Tragedi Jumat Paris

Malam itu,  kami,  7 romo pelajar Indonesia, makan malam bersama di salah satu ruang di gedung Missions Etrangères de Paris. Hadir pada saat itu romo Bagyo dan romo Danang dari keuskupan Purwokerto, romo Andreas dari keuskupan Padang,  romo Willian dari Amboina, romo Henry SVD, romo Wawan SJ dan saya.

Santap malam usai sekitar pukul 22.00.  Beberapa saat,  di dalam kamar,  saya menerima pesan WA dari romo Henry dan romo Wawan.  Keduanya melaporkan berita yang beredar dari mulut ke mulut kalau ada aksi penembakan dan pengeboman di Paris. Supir bus yang ditumpangi romo Wawan juga memberi tahu supaya menghindari wilayah tertentu di Paris. Saya teringat satu artikel di Gazzetta dello Sport yang saya baca siangnnya.  Artikel itu  memaparkan satu ancaman bom saat pertandingan persahabatan Perancis – Jerman berlangsung. Dan malam itu,  ancaman bom tadi benar-benar terbukti.

Dari group WA, saya beralih ke berita televisi. Informasi yang datang dari televisi juga serba simpang siur: ada bom,  ada penembakan,  dst.  Pelan-pelan,  menjelang pukul 01.00 dini hari,  mulai ada sedikit gambaran yang lebih jelas tentang apa yang baru saja terjadi.  Ada 6 penyerangan yang terjadi bersamaan di Paris.  Ada bom bunuh diri di dekat stadion, ada aksi penembakan di pusat kota, dan penyanderaan di gedung konser,  Bataclan. Presiden Hollande pun memaklumatkan keadaan darurat. Kepolisian Paris mengeluarkan pernyataan supaya warga Paris tidak keluar rumah.

Minggunya ,  saya berjalan mengunjungi lokasi kejadian. Yang saya kunjungi adalah Rue Fontaine au roi di  mana 5 jiwa melayang dan gedung konser Bataclan.

Yang dapat saya lihat,  lokasi penembakan adalah lokasi di mana anak muda biasa menghabiskan waktu di akhir pekan,  khususnya Jumat malam.   Sepanjang jalan berbaris restoran cepat saji dari kebab sampai masakan Cina. Mungkin seperti jalan Sabang nya Jakarta.  Kemudian,  dari lubang peluru di kaca jendela,  kelihatan kalau pelaku aksi penembakan bukan orang yang baru pertama kali memegang senjata. Arah peluru tepat menyasar orang yang duduk di balik kaca.

Satu hal yang menggugah rasa: solidaritas warga Paris.  Di tengah tragedi,  banyak pihak mengulurkan tangan membantu mereka yang kesulitan : seorang ibu menampung 30 orang yang lari dari gedung konser Bataclan,  supir taksi memberikan tumpangan gratis mengingat pada saat itu metro berhenti beroperasi demi keamanan, keesokan harinya antrean mengular di banyak rumah sakit untuk donor darah.

Yang jelas,  aksi kekerasan yang merenggut ratusan jiwa ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan agama.  Agama sejatinya lahir dari perwahyuan dan perwahyuan memberikan terang pada kesadaran. Terang kesadaran membuka mata pada hakikat manusia,  yang satu dalam keragamannya. Tindak penyerangan kali lalu lebih didorong oleh benci.  Jika kesadaran membuka mata,  kebencian menutupnya.  Manusia yang dikuasai benci kehilangan kesadarannya dan berhenti jadi manusia.  Ia seperti peluru yang mematuk dan menikam tanpa mengetuk dan bertanya.  Di mata peluru,  manusia hanyalah target dan sasaran,  tanpa relasi dan kisah. Kebencian ingin membangkitkan kebencian lainnya,  mengundang orang lain berhenti jadi pribadi, dan berubah jadi peluru.

image

Paris,  16 November 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s