Isu Agama dan Sepotong Gitar

(dikutip dari artikel Trianto Severus, Kompasiana, atas ijin penulis)

guitar_pick___love_conquers_all_by_thelightandthedark1-d5q83cc

Menjelang tanggal 25 Desember, lalu-lintas gagasan di halaman facebook-ku diramaikan oleh perdebatan tentang boleh tidaknya saudara-saudari muslim mengucapkan ‘Selamat Natal’ kepada mereka yang merayakannya. Namanya juga perdebatan, pasti ada pro dan kontra. Seorang sohib sempat meninggalkan tanggapan: ah cerita lama…

Memang cerita lama, tapi toh tetap eksis karena masih menghadirkan tanya… balasku.

Teman lainnya berkoar: Asal jangan dijadikan konsumsi perdebatan murahan aja. Jangan sampai kayak film Nightcrawler : if it bleeds, it leads.

Waah, udah nonton ya… di mana?…. komentar teman yang lain, di luar konteks.

Ternyata, pada hari yang sama, riuh rendahnya obrolan seputar agama terjadi juga di luar halaman facebook pribadi. Di halaman depan Kompas edisi dunia maya, misalnya, tema itu dikibarkan oleh artikel berjudul: PBNU: Jangan Politisasi Isu Agama! Tempo.com tak mau ketinggalan bersuara tentang tema agama dalam artikel pendeknya di bawah judul : Syafii Maarif: Selamat Natal seperti Selamat Pagi. Kedua artikel ini menghembuskan roh yang sama yaitu roh persatuan dan persaudaraan dalam satu keluarga bangsa, Indonesia.

Gaduhnya pembicaraan tentang tema agama dapat menunjukkan satu hal: kita masih gagap melafalkan semboyan bersama, yaitu persatuan dalam perbedaan, Bhinneka Tunggal Ika. Mengapa, misalnya, unsur kekeluargaan yang terkandung dalam ucapan salam “Selamat Natal,” tiba-tiba seolah beralih wujud menjadi sebilah pisau yang mengancam identitas keagamaan seseorang? Haruskah, misalnya, topi sinterklas diganti saja dengan caping pak tani, agar tiada lagi jadi masalah di bulan Desember ini? Bagaimana menghayati iman pribadi secara utuh di tengah sesama saudara sebangsa yang punya penghayatan iman berbeda?

Kepada teman-teman diskusi di facebook, kutawarkan satu penghayatan hidup keagamaan yang pas dengan iklim keberagaman di Indonesia. Hidup beragama itu seperti bermain gitar, ungkapku.

Bah, maksudnya, tanya Ucok dengan logat Bataknya yang tetap dipasang walau hanya dalam bentuk tulisan.

Kujelaskan, seperti orang mau main gitar, dia harus nyetem senarnya dulu. Di kepalanya sudah ada pengetahuan kalau senar gitar itu ada enam, dan setiap senar punya nadanya sendiri. Tapi, pengetahuan saja tidak cukup. Dia mesti membunyikan senarnya dan mendengarkannya, apakah nadanya sudah pas atau belum…

Joko, teman diskusi asal Jogja berkomentar, terus, hubungannya sama hidup beragama apa?

Hubungannya mas Joko, jawabku, seperti penyetem gitar, kita yang mengaku beragama harus bisa juga membedakan sisi pengetahuan agama yang disebut sisi teologis, dan sisi bunyi atau apa yang disuarakan agama, yaitu sisi praksis humanisnya. Sisi teologis agama tidak dapat dipisahkan dari sisi praksisnya, karena ia menjadi dasar; persis seperti teori nada untuk setiap senar gitar. Tetapi keduanya toh perlu dibedakan. Demikian juga untuk hidup beragama. Agama tidak cuma perkara teologis tapi juga perkara praktis humanis. Dawai-dawai persaudaraan antar sesama manusia mesti dimainkan untuk menyampaikan merdunya kebenaran teologis setiap agama. Bukankah sebagai bagian dari budaya, setiap agama pada hakekatnya bertujuan mengangkat ciptaan Allah yang paling agung? Bukankah keagungan Allah justru semakin kentara dalam keluhuran dan kemuliaan manusia, ciptaanNya yang paling sempurna?

Wulan, mahasiswi sospol asal Bekasi tak mau ketinggalan berkoar, wuiii, mas Trianto berteologi nih. Bener sih. Agama bukan cuma perkara teologi alias ngomongin Tuhan, tapi juga perkara manusiawi juga. Mantabs bro… lanjutkan.

Dimas yang dari Purwokerto mencoba mengambil kesimpulan praktis, nah, kalau begitu, mengucapkan Selamat Natal atau Selamat Idul Fitri atau Selamat lainnya tidak mengingkari jati diri iman seseorang dong. Karena yang disentuh adalah dimensi praksis humanisnya dan bukan teologisnya. Bener gak bro?

Lah, kudunya mesti begitu. Kenapa sih apa-apa mesti langsung dihubungkan sama Tuhan. Memang, ketuhanan yang maha esa itu sila pertama, tapi kan perlu diingat kalau empat sila lainnya adalah penjabaran bagaimana ketuhanan itu mesti diwujudkan dalam kehidupan bersama, kembali Wulan ambil suara.

Nah, saya terusin ya…. potongku. Persis seperti yang dikatakan, eh ditulis den ajeng ayu Wulan (Wulan pun mengirim emoticon perempuan berselendang yang tersipu malu), kita tak perlu langsung ngomongin Tuhan. Setiap agama punya cara berbeda dalam membicarakan Tuhan. Tetapi, ada titik temu untuk setiap agama, yaitu manusia. Penghayatan akan Dia yang disebut Tuhan bisa berbeda-beda, tetapi kemanusiaan kita sama. Nah, ini point kedua. Kita mesti pintar menjaga tegangan antara persamaan dan perbedaan. Persis seperti menyiapkan gitar: harmoni akan tercipta kalau setiap senar berada dalam posisi tegang yang pas…

Wah, seru, tegang…. koment Ucok.

Husss, jangan saru kamu…. Balas Joko. Lanjut Tri…

Oke, jadi kita mesti menjaga tegangan yang pas antara perbedaan penghayatan akan Tuhan dan persamaan kemanusiaan kita. Tanpa perbedaan, gitar tak akan menghasilkan harmoni karena pertama, hanya ada satu senar dan kedua tidak ada tegangan. Jadi, kita tidak bisa membiarkan sikap iman kita lentur dengan mengatakan ah semua agama sama saja. Sikap ini adalah wujud ketidakpedulian terhadap keunikan iman kita sendiri dan iman lainnya. Sikap ini ibarat senar gitar yang kendor. Tetapi sebaliknya, kalau kita terlalu kencang menarik perbedaan setiap agama tanpa melihat manusia-manusia konkret yang menjadi penganutnya, kita juga bisa kehilangan keseimbangan. Ibaratnya, senar gitar yang putus karena ditarik kekencengan.

Waaah… ngerti aku, balas Dimas.

Jadi, gak pa-pa nih ngucapin selamat natal… gak dilarang juga kan berkunjung ke teman atau saudara nasrani yang merayakan Natal. Kayak dulu itu loh… Tanya Joko.

Lah, yang dirayakan kan bukan melulu sisi teologisnya bro. Tapi juga sisi humanisnya. Kayak sloganya Kompas.com itu loh… merayakan kemanusiaan…. Hehehe…. Timpal Wulan.

Dan jangan salah, ucapan Merry Christmas juga baru muncul di abad 19, gara-gara Christmas Carol nya Charles Dickens. Jadi, gak ada hubungannya sama teologi-teologian brawww… Imbuh Dimas yang tiba-tiba tahu sesuatu tentang sejarah Natal (mungkin setelah membuka wilkipedia…)

Singkat kata, mari kita nyanyi bersama: Sinantar tulo tulo a tulo oooo….

Ville de Lumière, Sabtu Pagi 20 Desember 2014

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s