Membedah Wawancara Ahok Tentang Trotoar yang Berujung Kisruh 

Media sosial dihebohi perkara “Surabaya hanya Jakarta Selatan” yang terucap dari mulut seorang Ahok. Bu Risma, sang Wali Kota Surabaya sampai gelar jumpa pers. Tujuan jumpa pers, seperti terungkap dari Ibu Risma sendiri, untuk meredam kemarahan warga Surabaya. Salah Surabaya apa sampai diserang sedemikian rupa oleh Ahok, demikian kira-kira gundah gulana seorang Ibu Wali Kota. Tetapi benarkah Ahok menyerang Surabaya dengan pernyataannya? Menafsirkan memang perkara pribadi. Tetapi, menafsirkan bukan berarti seenaknya. Ada kaidah-kaidah tertentu yang menentukan bagaimana sebuah penafsiran dapat dikatakan mendekati kebenaran atau sekadar ngawur. Kaidah paling kuat adalah memahami struktur penyataan itu dan konteksnya. Maka, saya mengundang sidang pembaca untuk memahami konteks dan struktur pernyataan Ahok yang membalut sumber kisruh Risma-Ahok tadi. Saya mengambil video wawancara Ahok seperti dapat dilihat di bawah ini sebagai sumber utama. 

video

Video diawali dengan pertanyaan seorang wartawan yang membandingkan kondisi trotoar di Jakarta dan di Surabaya yang lebih teratur. Jawaban Ahok, “Memang. Makanya kita mau belajar dari Bu Risma. Bu Risma menata itu butuh waktu yang lama.” Lantas Ahok menguraikan jenjang karir bu Risma yang memang tidak jauh dari penataan Kota Surabaya: dari Kepala Dinas Taman, lalu bapeda, lalu Wali Kota, “Itu sudah di atas sepuluh tahun…. Kasih saya waktu, saya beresin.” Menanggapi jawaban Ahok, wartawan yang sama bertanya lagi, “Butuh dua periode?” Ahok tidak menjawab secara langsung butuh berapa lama tetapi memberi sinyal kalau akan ada perubahan penampakan trotoar di jalan-jalan utama Jakarta. 

Analisis Bagian Pertama 

Ini bagian pertama dari video yang mengaitkan Jakarta-Surabaya, Ahok-Risma. Saya menamakan bagian ini: Bangun Trotoar Butuh Waktu. Bagian ini bisa dibagi dua: pertama, pengakuan Ahok bahwa trotoar di Surabaya sudah bagus (memang…) dan keberhasilan itu tidak bisa dilepaskan dari usaha perempuan pertama yang menjabat Wali Kota Surabaya (Makanya kita mau belajar dari bu Risma). Bagian kedua: pernyataan Ahok kalau membangun itu butuh waktu. Seperti halnya Bu Risma berhasil menata Surabaya tidak hanya sebagai wali kota tetapi juga sedari awal karirnya sebagai PNS di Surabaya (Bu Risma menata itu butuh waktu lama… Itu sudah di atas sepuluh tahun), demikian juga Ahok meminta warga Jakarta untuk memberinya waktu membangun trotoar Jakarta (kasih saya waktu). 

Analisis Bagian Kedua 

Kalau di bagian pertama, tema relasi Surabaya-Jakarta datang dari pertanyaan wartawan, di bagian kedua ide ini keluar dari jawaban Ahok sendiri ketika seorang wartawan perempuan bertanya tentang pembangunan trotoar di perkampungan. Jawaban Ahok, “Total yang mau kita beresin itu bisa 2700 Km. Dua kali Jakarta-Surabaya, Surabaya-Jakarta. Surabaya-Jakarta kan kira-kira 1300 kilometer kan kira-kira, itu begitu. Memang masalah trotoar kita. Kita beresin.” Bagian kedua ini saya beri judul: Trotoar Jakarta Panjang dan Bermasalah. Kota Surabaya disebut Ahok untuk memberi gambaran betapa panjangnya trotoar yang harus dibenahi.  Dari bagian kedua ke bagian ketiga, terentang waktu yang cukup panjang yang diisi oleh permasalahan lain menyangkut BPN dan aset-aset Pemprov Jakarta yang harus dilindungi. 

Analisis Bagian Ketiga 

Seperti halnya bagian pertama, bagian ketiga tema Surabaya-Jakarta muncul dari pertanyaan wartawan, “Lalu soal Risma semakin gencar nih Pak ke Jakarta…” Jawaban Ahok, “Kamu tanya sajalah, susah sih omongnya. Yang pasti, Jakarta membutuhkan banyak orang yang sudah terukur, teruji, supaya kalian gak membeli kucing dalam karung.” Lalu Ahok membayangkan debat ideal bagi para calon Gubernur Jakarta. Mengambil tema pertama, soal trotoar di Surabaya dan di Jakarta, Ahok berujar, “Ini Jakarta bagaimana, kok beda amat sama Surabaya. Surabaya trotoarnya sudah rapi kok Jakarta belum. Nah itu yang sehat.” 

Jadi, Bagaimana Maksudnya? 

Ahok menganggap perbandingan program daerah atau hasil program daerah sebagai debat yang sehat karena kemudian bisa membuka wawasan masyarakat akan permasalahan penataan kota, “Kita akan jelaskan kepada masyarakat, Surabaya itu cuma Jakarta Selatan. Ini (Jakarta) bukan cuma Jakarta Selatan.” Dengan demikian, masyarakat diundang untuk mengenal Kota Jakarta sebagai sebuah Daerah Khusus Ibu Kota. Memang Jakarta sebuah kota, seperti halnya Surabaya. Tapi, Jakarta itu kota yang khusus, yang tata kelola administrasinya berbeda dari Surabaya. Oleh karena itu, Ahok pun tidak bisa menyombongkan Jakarta Pusat yang megah sebagai cermin Jakarta, karena Jakarta Pusat tidak sama dengan Jakarta. Kemudian Ahok mengharapkan banyak kepala daerah datang ke Jakarta karena Ibu Kota memang membutuhkan penanganan yang khusus. Ahok pun menjelaskan apa yang sudah terjadi selama dia memerintah Jakarta, baik sebagai Wakil Gubernur maupun sebagai Gubernur: soal prioritas penataan sungai, soal e-budgeting dan kisruh dengan DPRD, soal pembelian tanah, soal permainan-permainan kotor dalam lelang, dan seterusnya. Program dan pelaksanaannya itulah yang akan dibeberkan Ahok dalam debat cagub nanti, “Tinggal kamu pilih yang mana.” Dengan demikian, masyarakat terbuka wawasannya tentang tugas seorang kepala daerah, soal tata kelola daerah, hingga dapat memilih pemimpin daerah yang benar. Bagian ketiga ini saya beri judul: Debat Program Calon Kepala Daerah sebagai pendidikan politik masyarakat.  

Ahok tidak menghindar kalau situasi Jakarta dibandingkan dengan situasi kota lain. Perkara trotoar di Surabaya diambil sebagai contoh karena sudah dibicarakan jadi lebih mudah dipahami oleh para wartawan. Contoh itu ditempatkan Ahok dalam sebuah debat ideal antara para calon pemimpin daerah, termasuk ucapan Ahok yang membuat senewen Bu Risma, “Surabaya itu cuma Jakarta Selatan.” Mungkin Bu Risma tidak akan semarah itu seandainya menempatkan ungkapan Ahok itu dalam struktur yang tepat. 

Sebelum mengatakan, “Surabaya itu cuma Jakarta Selatan,” Ahok mengungkapkan perdebatan program sebagai perdebatan yang sehat (Jakarta membutuhkan banyak orang yang sudah terukur… itu yang sehat). 

Lalu, Ahok memberi contoh debat yang sehat itu, yaitu soal trotoar Surabaya dan Jakarta hingga muncul perbandingan Surabaya dan Jakarta Selatan. 

Setelah itu, Ahok menutup kembali dengan pernyataan debat program itu debat sehat demi membuka wawasan masyarakat (Tinggal kamu pilih yang mana). Dengan demikian, pernyataan Ahok soal Surabaya dan Jakarta Selatan jauh dari pernyataan yang melecehkan. Struktur pernyataan Ahok memperlihatkan itu. Orang menyebut struktur demikian dengan istilah: sandwich, artinya sebuah pernyataan mendapat makna berkat dua pernyataan yang mengapitnya. Dua pernyataan yang mengapit “Surabaya itu Jakarta Selatan” adalah debat sehat para calon kepala daerah.  

Yang bisa dipetik dari kasus ini adalah pentingnya konteks bagi pemaknaan sebuah pernyataan. Bukan kata yang memberi makna sebuah pernyataan tetapi konteks pernyataan itu. Misalnya, istilah volume punya potensi makna beragam tergantung konteksnya. Kalau dikaitkan dengan konteks perbukuan, volume punya makna nomer atau edisi atau bagian dari kumpulan buku. Tetapi, kalau dikaitkan dengan ilmu fisika, volume memberi arti yang berbeda. 

Maka, kita sudahi kegaduhan ini. Bu Risma dan Ahok itu orang kepercayaan masyarakat. Mari kita bantu mereka berdua menjalankan kepercayaan dengan baik dan bukannya mendorong mereka untuk beradu emosi.  

Salam persatuan 

Ville de lumière, subuh, panca hari jelang Hari Suci Republik


Selengkapnya : http://m.kompasiana.com/triantoseverus/membedah-wawancara-ahok-tentang-trotoar-yang-berujung-kisruh_57ad230f8223bd0d0a247bef

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s