Nonton Bareng “Senyap”: 50 Tahun Yang Lalu, Bumi Pertiwi Berembunkan Darah

sp12-cAdi-puts.img_assist_custom-596x338

“Sejarah ditulis oleh para pemenang,” begitu ucapan salah seorang tokoh utama dalam film dokumenter Jagal karya Joshua Oppenheimer. Sebuah pernyataan yang menarik karena menunjukkan kalau sejarah itu bukanlah ilmu pasti. Penulisan sejarah lekat dengan subjektivitas si penulis. Di samping itu, kata kerja “ditulis” mendekatkan sejarah dengan karya sastra yang bersifat fiktif. Sebagai tulisan tentang masa lalu, sejarah memerlukan wadag, badan, agar ia bisa hadir kembali bagiku saat ini. Badan itu adalah tubuh naratif. Maka, baik novel yang bersifat fiktif maupun tulisan sejarah yang mengolah fakta, akan dapat dipahami kalau disusun sebagai sebuah kisah yang disatukan oleh waktu naratif: awal kisah, puncak kisah dan akhir kisah. Tanpa waktu naratif, baik sejarah maupun novel tak dapat dipahami.

Waktu naratif untuk penulisan sejarah tragedi ‘65 rasanya tak beranjak jauh. Sampai saat ini, 50 tahun setelah kejadian itu, para pemenanglah yang masih mencengkeram kuat pena penulisan sejarah. Hal itu terungkap jelas dalam film dokumenter Senyap yang kemarin malam kami tonton bersama-sama. Atas inisiatif PPI Paris, kami beruntung dapat menyaksikan film dokumenter ini tanpa harus menunggu bulan Oktober, bulan peluncuran film Senyap secara resmi di Paris.

Bagaimana pihak yang kalah, atau korban, dapat menulis sejarah dari sudut pandang mereka kalau para penjagal masih berkuasa, kalau kekuasaan mereka disandarkan pada perbuatan keji mereka 50 tahun yang lalu, kalau para korban masih terus dicap sebagai pihak yang salah, kalau pihak korban sendiri lebih memilih memendam ingatan itu karena rasa takut?

Seperti diungkapkan seorang narasumber dalam diskusi seusai pemutaran film, bahasa film Senyap adalah bahasa puisi. Sisi puitis film itu terjaga dari awal sampai akhir. Senyapnya suasana di penghujung film terdengar begitu nyaring ketika dari layar hitam berleretan begitu banyak nama anonim di antara nama para kru yang terlibat dalam pembuatan film dokumenter ini. Kita masih belum beranjak begitu jauh dalam penulisan sejarah tragedi ‘65. Kita masih di titik awal; dengan narasi yang sama dan pengulangan yang itu-itu juga: kalau anggota PKI itu sekeji setan, kalau orang-orang komunis itu bisa tukar-tukar pasangan, “istrimu-istriku.” Kisah ini harus dipertahankan karena masih banyak orang yang menggantungkan kekuasaannya pada kisah seperti itu. Itu sebabnya, hanya dengan bersembunyi di balik nama anonim, mereka dapat bertutur secar berbeda. Tahun 1965, rasanya, masih seperti kemarin lalu…

Satu contoh lagi berkaitan dengan bahasa puisi film Senyap. Di bagian awal, kamera mengambil gambar kedua anak Adi, sang tokoh utama, sedang duduk-duduk di tepi sebuah kolam besar di pusat kota. Yang perempuan bertanya pada kakaknya, berani tidak berenang ke dalam kolam. Sang kakak menjawab, harus tahu dulu, berapa dalamnya. Sebuah pengantar yang pas bagi Adi, yang akan menceburkan diri ke dalam sejarah kelam keluarganya di tahun ‘65, dengan mendatangi dan mewawancarai para pembunuh Ramli, kakak kandungnya yang tak pernah dilihatnya.

Seorang narasumber lain mempertanyakan metode Joshua dalam penggarapan film dokumenter ini. Salah satu pertanyaannya adalah apakah Joshua sudah memberitahu para algojo yang diwawancarai kalau wajah dan suara mereka akan dijadikan sebuah film yang dapat dilihat banyak orang di penjuru dunia. Bagaimanapun juga, Joshua harus menjaga sisi etis dalam menggarap film seperti ini. Seorang peserta diskusi menanggapi kalau pemerintah Indonesia, khsususnya selama rezim Orde Baru, adalah pihak pertama yang telah berlaku tidak etis dengan mengabaikan pengusutan atas tragedi ini.

Bagi saya, film Senyap ini jelas sebuah film yang berpihak. Dia bukanlah film yang adil, kalau keadilan dipandang semata-mata sebagai keseimbangan, tak berpihak. Yang terpenting adalah, dalam film ini, seorang korban diijinkan bersuara, betutur, berkisah dan kisahnya didengarkan tidak saja di Indonesia tetapi di banyak negara. “Dengarkan ceritaku dan tangkap keluh kesahku,” kurang lebih itu seruan Adi di sepanjang film ini. Ada yang menolak untuk mendengarkan karena tak mau terseret ke perbincangan politik. Ada yang menantang balik dengan berkata, “Kembangkan terus paham komunismu.” Ada yang marah karena menyinggung kehormatan kepala keluarga mereka. Tetapi, untunglah, ada yang menangkap penderitaan batin Adi: seorang putri, meminta Adi memaafkan bapaknya yang terlibat dalam pembantaian itu, “Bapak saya sudah tua. Dia sudah pelupa. Dia sering tidak tahu, siapa yang masuk lewat pintu rumahnya. Saya berhenti kerja untuk merawat bapak, karena dia tidak punya siapa-siapa lagi. Maafkan bapak saya ya. Sering main ke sini. Anggap saya keluarga. Anggap bapak saya, bapak mas Adi juga.” Adi pun menyalami putri dan bapaknya itu dan keluar dari rumah itu dengan tetesan air mata. Ini bagian paling menyentuh dari seluruh film dokumenter berdurasi lebih dari satu jam.

Harapan menulis sejarah secara berbeda masih ada…

Paris, Sabtu 28 Maret 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s