selamanya. Oleh karena itu, perbincangan antara romo James dan putrinya Fiona, tentang cinta, dengan latar belakang laut sungguh mengesankan: hanya cinta yang dapat mengalahkan kematian.

Tidak mudah mencerna Calvary sebagai sebuah film. Perlu dua atau tiga kali menontonnya untuk dapat masuk dan terlibat dalam pengisahannya. Calvary dapat dianggap sebagai microkosmos kehidupan imamat dan Gereja Eropa aktual. Tidak perlu jatuh dalam pesimisme melihat kenyataan ini. Tetapi jangan juga terbawa sikap jumawa karena mengandalkan kehebatan masa lalu Gereja.

Jangan putus asa: seorang pencuri telah masuk surga. Jangan jumawa: yang satunya masuk neraka. Begitu kutipan santo Agustinus yang mengawali film Calvary.

Gereja diundang untuk menghayati pondasi imannya, yaitu peristiwa salib Yesus di Kalvari yang berujung pada kebangkitan. Romo James menjadi personifikasi Gereja Eropa yang menyadari panggilannya. Ia setia menjadi jembatan, komunikator, pencinta kemanusiaan dan keilahian, meski beresiko kematian.

Paris, Minggu 7 Desember 2014

6 pemikiran pada “Calvary: Ketika Pastor Tidak Lagi Jadi Bos… (sebuah resensi film)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s