Seri Kosa Kata Kristen (Bapa-bapa Apostolik): Paroki

Molnár_Ábrahám_kiköltözése_1850

Dengan seri ini, saya hendak sedikit mendalami kekayaan rohani yang terkandung dalam istilah-istilah Gereja yang begitu biasa terdengar dan digunakan. Sengaja diambil sebuah kurun waktu dalam sejarah Gereja (antara tahun 80-150) yang oleh para ahli biasa dinamai masa Para Bapa Apostolik. Mereka ini adalah orang-orang yang mengenal secara pribadi para rasul yang mengikuti Tuhan Yesus tetapi tidak termasuk dalam bilangan para rasul itu. Mereka meneruskan kepada generasi berikutnya apa yang diterima dari para rasul .

Itulah sebabnya mengapa para Bapa Apostolik menjadi begitu penting: mereka seperti menjadi jembatan yang menghubungkan antara “para saksi mata dan saksi telinga” yang melihat, mendengar dan menyentuh sendiri Sang Sabda yang menjadi daging dan generasi berikutnya yang tidak mengenal secara langsung Yesus dari Nazaret yang diimani sebagai Guru dan Tuhan. Oleh karena itu, tulisan-tulisan para Bapa Apostolik mencerminkan suatu peralihan, suatu proses bernarasi tentang Gereja sebagai persekutuan rohani yang hidup dari Roh Yesus sendiri. Gereja berjuang untuk mampu berkisah tentang identitas dirinya: dia bukanlah sebuah sekte Yahudi tetapi bukan juga bagian dari agama-agama Timur yang merebak di wilayah kekaisaran Romawi. Gereja harus menemukan jati dirinya sendiri berdasarkan ajaran Tuhannya.

Istilah-istilah yang coba dikuak maknanya dalam seri ini memperlihatkan proses itu. Bagaimana kata-kata Yunani kemudian diambil alih dan mengalami perubahan makna yang memancarkan kekayaan iman Gereja. Gereja tidak menciptakan istilah-istilah itu. Gereja menerimanya dari pihak lain dan mengolahnya sesuai dengan dinamika relasinya dengn Roh Yesus.

Kita mulai dari kata yang begitu dekat dengan kehidupan menggeraja kita sehari-hari: Paroki.

Bahasa Yunani Klasik:

Dalam Yunani Klasik, kata paroki berasal dari sebuah kata kerja PAROIKEIN yang berarti “tinggal di dekat” atau “tinggal di antara.”

Kitab Suci Yahudi Berbahasa Yunani (Septuaginta):

Septuaginta mengambil alih kata kerja PAROIKEIN untuk mengungkapkan situasi Abraham sebagai pengembara baik ketika tinggal di Mesir, di padang gurun, di tengah-tengah bangsa Filistin, maupun di Tanah Terjanji (Kej. 12, 10; 15,13; 20,1; 21,23; 23,4). Abraham tidak berada di tanahnya sendiri. Ia tinggal sebagai pengembara, sebagai orang asing (“ger” dalam bahasa Ibrani). Dengan demikian, PAROIKEIN dalam Yunani Klasik (yang berarti kurang lebih “bertetangga”) mendapat makna baru yang secara khusus terkait dengan pengalaman rohani Abraham dan keturunannya, yaitu bahwa bangsa pilihan Allah “tinggal sebagai orang asing” di muka bumi ini.

Perjanjian Baru:

Surat kepada umat Ibrani menggunakan istilah ini (Ibr 11,9) ketika menggambarkan situasi Abraham sebagai orang asing di muka bumi (Ibr 11, 8-16). Dalam Kisah Para Rasul (Kis 7,6,29), Stefanus mengingatkan bahwa keturunan Abraham “tinggal di tanah asing” dan bahwa Musa “menetap di tanah bangsa Median.” Surat Petrus pertama (IPet 2,11)menyebutkan bahwa para murid Yesus adalah “orang-orang asing dan pengembara” (Lihat juga Kis 13,17; Ef. 2,19; IPet 1,17).

Tulisan para Bapa Apostolik:

Dalam sebuah Kotbah dari abad kedua, PAROIKEIN berarti “tinggal di bumi ini”. Tiga tulisan (Surat Clemens, Surat Polycarpus kepada umat di Filipi, dan Kemartiran Polycarpus) menggunakan kata PAROIKEIN dengan makna yang sama. Istilah ini senantiasa digunakan dalam hubungannya dengan Gereja, bahkan setiap kali sebuah Gereja lokal disebutkan, kata kerja PAROIKEIN yang berarti “tinggal sebagai orang asing” dipakai.

Dengan demikian, Gereja lokal (baik itu Gereja Roma, Korintus, Philipi, Smirne atau pun Philomelium) senantiasa bersifat nomaden atau berada dalam pengembaraan, pembuangan, serba kekurangan, meskipun Gereja tersebut sudah menetap mantab teratur di tengah kota (Lihat Surat Gembala Hermas). Gereja tidak tinggal terikat dengan kota duniawi tetapi seperti Abraham dalam peziarahan menuju dunia yang lebih baik.

Dalam waktu singkat, pada masa itu orang tidak lagi menggunakan kata kerja PAROIKEIN (“menetap sebagai orang asing/pengembara”) tetapi mulai digunakan kata bendanya, yaitu PAROIKIA (pengembara) di tempat tertentu.

Versi latinya, “parochia” kurang menggemakan nuansa nomaden atau pengembaraan sebagaimana terkandung dalam istilah Yunani Septuaginta, Perjanjian Baru maupun tulisan para Bapa Gereja. Kita perlu selalu mengingat bahwa : “Setiap tanah air adalah tanah asing bagi orang-orang Kristen dan setiap tanah asing adalah tanah air mereka” (Surat Kepada Diognetus).

(Sumber: Dominique Bertrand SJ (introduction), Les Ecrits des Pères Apostoliques, Paris Cerf 1990)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s