Jadilah Sempurna Seperti Bapa

Ul. 26:16-19; Mzm. 119:1-2,4-5,7-8; Mat. 5:43-48.

martin luther

Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.

Penganiayaan bukanlah sesuatu yang asing bagi jemaat Kristen di mana Matius menulis Injilnya. Penderitaan umat Matius ini, misalnya terekam dalam perikop berikut: Sebab itu, lihatlah, Aku mengutus kepadamu nabi-nabi, orang-orang bijaksana dan ahli-ahli Taurat: separuh di antara mereka akan kamu bunuh dan kamu salibkan, yang lain akan kamu sesah di rumah-rumah ibadatmu dan kamu aniaya dari kota ke kota (Mt 23,34). Situasi penganiayaan yang sama diungkapkan dalam perikop berikut: Apabila mereka menganiaya kamu dalam kota yang satu, larilah ke kota yang lain; karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sebelum kamu selesai mengunjungi kota-kota Israel, Anak Manusia sudah datang (Mt 10:23). Sikap jemaat menanggapi penganiayaan dan penindasan yang mereka alami akan menunjukkan jati diri mereka dan karena itu juga masa depan serta keberlangsungan hidup mereka sebagai komunitas para pengikut Yesus orang Nazaret.

Bagi Matius, jadi murid Yesus dari Nazaret berarti menjalani panggilan untuk menjadi sempurna (teleios) seperti Bapa adalah sempurna. Caranya adalah imitatio Dei, mengikuti Yesus: Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku (Mt 19,21). Menjadi sempurna berarti memenuhi tujuan (teleios) kita sebagai manusia, menjadi manusia secara penuh, menjadi matang dan dewasa . Kebencian dan balas dendam tidak memberikan kepenuhan. Kebencian tidak dapat dipuaskan dengan balas dendam dan balas dendam tidak dapat menyembuhkan luka hati. Seperti setiap dosa, kebencian dan dendam hanyalah sebutan lain untuk “kegelapan,” “kekosongan” atau “ketiadaan.”

Jika Injil hari ini mengajak kita untuk berbuat baik bagi mereka yang menjahati kita dan berdoa bagi mereka yang menganiaya kita, itu semua karena Yesus dari Nazaret telah melakukannya lebih dahulu sebagai contoh dan teladan bagi kita. Jemaat Matius dan jemaat Gereja Perdana lainnya bukan saja telah mampu bertahan tetapi mereka juga telah mengubah sejarah dunia yang sampai saat itu hanya berpegang pada prinsip mata ganti mata – gigi ganti gigi.

Dendam  dan kebencian tidak menyembuhkan luka

Cinta dan pengampunan mengobatinya

Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria melindungi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s