Kugenggam Lembut Jemari Puisi

Pacarku cemburu pada puisi. “Kauberi sinar matamu padanya dan bukan padaku,” untukku kesal itu dialamatkan. Setelah diam sejenak untuk memamerkan wujud cemberut wajahnya, ia merenggut buku kumpulan puisi itu dari tanganku dan dibenamkannya di bawah lipatan kakinya. ” Spontan, tangan kananku terjulur hendak merebut kembali buku itu, tetapi demi perdamaian dunia, kuurungkan niatku ini. Hanya bunyi desahan yang keluar dari kedua bibirku, tanda menyerah dan pengakuan, tuduhannya benar.

Apa aku salah berpacaran dengan seorang penyair? Penyair mana yang tidak terbang ke langit ketujuh begitu tahu syairnya dicintai orang?

“Kalau orang lain yang tergila-gila pada puisi-puisiku, okelah. Tetapi mestikah kubersaing dengan puisi-puisiku sendiri demi perhatianmu!” Begitu dampratnya suatu kali di dalam warung usai menonton sebuah pertunjukan teater.

Dengan meremas mesra jemari kedua tangannya,kucoba memadamkan api cemburu yang mengganasi hatinya. “Sayang, sebagai penyair engkau tentu tahu, puisi-puisimu adalah anak-anak kandungmu sendiri. Ibu mana yang cemburu pada anak-anaknya sendiri?”

“Kau tidak mencintai puisi-puisiku sebagai buah kandunganku. Kau mengasihi mereka sebagai…. kekasihmu!” Saat itulah ia mulai sesegukan, lantas menarik jemarinya lepas dari genggamanku, dan menyeka air mata yang pelan tapi pasti menetes dari kedua matanya yang besar itu.

“Duh, kalau begitu, aku bisa kena dakwaan pedhopilia dong!” Begitu peringatan batinku sendiri.

***

Mungkin ini salahku. Dia jadi sepiawai ini meracik kata-kata gegara pengaruhku jua. Akulah yang memperkenalkannya pada mukjijat bahasa.

“Tahukah kau sayang, semesta ini tercipta lewat kata.’Pada mulanya adalah kata*’?” begitu ucapku suatu malam ketika kami duduk berdua di sebuah warung persis di atas kebun teh, sambil menikmati jagung bakar.

Sambil menunjuk langit bertabur bintang, kulanjutkan bisikan filosofis bahasaku ke telinganya,” Langit biru di atas sana tingga tetap kanvas hampa tanpa kedua mata batin kita yang kita sebut bahasa. Bahasalah yang memaknai apa yang kita terima lewat indera. Berkat bahasa, kejadian silih berganti dapat diatur menurut ruang dan waktu agar jadi pengalaman yang bernilai.”

” Bagaimana bahasa mencipta semesta kalau kitalah yang menciptakan bahasa?” sanggahnya setelah menelan butiran jagung bakar yang sudah dilumatgiling oleh barisan giginya yang putih dan berjejer rapi itu.

“Kau yakin kitalah yang menciptakan bahasa? Sekarang kutanya. Siapa yang lebih dulu ada ketika kaulahir, kau atau bahasa? Kita dilahirkan ke dalam bahasa dan bukan sebaliknya. Sebelum kita menggunakan bahasa sebagai alat, ia lebih dulu jadi ibu kandung keberadaan kita di dunia ini. Bahasa adalah rumah bagi ada**,” hasutku sambil menyertakan kutipan seorang pemikir tersohor.

Kutaktahu, apakah kekasihku yang baru saja lulus S1 ini menangkap makna bisikan filosofisku. Yang pasti, dia diam sambil menatap langit biru. Di atas sana bintang bertaburan. Di tanganku, barisan biji jagung bakar siap kulumatkan.

***

Tidak membutuhkan waktu lama setelah peristiwa jagung bakar malam itu, pacarku mulai keranjingan membaca buku-buku sastra, puisi-puisi pada khususnya. Dikulitinya satu persatu kumpulan puisi Chairil Anwar. Dengan semangat, dikisahkannya padaku kekagumannya pada pelopor angkatan ’45 itu. Pilihan katanya, dasyat bingit, kagumnya:

Hidup hanya menunda kekalahan… sebelum pada akhirnya kita menyerah

Disenandungkannya baris terakhir Derai-derai cemara karya pujangga ’45 itu.

Karya-karya Sutardji mengawali harinya :

hari ini aku berdarah. kapak hitam menakik almanakku. pecahlah rabuku mengalirlah…

serunya mendeklamasikan Berdarah nya sang presiden puisi Indonesia setelah menyeruput kopi.

Di dalam bis, kekasihku ditemani bocah kata-kata dari syair-syair Sapardi:

Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni

Dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu di jalan itu***

Sebelum tidur, disempatkannya bergayut pada kata-kata mesra Rendra sebelum akhirnya terlelap dalam mimpi puitisnya sendiri:

Adapun tergolek di pangkuan

Bukan apa selain kenangan****

 

Hanya di tempat kerja, puisi absen dan tidak bisa bersamanya.

Pada masa-masa itulah, pacarku keranjingan kata. Tiada cemburuku, malah bangga. Berhasil kutularkan padanya dunia bahasa. Hingga lahirlah kumpulan puisi pertamanya dan….. aku jatuh cinta padanya… pada puisi-puisinya.

Semesta bahasa yang kuperkenalkan berbalik menjadi figur yang menaklukkan diriku sendiri. Aku bukanlah penguasa kata-kata. Aku bertekuk lutut di depan bahasa, lewat kumpulan puisi kekasihku ini. Dari syair-syairnya muncul cakrawala di mana aku bisa bermain dan menjadi diriku sendiri. Kata-kata puitisnya telah menyihirku sekaligus membebaskanku.

Tiada jalan tengah dalam masalah ini. Tiada bentuk pilihan selain atau…atau… Atau kekasih penyairku atau puisi-puisinya. Penyair laksana ibu yang mati begitu puisi lahir ke dunia ini.

***

Malam. Gerimis. Di warung di atas kebun teh. Warung yang sama seperti beberapa tahun sebelumnya. Langit yang sama. Hanya gerimis yang bertamu tanpa pesan.

Kami duduk berdua. Diam. Tanpa kata. Tanpa jagung bakar. Gemerutuk jemari gerimis di atas atap seng laksana dentuman meriam. Canda gerimis seolah mengejek kebekuan kami.

“Mas,” desahnya menyibak kesunyian,”Kausalah.”

Aku berusaha diam, tak bergerak, berupaya tak memberi gerak-gerik yang dapat ditafsirkan segala yang akan dikatakannya. Diapun melanjut.

“Kausalah selama ini. Puisi-puisiku bukan anak kandungku. Dia keturunan yang sah dari bunda kehidupan. Aku hanyalah dukun bayinya, bidannya. Kalau aku harus cemburu, kucemburui kehidupan yang menjadi ibu kandungku sendiri: ibu kandungku dan puisi-puisiku. Tidakkah kautemukan terang wajah bunda kehidupan dalam senyum manis putra-putri puitisnya?”

Seperti aliran sungai yang sejuk, kekasihku terus bicara.

“Kurela kauduakan asal kau menemukan wajah kehidupan dari puisi-puisi ini. Biarlah imajinasiku mati di benakmu asal wajah cerah bunda kehidupan mengayomi langkahmu.”

Pada saat itu, diarahkannya wajah bulat telurnya padaku. Dan kulihat sinar di kedua bola matanya.

Aku terkesima.

Kekasihku, pada waktu itu, menjelma menjadi puisi hidup. Cakrawala membentang di matanya dan di sana kubiarkan diriku seutuhnya tenggelam.

Tirai gerimis masih menyelimuti malam. Tapi kami tahu, meski tak tampak, bintang masih bersinar di atas sana. Dan di warung ini, tiada jagung bakar di tanganku. Kugenggam lemut jemari puisi.

 

Ville de Lumière, Senin sore 25 April 2016

* Awal kredo puisi Sutradji Calzoum Bachri

** Kutipan dari filsof Martin Heidegger

*** Penggalan puisi Hujan Bulan Juni karya Sapardji Joko Damono

**** Penggalan puisi WS Rendra, Tidurlah Intan
Dari blog sahabat. Selengkapnya : http://fiksiana.kompasiana.com/triantoseverus/kugenggam-lembut-jemari-puisi_571e00e40f9773fe068b4576

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s