Matinya Seekor Kecoak

Ketika kau menghakimi orang lain, kau menghakimi dirimu sendiri…  

Kemarin malam, aku membunuh seekor kecoak. Saat itu pukul sebelas malam lewat sedikit. Suara gledek menembus kaca jendela dan melesat sampai ke kamar mandi. Ya, di luar sana, hujan deras sedang bercengkerama dengan kegelapan malam. Aku sendiri sedang di depan cermin, di kamar mandi, sedang bersiap menggosok gigi. Sementara pasta gigi kuoleskan ke atas bulu-bulu sikat gigiku, melesat keluar dari kolong lemari baju di sebrang kamar mandi satu wujud kecoklat-coklatan. Mulanya, mahluk itu merayap lurus ke arah kamar mandi yang terbuka. Tapi kemudian, tanpa mengurangi kecepatan, ia berbelok masuk ke bawah bibir pintu kamar mandi dan lenyap di dalam kegelapan antara pintu kamar mandi dan tembok koridor kamarku. Tingkah polah mahluk coklat itu menghentikan niatku menyikat gigi. Aku sudah curiga kalau mahluk yang barusan melintas tadi itu adalah kecoak. Tapi dari mana dia datang? Bukankah baru tadi siang kusapu dan kemudian kupel lantai kamarku dengan air hangat bercampur karbol aroma pohon pinus? 

Didorong rasa ingin tahu bercampur sedikit rasa jengkel, kuberanjak dari depan cermin wastafel dan melangkah keluar kamar mandi, ke koridor kamar. Cahaya lampu menyapu kegelapan area di balik pintu ketika perlahan kujauhkan pintu dari tembok koridor. Dan di sana, di ujung sana, di bawah terang lampu, di dekat engsel pintu, tampak seekor kecoak diam terpaku. Kecoak itu berukuran sedang, tidak begitu besar maupun kecil. Mungkin dia kecoak remaja batinku. Yang menarik perhatianku adalah sikap diam sang kecoak remaja: dia tidak bergerak, diam terpaku di sudut antara daun pintu kamar mandi dan tembok koridor. Kugerak-gerakkan pintu kamar mandi dengan bayangan dia akan paling tidak beringsut lebih ke pojok. Tetapi, gerakan pintupun tidak membuatnya berpindah posisi. Kucoba gerakan mengancam yang lebih nyata dengan menghentak-hentakkan kakiku sambil mendenguskan bunyi,”Huusss!” Namun, jangankan berpindah tempat, menggerakkan sungutnya pun tidak. Gila! Batinku. Masih remaja saja sudah tidak kenal takut, gimana kalau sudah jadi kecoak beneran nanti. 

Pada saat itulah kuteringat sepupu perempuanku yang begitu takut akan kecoak. Rasa takutnya akan kecoak begitu hebat sampai membuatnya menjerit histeris dan berlompatan demi menyaksikan seekor kecoak yang melantai di depannya. Meski sudah berusia lebih dari 20 tahun, sepupu perempuanku ini masih memelihara ketakutan yang sama. Pernah kutanya padanya, kenapa seekor kecoak bisa membuatnya menjerit histeris sejadi-jadinya. Dia pun menjawab, karena kecoak itu binatang kotor, menjijikkan. Kubalas, kalau begitu, kenapa mesti harus menjerit dan melompat ketakutan; hajar saja dia dengan sapu atau sandal atau semprotkan obat nyamuk biar mampus. Saudara sepupuku menjawab, begitu ketakutan dan begitu jijiknya dia sampai- sampai tidak bisa melakukan itu semua.

Memang, biasanya, kalau sepupuku ini berpapasan dengan seekor kecoak, dia akan menjerit dan memanggil entah mbaknya entah mamanya untuk membunuh mahluk menjijikkan dan jahanam itu. Kasus sepupu perempuanku, sejauh yang kutahu, adalah sebuah contoh yabg sangat bagus akan kekuatan perasaan yang muncul dari prasangka, praduga, prapikir atau segala hal yang diam di bawah sadar. Baginya, seekor kecoak mewakili dunia yang berbeda, dunia yang kotor, yang dapat menularkan kekotoran cukup dengan kehadirannya saja. Bisa jadi, dia membawa milyaran kuman, bakteri, virus, dan segala bibit penyakit yang bertengker di kedua sungut-sungutnya, di sekujur badannya, dan juga di deduri kecil yang menyelimuti seluruh kaki-kakinya. Begitu pernah ia ucapkan. Bayangan ini membuatnya lumpuh dan histeris di depan kehadiran seekor kecoak…

Ingatan akan sepupuku perempuan membuatku sedikit takut juga di hadapan kecoak remaja yang memojok di bawah tatapanku. Bagaimana kalau dia membawa milyaran bakteri di sekujur badannya? Bagaimana kalau dia tiba-tiba terbang ke arahku dan membenamkan kakinya yang bersisik duri itu ke mulutku? Bayangan ini memperbesar rasa takut dan juga jijikku. Dari sana terbitlah sebuah niat: kecoak remaja ini harus kubunuh! Tapi bagaimana? Membunuh dengan menghantam dan meremukkannya bukanlah sebuah langkah yang bijak. Organ dalam tubuh kecoak yang berceceran akan menyebarkan milyaran bakteri ke dalam koridor kamarku ini.

Aku ada ide lain. Pertama, kecoak remaja ini akan kulumpuhkan dulu. Dengan apa? Dengan semprotan pengharum ruangan karena kutak terbiasa menggunakan obat nyamuk semprot. Pengharum ruangan biasanya mengandung alkohol dan mungkin, semprotannya, dalam kadar tertentu, dapat membuat kecoak remaja ini mabuk dan lebih mudah ditangani. Setelah itu, kecoak yang setengah mabuk ini akan kuserok dengan slembar karton dan secepatnya kulemparkan ke dalam jamban. Begitu tiba di kedalaman sana, akan kupencet tombol dan mengalirlah kau kembali ke kegelapan…

Puas dengan rencana pembunuhan ini, segera kubergerak cepat menarik peralatan pembantai: secarik karton yang kurobek dari kotak pembungkus minuman ringan; sebuah gelas plastik untuk mengurung kecoak remaja itu dan sekaleng semprotan pengharum yabg masih penuh. Perlahan, botol semprotan pengharum ruangan kudekatkan ke arah kecoak yang masih diam terpaku. Bantalan jempol kananku bersiap menekan tombol semprotan. Dan dia tetap diam di sudut sana. Muncul sebuah bayangan di benakku: kecoak itu menengok ke arahku dan menatapku langsung ke kedalaman kedua bola mataku. Lewat tatapan itu, ia hujamkan sebuah tanya: mengapa? Ya, mengapa kau, manusia ingin menghabisiku? Tolong jawab dulu pertanyaan ini sebelum kautuntaskan niatmu menghapus keberadaanku dari sudut koridor kamarmu ini. Apakah pembunuhan ini adalah tindakan yang perlu kaulakukan? Pernahkah melintas di benakmu bahwa akupun mahluk ciptaan Tuhan. Sebagai mahluk ciptaanNya, aku juga berhak hidup dan berada di dunia ini. Tolong kaurenungkan dulu makna keberadaanku ini sebelum kaulanjutkan tindakanmu. Apakah Tuhan menciptakanku hanya untuk dibunuh dan ditiadakan? Apakah aku hadir hanya untuk dilenyapkan? Jawab dengan jujur: mana yang lebih mendorongku melenyapkanku: bahaya yang nyata atau ketakutan dan rasa jijikmu yang luar biasa? Apakah kaumembunuhku hanya karena KITA BERBEDA? Diam kau…. coro! Seruan batinku menghancurkan gugatan batinku sendiri dan segera kutekan penyemprot pengharum ruangan. Seketika itu juga semburan cairan pengharuman ruangan mengalir deras mendorong kecoak itu ke sudut. Tak ada jalan keluar selain kematian baginya. Di depan mataku, ia meronta-ronta menerima terjangan semburan cairan yang keluar dari botol pengharum ruangan. Dalam hitungan detik, ia tenggelam dalam buih putih dan kemudian terjungkal dengan sisi perut menghadap ke atas akibat terpaan yang tiada henti. Pada saat itulah kuhentikan semburanku. Di tengah buih cairan pengharum ruangan, kecoak yang basah itu menggerak-gerakkan kakinya hendak bangkit dan menjejak kembali ke tanah dengan ketiga pasang kakinya itu. Namun usahanya itu jelas dijawab oleh kesia-sian belaka. Dalam situasi seperti itulah, kukuputuskan menyerok dia dengan kertas karton, mendorongnya masuk ke dalam gelas plastik, kumelangkah ke arah jamban dan dengan membalikkan gelas plastik, kukirim dia ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Plung! Diapun jatuh di sana dan mengapung sambil terus meronta, berjuang dengan seutas asa penghabisan mempertahankan keberadaannya di dunia mahluk hidup. Di bawah tatapan mataku, kulihat ia terus meronta dengan gerakan kakinya. Dan kutuntaskan misiku dengan menekan tombol flush dan sluruuup… arus airpun mengirimnya ke dunia bawah tanah: dari mana dia datang, ke sana dia berakhir.

Malam berikutnya aku tertidur berselimut keringat dingin di sekujur badanku. Di dalam tidurku, jutaan kecoak seukuran manusia mengepungku. Dengung dan suara gesekan jutaan pasang kaki mereka mengisi udara. Tiba-tiba tanah bergetar ditingkahi suara dentuman. Kemudian, dari balik kerumunan itu, tampil seekor kecoak perak. Ujung keenam kakinya berbentuk godam berwarna keperakan. Dia melangkah mendekatiku dan setiap kali kaki godamnya menyentuh bumi, tanah bergetar diringi suara dentaman. Ketika kepalanya tepat berada di hadapan wajahku, ia berhenti. Gambar diriku terpantul di dalam jutaan pixel matanya yang juga keperakan. Lalu ia mengepakkan sayap-sayapnya, dan perlahan tubuhnya terangkat menjauh dari tanah. Kaki-kaki godamnya terjuntai dan diayun-ayunkannya persis di depan mataku. Bau bahaya maut kucium di udara. Dan benar, salah satu kakinya mengayun dan menghantam batok kepalaku. Tengkorakku pecah oleh hantaman kaki godam peraknya dan dari sana berhamburan isi kepalaku: segala prasangka dan praduga, segala ketakutan dan penyakit jiwa lainnya; semuanya berhamburan dan menyebar di udara…

Ville-de-lumiere, Rabu dini hari, 14 Oktober 2015  

Selengkapnya : http://fiksiana.kompasiana.com/triantoseverus/matinya-seekor-kecoak_561d7716919773870ffa0f47

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s